- Saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mencapai Auto Reject Atas pada 5 Januari 2026, didorong aksi korporasi.
- Harga teoritis saham INET pasca-rights issue ditetapkan Bursa Efek Indonesia menjadi Rp472 per lembar saham.
- Dana rights issue akan digunakan memperkuat infrastruktur FTTH Wi-Fi 7 di Bali dan Lombok serta melunasi jaringan kabel bawah laut.
Suara.com - Saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mencatatkan performa luar biasa dengan menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) pada perdagangan Senin (5/1/2026).
Pergerakan masif ini terjadi seiring dengan pengumuman krusial terkait aksi korporasi perusahaan yang telah dinanti-nantikan oleh para pelaku pasar.
Pada penutupan sesi I IHSG, harga saham INET melesat tajam sebesar 25% menuju level Rp590 per lembar.
Volume perdagangan terpantau sangat likuid dengan perpindahan tangan sebanyak 706,87 juta saham, yang mencatatkan nilai transaksi fantastis mencapai Rp388,45 miliar.
Dengan kenaikan ini, kapitalisasi pasar emiten penyedia layanan internet ini kini berdiri kokoh di angka Rp5,65 triliun.
Rights Issue dan Penetapan Harga Teoritis
Lonjakan harga ini dipicu oleh rilis resmi mengenai harga teoritis saham INET pasca periode cum date hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).
Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham INET pada penutupan perdagangan 2 Januari 2026 berada di level Rp770.
Dengan mengacu pada rasio HMETD yang telah ditetapkan, otoritas bursa menetapkan harga teoritis yang menjadi acuan baru bagi investor.
Baca Juga: IHSG Resistance Menuju 8.820, Target Diprediksi Naik Ditopang Aksi Beli Asing
Bursa Efek Indonesia dalam keterbukaan informasinya menyebutkan:
“Harga teoretis saham INET yang dicantumkan di JATS untuk Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi pada 5 Januari 2026 disesuaikan dengan fraksi harga menjadi Rp 472.”
Dalam aksi rights issue kali ini, INET menggunakan rasio 3:4. Hal ini berarti setiap pemilik tiga lembar saham lama memiliki hak untuk menebus empat lembar saham baru pada harga pelaksanaan Rp250 per saham.
Bagi para pemegang saham ritel, penting untuk dicatat bahwa terdapat potensi dilusi kepemilikan hingga 57% jika hak memesan efek ini tidak dieksekusi selama periode pelaksanaan berlangsung.
INET tidak hanya sekadar menghimpun dana, namun telah memetakan rencana penggunaan dana segar tersebut secara agresif. Fokus utama perusahaan adalah memperkuat infrastruktur konektivitas di wilayah pariwisata strategis Indonesia.
Sekitar Rp2,8 triliun dari dana hasil rights issue akan disalurkan kepada anak usahanya, PT Garuda Prima Internetindo (GPI). Dana jumbo ini dialokasikan khusus untuk membangun jaringan Fiber To The Home (FTTH) yang mengadopsi teknologi terbaru, yaitu Wi-Fi 7.