- Harga minyak Brent dan WTI naik tipis pada 2 Januari 2026 setelah penurunan signifikan sepanjang tahun 2025.
- Investor menantikan pertemuan OPEC+ pada 4 Januari, diperkirakan mempertahankan kebijakan pasokan tanpa penambahan kuota produksi.
- Risiko geopolitik baru, termasuk sanksi AS terhadap Venezuela dan konflik Rusia-Ukraina, mendukung kenaikan harga minyak.
Suara.com - Harga minyak dunia tercatat naik tipis pada perdagangan perdana, Jumat 2 Januari 2026, setelah mencatatkan penurunan tahunan terbesar sejak 2020.
Investor saat ini tengah menimbang munculnya risiko geopolitik baru, di tengah ekspektasi bahwa OPEC akan mempertahankan kebijakan pasokan mereka dalam pertemuan pekan ini.
Mengutip dari Investing.com, pada ada pukul 21:13 ET (02:13 GMT), harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret naik 0,2 persen menjadi 60,97 dolar AS per barel.
Begitu juga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,2 persen menjadi 57,55 dolar AS per barel.
Kedua harga itu mengalami penurunan hampir 20 persen pada 2025 karena kekhawatiran yang terus-menerus tentang kelebihan pasokan global dan pertumbuhan permintaan yang tidak merata.
Perhatian pasar saat ini tertuju pada pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung pada 4 Januari mendatang.

Kelompok negara produsen minyak tersebut diperkirakan akan tetap pada keputusannya untuk tidak menambah kuota produksi.
Langkah ini menyusul kesepakatan akhir tahun lalu, OPEC memutuskan untuk menunda rencana peningkatan pasokan pada awal 2026 guna menstabilkan harga yang sempat anjlok tajam.
Mengingat kondisi pasar yang saat ini dinilai sudah memiliki pasokan melimpah, pasar memperkirakan OPEC akan menegaskan kembali komitmen tersebut dan menghindari penambahan volume minyak.
Baca Juga: Pencabutan Insentif Mobil Listrik Perlu Kajian Matang di Tengah Gejolak Harga Minyak
Perkembangan geopolitik memberikan dukungan terhadap harga. Presiden AS Donald Trump dilaporkan meningkatkan kampanyenya melawan ekspor minyak Venezuela dengan memberlakukan sanksi baru terhadap perusahaan-perusahaan yang berbasis di Hong Kong dan China daratan.
Kebijakan tegas tersebut menarget korporasi serta armada kapal yang dituduh memfasilitasi Venezuela dalam menghindari sanksi internasional.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya gangguan pada arus pengiriman minyak mentah dari Venezuela.
Di samping itu, memasuki awal tahun 2026, konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memanas dengan laporan serangan dari kedua belah pihak yang menargetkan pelabuhan di Laut Hitam serta infrastruktur pendukungnya.
Anjloknya harga minyak pada tahun lalu utamanya disebabkan oleh fenomena kelebihan pasokan global.
Hal ini terjadi karena OPEC mulai meningkatkan kembali produksinya, sementara produsen di luar kelompok tersebut tetap mempertahankan volume keluaran yang tinggi.