Pencabutan Insentif Mobil Listrik Perlu Kajian Matang di Tengah Gejolak Harga Minyak

Achmad Fauzi | Suara.com

Selasa, 30 Desember 2025 | 19:03 WIB
Pencabutan Insentif Mobil Listrik Perlu Kajian Matang di Tengah Gejolak Harga Minyak
ilustrasi mobil listrik
  • Wacana pencabutan insentif kendaraan listrik perlu dikaji akibat fluktuasi harga minyak dunia dan menghambat pasar nasional.
  • Pengamat Ibrahim Assuaibi menyatakan industri mobil listrik Indonesia masih tahap pertumbuhan memerlukan dukungan pemerintah.
  • Pencabutan insentif dini dapat meningkatkan harga mobil listrik, menurunkan minat masyarakat beralih dari BBM.

Suara.com - Wacana pencabutan insentif kendaraan listrik dinilai perlu dikaji secara matang, terutama di tengah dinamika geopolitik global yang kerap memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia.

Kebijakan tersebut dinilai berpotensi berdampak pada beban impor bahan bakar minyak (BBM) Indonesia, sekaligus menghambat pertumbuhan pasar kendaraan listrik nasional.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pasar mobil listrik di Indonesia hingga saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan.

Hal itu disampaikannya dalam sebuah diskusi yang disiarkan melalui kanal YouTube dan membahas arah kebijakan fiskal serta masa depan insentif kendaraan listrik.

Pemilik kendaraan melakukan pengisian daya kendaraan listrik di SKPLU, Jakarta, Senin (7/7/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Pemilik kendaraan melakukan pengisian daya kendaraan listrik di SKPLU, Jakarta, Senin (7/7/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Menurut Ibrahim, industri kendaraan listrik di Tanah Air belum sepenuhnya matang dan masih membutuhkan dukungan kebijakan dari pemerintah.

"Saya katakan bahwa ini masih masa pertumbuhan. Artinya apa? Masa pertumbuhan itu masih mereka itu memilah-milah mana yang pasar mana yang harus dioptimalkan, mobil merek apa, harganya berapa, ini yang harus bisa dilakukan oleh pengusaha-pengusaha mobil listrik," ujarnya seperti dikutip, Selasa (30/12/2025).

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan industri kendaraan berbahan bakar fosil yang telah lebih dulu mapan dan memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi tekanan ekonomi.

"Berbeda dengan mobil-mobil yang berbahan bakar fosil, seperti Toyota, Mitsubishi, dan lain-lain. Mereka selalu membuat satu strategi bagaimana dalam kondisi saat ini ekonomi tidak berimpek saja, membuat produk-produk mobil yang harganya relatif lebih murah dan terjangkau oleh masyarakat," imbuhnya.

Lebih lanjut, Ibrahim menilai pencabutan insentif kendaraan listrik dan penyamaan pajaknya dengan kendaraan berbahan bakar minyak berpotensi menurunkan minat masyarakat untuk beralih ke mobil listrik.

"Karena pada saat insentif, subsidi insentif itu dihilangkan, kemudian pajak mobil listrik sama dengan pajak mobil fossil berbahan bakar fosil, kemungkinan besar harganya akan lebih mahal, sehingga akan ditinggalkan," ucapnya.

Ia mengingatkan bahwa ketidakpastian geopolitik global kerap berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah. Dalam situasi tersebut, kebijakan yang justru mendorong peningkatan konsumsi BBM impor dinilai perlu dipertimbangkan secara cermat.

"Semoga wacana ini tidak jadi karena saat ini perkembangan Indonesia masih belum stabil, sehingga masih butuh insentif dari pemerintah. Tujuannya adalah agar masyarakat itu beralih dari membentuk bahan bakar fossil berubah menjadi bahan listrik," katanya.

Menurut Ibrahim, pola adopsi kendaraan listrik di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa insentif masih menjadi faktor pendorong utama sebelum kendaraan listrik benar-benar dipilih karena kebutuhan.

"Baru setelah itu berkebutuhan. Jadi pertama insentif dulu, kedua adalah kebutuhan," bebernya.

Ia juga menilai, pengguna kendaraan listrik di Indonesia masih terbatas pada kelompok tertentu. Jika insentif dihentikan terlalu dini, ada potensi masyarakat kembali memilih kendaraan berbahan bakar minyak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Insentif Kendaraan Listrik Dihentikan, Untung atau Buntung?

Insentif Kendaraan Listrik Dihentikan, Untung atau Buntung?

Bisnis | Senin, 29 Desember 2025 | 13:46 WIB

Purbaya Bicara Nasib Insentif Mobil Listrik Tahun Depan, Akui Penjualan Menurun di 2025

Purbaya Bicara Nasib Insentif Mobil Listrik Tahun Depan, Akui Penjualan Menurun di 2025

Bisnis | Jum'at, 26 Desember 2025 | 18:38 WIB

Tren Mudik Hijau Melesat: Pengguna Mobil Listrik Naik Dua Kali Lipat, PLN Siagakan 4.516 SPKLU

Tren Mudik Hijau Melesat: Pengguna Mobil Listrik Naik Dua Kali Lipat, PLN Siagakan 4.516 SPKLU

Bisnis | Rabu, 24 Desember 2025 | 18:33 WIB

Terkini

Harga Naik Tidak Wajar, BEI Gembok Satu Emiten Asal Surabaya

Harga Naik Tidak Wajar, BEI Gembok Satu Emiten Asal Surabaya

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 08:14 WIB

Harga Emas Antam, Galeri 24 dan UBS Hari Ini Naik! Update Segera di Pegadaian

Harga Emas Antam, Galeri 24 dan UBS Hari Ini Naik! Update Segera di Pegadaian

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 08:11 WIB

Pefindo Catatkan Rating AAA Untuk Stabilitas Finansial Peruri

Pefindo Catatkan Rating AAA Untuk Stabilitas Finansial Peruri

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 07:57 WIB

Perbandingan Harga BBM Indonesia dengan Negara Lain di Asia Tenggara

Perbandingan Harga BBM Indonesia dengan Negara Lain di Asia Tenggara

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 07:54 WIB

AS Mau Keluar dari Iran, Wall Street Langsung Meroket

AS Mau Keluar dari Iran, Wall Street Langsung Meroket

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 07:52 WIB

Tak Hanya Kejar Cuan, Emiten TAPG Kerek Kualitas Hidup Masyarakat Sekitar Operasional

Tak Hanya Kejar Cuan, Emiten TAPG Kerek Kualitas Hidup Masyarakat Sekitar Operasional

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 07:39 WIB

BEI Resmi Ubah Aturan Free Float, Emiten Wajib Tingkatkan Porsi Saham Publik Bertahap

BEI Resmi Ubah Aturan Free Float, Emiten Wajib Tingkatkan Porsi Saham Publik Bertahap

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 07:34 WIB

AS Mau Angkat Kaki dari Iran, Harga Minyak Dunia Meluncur 2,5%

AS Mau Angkat Kaki dari Iran, Harga Minyak Dunia Meluncur 2,5%

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 07:32 WIB

Mendagri Tito Minta Pemda Efisiensi Anggaran Daerah, Wajib Lapor Tiap 2 Bulan

Mendagri Tito Minta Pemda Efisiensi Anggaran Daerah, Wajib Lapor Tiap 2 Bulan

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 07:30 WIB

Wajib ke Kantor! Ini Daftar Jabatan dan Unit ASN Daerah yang Tidak Boleh WFH

Wajib ke Kantor! Ini Daftar Jabatan dan Unit ASN Daerah yang Tidak Boleh WFH

Bisnis | Rabu, 01 April 2026 | 07:00 WIB