Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Mendagri Wanti-wanti Tingkat Inflasi, Harga yang Diatur Pemerintah Dilarang Naik

Achmad Fauzi, Fakhri Fuadi Muflih

Selasa, 27 Januari 2026 | 19:54 WIB
Mendagri Wanti-wanti Tingkat Inflasi, Harga yang Diatur Pemerintah Dilarang Naik
Seorang pembeli tengah mengulurkan sejumlah uang atas pembelian sejumlah komoditas pokok yang diinginkan di Pasar Bitingan Kudus, Jawa Tengah. [ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif]
baca 10 detik
  • Mendagri Tito Karnavian mengingatkan semua lembaga waspada terhadap inflasi Desember 2025 mencapai 2,92 persen, mendekati batas psikologis 3 persen.
  • Kenaikan inflasi ini berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat kelompok berpenghasilan rendah; tren kenaikan harus diwaspadai.
  • Tito meminta pemerintah pusat dan daerah menahan kenaikan harga komoditas yang mereka atur agar inflasi terkendali.

Suara.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, mengingatkan seluruh kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk mewaspadai tren inflasi nasional yang kian mendekati level psikologis 3 persen. Pasalnya, inflasi per Desember 2025 tercatat sudah berada di angka 2,92 persen.

Tito menilai angka tersebut memang masih berada di bawah ambang batas 3,5 persen yang ditetapkan pemerintah. Namun demikian, tren kenaikan inflasi dinilai sudah masuk kategori peringatan dini dan tidak boleh dianggap remeh.

Peringatan tersebut disampaikan Tito saat memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dirangkaikan dengan Evaluasi Dukungan Pemerintah Daerah dalam Program 3 Juta Rumah di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian menilai aktivitas pasar di berbagai daerah terdampak bencana (Dok: Kemendagri)
Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian menilai aktivitas pasar di berbagai daerah terdampak bencana (Dok: Kemendagri)

"Inflasi Desember yang diekspos oleh Badan Pusat Statistik itu sudah naik di angka 2,92 persen. Mendekati 3, meskipun angka yang menjadi threshold kita itu adalah maksimal 3,5 persen," ujar Tito.

Ia menjelaskan, inflasi memiliki dampak langsung terhadap biaya hidup masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, daging, hingga ikan akan sangat dirasakan oleh kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

"Kalau kelas yang menengah ke atas mungkin belum terasa 3 sampai 5 persen. Tapi kelas bawah terasa. Harga beras naik misalnya, harga minyak naik, harga telur naik, daging naik, ikan naik, itu di kelas yang setiap harinya mendapatkan penghasilan harian, mereka akan sangat terasa sekali," kata Tito.

Oleh karena itu, meski inflasi belum menembus 3 persen, Tito menegaskan pemerintah harus bersikap waspada. Ia menyebut angka 3 persen sudah menjadi sinyal bahaya yang harus segera direspons dengan kebijakan pengendalian.

"Bagi kita yang mengendalikan, 3 itu sudah warning. Ini 2,92," jelas Tito.

Ia menekankan, dalam mengendalikan inflasi, pemerintah tidak cukup hanya melihat angka semata, melainkan harus mencermati tren pergerakan inflasi dari waktu ke waktu. Tren yang terus meningkat dinilai lebih berbahaya dibandingkan fluktuasi naik-turun.

baca juga

"Kalau trennya naik, meskipun belum sampai ke angka puncak, threshold, tapi naik, naik, naik, kita harus hati-hati," tegas Tito.

Dalam kondisi tren inflasi yang menanjak, Tito meminta pemerintah pusat dan daerah untuk berada pada posisi menahan diri. Ia secara tegas mengingatkan agar harga-harga yang berada di bawah kewenangan pemerintah tidak dinaikkan.

"Kalau seandainya tren naik seperti ini, maka pusat enggak boleh menaikkan komoditasnya. Baik listrik, gas, BBM, angkutan udara, semua yang diatur dengan harga pemerintah, jangan naik," kata Tito.

Tak hanya di tingkat pusat, Tito juga mengingatkan pemerintah daerah agar tidak menaikkan harga komoditas yang diatur daerah, seperti tarif air minum PDAM dan angkutan lokal. Kenaikan harga tersebut dinilai berpotensi memicu inflasi lanjutan.

"Kalau itu dinaikkan juga, pasti akan memicu kenaikan inflasi," bebernya.

Di tengah tren inflasi yang mendekati 3 persen, Tito menegaskan posisi pemerintah harus jelas, yakni melakukan pengereman agar tekanan harga tidak semakin meluas.

"Kita harus pada posisi modenya, modenya break, ngerem. Ngerem jangan sampai komoditas yang diatur pemerintah itu dinaikkan," pungkas Tito.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Harga Emas Hampir Rp3 Juta/Gram, Mendagri: Jadi Biang Kerok Inflasi Nasional

Harga Emas Hampir Rp3 Juta/Gram, Mendagri: Jadi Biang Kerok Inflasi Nasional

Bisnis | Selasa, 27 Januari 2026 | 13:52 WIB

Distribusi Pulih, Harga Pangan di Wilayah Bencana Aceh-Sumut-Sumbar Mulai Melandai

Distribusi Pulih, Harga Pangan di Wilayah Bencana Aceh-Sumut-Sumbar Mulai Melandai

Bisnis | Selasa, 27 Januari 2026 | 12:48 WIB

Kenaikan Harga Emas yang Bikin Cemas

Kenaikan Harga Emas yang Bikin Cemas

Bisnis | Selasa, 27 Januari 2026 | 10:54 WIB

Terkini

Direktur Utama RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Bantah Ada Penyimpangan Anggaran

Direktur Utama RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Bantah Ada Penyimpangan Anggaran

Sulsel | Rabu, 29 Juli 2026 | 05:37 WIB

Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali

Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali

Sumsel | Selasa, 28 Juli 2026 | 23:49 WIB

Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel

Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel

Sumsel | Selasa, 28 Juli 2026 | 23:39 WIB

Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu

Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu

Sumsel | Selasa, 28 Juli 2026 | 23:22 WIB

5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu

5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu

Sumsel | Selasa, 28 Juli 2026 | 23:11 WIB

Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung

Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung

Jabar | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:50 WIB

Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua

Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua

Health | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:40 WIB

Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen

Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen

Lifestyle | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:12 WIB

Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA

Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 22:06 WIB

Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup

Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup

Bogor | Selasa, 28 Juli 2026 | 21:59 WIB

×