Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.760.000
Beli Rp2.630.000
IHSG 6.318,500
LQ45 630,677
Srikehati 317,136
JII 401,976
USD/IDR 17.600

Site Bitcoin Lama Bernilai Ratusan Triliun Rupiah Bisa Dipecahkan AI dalam Waktu Dekat

M Nurhadi | Suara.com

Minggu, 18 Januari 2026 | 09:47 WIB
Site Bitcoin Lama Bernilai Ratusan Triliun Rupiah Bisa Dipecahkan AI dalam Waktu Dekat
Ilustrasi Bitcoin [Unsplash/Bastian Riccardi]
  • Jefferies, melalui Christopher Wood, menghapus Bitcoin dari portofolio model karena ancaman teknologi komputer kuantum terhadap keamanan blockchain.
  • Komputer kuantum diperkirakan dapat memecahkan kriptografi Bitcoin dalam 10-15 tahun menggunakan Algoritma Shor untuk mengakses kunci privat.
  • Komunitas pengembang kini mengembangkan Kriptografi Pasca-Kuantum sebagai upaya mitigasi ancaman serangan komputer kuantum di masa depan.

Suara.com - Setelah sempat menjadi primadona di kalangan institusi keuangan sepanjang tahun lalu, ketangguhan sistem keamanan Bitcoin kini kembali memicu perdebatan sengit.

Kekhawatiran mendalam terhadap ancaman jangka panjang dari perkembangan teknologi komputer kuantum telah memaksa salah satu pakar strategi pasar global untuk mengambil langkah drastis dengan menarik diri dari aset kripto terbesar di dunia tersebut.

Keputusan mengejutkan ini datang dari Jefferies, perbankan investasi global yang memiliki sejarah panjang selama 63 tahun.

Christopher Wood, Kepala Strategi Ekuitas Global di Jefferies, secara resmi menghapus Bitcoin dari portofolio modelnya.

Wood beralasan bahwa lompatan teknologi kuantum berpotensi merusak nilai fundamental yang selama ini dijunjung oleh ekosistem Bitcoin di masa depan.

Titik lemah yang menjadi pusat kekhawatiran adalah sistem keamanan blockchain itu sendiri.

Berdasarkan analisis dari perusahaan Chainalysis, diprediksi dalam kurun waktu 10 hingga 15 tahun mendatang, komputer kuantum dengan daya komputasi yang sangat kuat akan mampu memecahkan kriptografi kurva elips yang menjadi perisai jaringan Bitcoin.

Meskipun saat ini infrastruktur komputer kuantum belum sanggup membobol blockchain, perkembangan riset yang dilakukan oleh perusahaan raksasa seperti Google menunjukkan hasil yang mengkhawatirkan.

Prosesor kuantum masa depan diproyeksikan mampu melakukan komputasi ribuan kali lebih cepat dibandingkan superkomputer klasik yang ada saat ini.

Secara teoretis, risiko terbesar datang dari "Algoritma Shor". Perangkat ini memungkinkan komputer kuantum tingkat lanjut untuk melacak dan menemukan kunci privat (private key) hanya bermodalkan kunci publik (public key) yang terekspos di jaringan.

Ancaman ini terutama menyasar alamat-alamat Bitcoin lama yang tidak aktif namun menyimpan aset dengan nilai kumulatif mencapai ratusan miliar dolar AS.

Selain itu, para pakar keamanan siber kini mewaspadai taktik "Panen Sekarang, Dekripsi Nanti" (Harvest Now, Decrypt Later).

Dalam skema ini, peretas dapat mencuri dan menyimpan data terenkripsi hari ini, kemudian baru membukanya beberapa tahun lagi saat teknologi perangkat keras kuantum sudah mencapai tahap matang.

Dalam laporan terbarunya yang bertajuk Greed & Fear, Christopher Wood menekankan bahwa kemajuan ini melemahkan klaim Bitcoin sebagai aset penyimpan nilai (store of value) yang aman bagi investor jangka panjang, termasuk bagi pengelola dana pensiun.

"Muncul kecemasan yang kian nyata di komunitas Bitcoin bahwa realitas teknologi kuantum mungkin hanya tinggal beberapa tahun lagi, bukan lagi satu dekade atau lebih," jelas Wood.

Ironisnya, Wood sebelumnya dikenal sebagai pendukung awal Bitcoin di level institusi yang telah mengalokasikan 10% portofolionya ke aset digital sejak tahun 2020.

Upaya Kriptografi Pasca-Kuantum

Menanggapi ancaman ini, komunitas pengembang global kini tengah berpacu dengan waktu untuk merancang standar baru yang disebut Kriptografi Pasca-Kuantum (Post-Quantum Cryptography).

Inisiatif ini bertujuan memperbarui protokol jaringan agar memiliki ketahanan terhadap serangan komputer masa depan yang memanfaatkan prinsip mekanika kuantum.

Namun, tantangan teknis yang sangat berat menanti, terutama dalam melakukan pembaruan massal pada jutaan dompet (wallet) lama yang sudah lama tidak aktif.

Alamat-alamat statis ini dianggap sebagai titik terlemah yang paling rentan terhadap serangan masif di masa depan, yang berpotensi meruntuhkan standar keamanan perbankan digital hingga transaksi kripto dalam hitungan menit.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bitcoin Menguat ke USD97.000, Data Inflasi AS Redam Kekhawatiran Pasar Kripto

Bitcoin Menguat ke USD97.000, Data Inflasi AS Redam Kekhawatiran Pasar Kripto

Bisnis | Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:55 WIB

BTC Bidik Ambang USD100.000, ETH dan XRP Kompak di Zona Hijau, Sinyal Bullish?

BTC Bidik Ambang USD100.000, ETH dan XRP Kompak di Zona Hijau, Sinyal Bullish?

Bisnis | Rabu, 14 Januari 2026 | 15:10 WIB

Saldo GoPay yang Hilang Ternyata Bisa Balik Lagi, Begini Caranya

Saldo GoPay yang Hilang Ternyata Bisa Balik Lagi, Begini Caranya

Bisnis | Rabu, 07 Januari 2026 | 08:00 WIB

Terkini

Hormati Kontrak, Pemerintah Pastikan Tidak Ada Pemotongan Kuota Ekspor Gas pada 2026

Hormati Kontrak, Pemerintah Pastikan Tidak Ada Pemotongan Kuota Ekspor Gas pada 2026

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 16:15 WIB

Rupiah Rp17.674 per Dolar, Pasien di Desa Hingga Penderita Kanker Ikut Terancam

Rupiah Rp17.674 per Dolar, Pasien di Desa Hingga Penderita Kanker Ikut Terancam

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 16:01 WIB

Rupiah Anjlok Lagi, Danantara Sumberdaya Indonesia Jadi Biang Kerok

Rupiah Anjlok Lagi, Danantara Sumberdaya Indonesia Jadi Biang Kerok

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 15:57 WIB

Rosan Akui Kontrak Eksportir Bisa Dievaluasi lewat BUMN Ekspor Baru PT DSI

Rosan Akui Kontrak Eksportir Bisa Dievaluasi lewat BUMN Ekspor Baru PT DSI

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 15:44 WIB

Saham TPIA Terjun ke Level Terendah Hingga Isu Margin Call, Manajemen Buka Suara

Saham TPIA Terjun ke Level Terendah Hingga Isu Margin Call, Manajemen Buka Suara

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 15:36 WIB

ESDM Siapkan Gas CNG 3 Kg Pengganti LPG, Begini Skemanya

ESDM Siapkan Gas CNG 3 Kg Pengganti LPG, Begini Skemanya

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 15:14 WIB

Mendag Siapkan Aturan Baru usai BUMN Ekspor PT DSI Dibentuk Danantara

Mendag Siapkan Aturan Baru usai BUMN Ekspor PT DSI Dibentuk Danantara

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 15:06 WIB

Promo JSM Superindo Terbaru Minggu Ini 22-24 Mei 21026, Daging Ayam Diskon 40 Persen!

Promo JSM Superindo Terbaru Minggu Ini 22-24 Mei 21026, Daging Ayam Diskon 40 Persen!

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 14:58 WIB

Dari Rp34 Miliar Tinggal Rp15,3 Miliar, Trader Ini Jadi Korban Jumat Berdarah Kripto

Dari Rp34 Miliar Tinggal Rp15,3 Miliar, Trader Ini Jadi Korban Jumat Berdarah Kripto

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 14:24 WIB

Lalamove Masuk Jerman, Bidik 3,4 Juta UKM dengan Logistik On-Demand

Lalamove Masuk Jerman, Bidik 3,4 Juta UKM dengan Logistik On-Demand

Bisnis | Kamis, 21 Mei 2026 | 14:08 WIB