Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.825.000
Beli Rp2.700.000
IHSG 6.858,899
LQ45 669,842
Srikehati 328,644
JII 449,514
USD/IDR 17.509

Keponakan Prabowo Jadi Deputi BI, INDEF: Pasar Keuangan Pasang Mode Waspada Tinggi

Mohammad Fadil Djailani | Rina Anggraeni | Suara.com

Selasa, 27 Januari 2026 | 17:31 WIB
Keponakan Prabowo Jadi Deputi BI, INDEF: Pasar Keuangan Pasang Mode Waspada Tinggi
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih Thomas Djiwandono memberi salam saat mengikuti Rapat Paripurna DPR ke-12 Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj]
  • Ketidakpastian kepemimpinan moneter memicu pelemahan nilai tukar di pasar keuangan.
  • Prioritas pertumbuhan dibanding stabilitas berisiko memicu arus modal keluar.
  • Keselarasan BI dengan kebijakan fiskal pemerintah menantang kredibilitas moneter.

Suara.com - Stabilitas ekonomi Indonesia tengah berada dalam sorotan tajam seiring munculnya kekhawatiran atas meningkatnya tekanan domestik dan volatilitas global.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memberikan peringatan keras bahwa mata uang Garuda saat ini tidak hanya bertarung melawan sentimen pasar global, tetapi juga menghadapi "badai ekspektasi" terkait arah kepemimpinan otoritas moneter di masa depan.

Dalam diskusi publik bertajuk “Depresiasi Rupiah: Dilema Independensi” yang digelar secara virtual pada Selasa (27/1/2026), peneliti INDEF, Deniey Adi Purwanto, membedah kerentanan posisi rupiah.

Menurutnya, pasar keuangan saat ini tengah dalam mode waspada tinggi (high alert) menanti sinyal-sinyal kebijakan dari para pengambil keputusan di Bank Indonesia (BI).

Salah satu poin krusial yang menjadi perhatian investor adalah transisi kepemimpinan di tubuh Bank Sentral. Deniey menyoroti bahwa penunjukan figur baru, termasuk munculnya nama Thomas dalam bursa kebijakan, memicu spekulasi mengenai pergeseran paradigma dari pro-stabilitas menuju pro-pertumbuhan.

"Pasar biasanya merespons ketidakpastian tentang kebijakan di masa depan dengan sangat cepat," ujar Deniey. Ia menambahkan bahwa rencana pelonggaran suku bunga yang terlalu dini atau sikap yang terlalu akomodatif di tengah ketidakpastian global justru dapat menjadi bumerang yang melemahkan nilai tukar.

Kekhawatiran utama para pelaku pasar adalah jika kepemimpinan baru dianggap lebih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi jangka pendek di atas stabilitas moneter. "Kepemimpinan yang secara implisit dianggap memprioritaskan pertumbuhan dapat melemahkan rupiah karena pasar mengantisipasi penurunan suku bunga atau pelonggaran pertahanan nilai tukar," jelasnya.

Menganalisis lebih jauh, Deniey mengingatkan otoritas moneter akan tantangan klasik dalam ekonomi internasional, yakni Trilemma Moneter. Pilihan untuk menjadi lebih fleksibel dalam mendukung kebijakan pembiayaan pemerintah membawa risiko besar pada inflasi dan stabilitas nilai tukar.

Jika Bank Indonesia terlihat "terlalu selaras" dengan agenda fiskal pemerintah tanpa menjaga jarak independensi yang cukup, investor dikhawatirkan akan menarik modalnya keluar (capital outflow). Fenomena ini, jika terjadi secara masif, akan memberikan tekanan yang jauh lebih berat bagi rupiah untuk kembali ke level fundamentalnya.

"Trade-off dari kebijakan yang lebih fleksibel adalah inflasi dan ketidakstabilan. Ancaman arus keluar modal akan membuat beban rupiah semakin berat di tengah kondisi global yang belum mereda," tegas Deniey.

Selama ini, Bank Indonesia dikenal sangat aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing maupun pasar surat utang (DNDF) untuk meredam volatilitas. Namun, langkah ini bukan tanpa biaya. Cadangan devisa menjadi taruhannya.

Deniey menekankan bahwa Dewan Gubernur BI yang baru nantinya harus memiliki kapasitas mumpuni dalam mengelola cadangan devisa dan menentukan prioritas intervensi. Muncul wacana mengenai "efisiensi" atau realokasi anggaran intervensi yang mirip dengan pola kebijakan di Kementerian Keuangan.

"Tentu intervensi ini butuh biaya besar. Pertanyaannya, apakah pola ini akan dipertahankan atau ada realokasi untuk kebijakan lain? Jika efisiensi dilakukan pada sektor pertahanan nilai tukar di saat yang salah, stabilitas ekonomi kita dipertaruhkan," pungkasnya.

Kini, bola panas berada di tangan para pengambil kebijakan. Apakah mereka akan tetap teguh pada mandat stabilitas, ataukah arus politik ekonomi akan membawa nakhoda moneter ke arah yang lebih berisiko bagi nilai tukar? Pasar masih menunggu jawabannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Purbaya Akui Juda Agung Calon Kuat Wamenkeu Pengganti Keponakan Prabowo, Dilantik Minggu Depan

Purbaya Akui Juda Agung Calon Kuat Wamenkeu Pengganti Keponakan Prabowo, Dilantik Minggu Depan

Bisnis | Selasa, 27 Januari 2026 | 17:15 WIB

Purbaya Ungkap Alasan Rupiah Menguat: Bukan Karena Thomas Djiwandono

Purbaya Ungkap Alasan Rupiah Menguat: Bukan Karena Thomas Djiwandono

Bisnis | Selasa, 27 Januari 2026 | 17:01 WIB

Lewat Paripurna DPR, Thomas Djiwandono Resmi Jadi Deputi Gubernur BI

Lewat Paripurna DPR, Thomas Djiwandono Resmi Jadi Deputi Gubernur BI

Foto | Selasa, 27 Januari 2026 | 16:33 WIB

Terkini

Harga Minyak Kembali Turun, Diprediksi Bertahan di Atas 80 Dolar AS hingga Akhir Tahun

Harga Minyak Kembali Turun, Diprediksi Bertahan di Atas 80 Dolar AS hingga Akhir Tahun

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 10:15 WIB

Pegadaian Gelar Operasi Katarak Gratis, 300 Peserta Ikuti Screening dan 125 Orang Jalani Operasi

Pegadaian Gelar Operasi Katarak Gratis, 300 Peserta Ikuti Screening dan 125 Orang Jalani Operasi

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05 WIB

Harga Emas Antam Berbalik Anjlok, Hari Ini Dipatok Rp 2.839.000/Gram

Harga Emas Antam Berbalik Anjlok, Hari Ini Dipatok Rp 2.839.000/Gram

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43 WIB

Pasar Kripto Ambyar! Inflasi Meledak, Bitcoin dan Altcoin Kompak Terkapar

Pasar Kripto Ambyar! Inflasi Meledak, Bitcoin dan Altcoin Kompak Terkapar

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:40 WIB

Pengangguran Masih 7,24 Juta Orang, Masalahnya Bukan Sekadar Minim Lowongan

Pengangguran Masih 7,24 Juta Orang, Masalahnya Bukan Sekadar Minim Lowongan

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:37 WIB

Emiten MDLA Bagikan Dividen Tunai Rp 176,56 Miliar

Emiten MDLA Bagikan Dividen Tunai Rp 176,56 Miliar

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32 WIB

Di Depan Investor Global, Purbaya Pamer Tuntaskan 45 Masalah Hambatan Investasi RI

Di Depan Investor Global, Purbaya Pamer Tuntaskan 45 Masalah Hambatan Investasi RI

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:27 WIB

IHSG Dibuka Langsung Anjlok ke Level 6.700 Setelah Rebalancing MSCI

IHSG Dibuka Langsung Anjlok ke Level 6.700 Setelah Rebalancing MSCI

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:15 WIB

Genjot Pendapatan, Emiten CASH Siap Hadapi Tantangan Industri Pembayaran Digital

Genjot Pendapatan, Emiten CASH Siap Hadapi Tantangan Industri Pembayaran Digital

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:14 WIB

7 Fakta Stock Split RAJA, Pemegang Saham Bocorkan Perkiraan Jadwalnya

7 Fakta Stock Split RAJA, Pemegang Saham Bocorkan Perkiraan Jadwalnya

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 08:56 WIB