Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.555.000
Beli Rp2.430.000
IHSG 6.175,535
LQ45 621,910
Srikehati 307,227
JII 366,948
USD/IDR 17.939

Kenaikan Harga Emas yang Bikin Cemas

Mohammad Fadil Djailani

Selasa, 27 Januari 2026 | 10:54 WIB
Kenaikan Harga Emas yang Bikin Cemas
Harga emas global menembus level psikologis baru, $5.000 per troy ounce pada Senin (26/1/2026) untuk pertama kalinya. Bagi para spekulan, ini adalah pesta pora. Namun, masyarakat kecil angka ini adalah alarm bahaya yang menyengat. Desain-Aldi-Suara.com
baca 10 detik
  • Harga emas USD5.000 pertanda nilai uang merosot dan harga kebutuhan pokok berpotensi naik.
  • Lonjakan emas memicu kenaikan suku bunga.
  • Harga emas yang ekstrem mencerminkan ketidakpastian ekonomi.

Suara.com - Harga emas global menembus level psikologis baru, USD5.000 per troy ounce pada Senin (26/1/2026) untuk pertama kalinya. Bagi para spekulan, ini adalah pesta pora. Namun, masyarakat kecil angka ini adalah alarm bahaya yang menyengat.

Kita perlu jujur emas tidak akan pernah semahal ini jika dunia sedang baik-baik saja. Rekor USD5.000 adalah manifestasi dari ketakutan kolektif. Di balik kilaunya, ada cerita tentang daya beli yang tergerus, modal yang "bersembunyi", dan pergeseran tektonik peta kekuatan ekonomi dunia yang mengancam isi dompet masyarakat kecil.

Harga Emas yang Bikin Cemas

Emas adalah aset safe haven. Artinya, orang membelinya saat mereka takut. Masalahnya, ketika harga emas melonjak, itu menandakan modal global sedang melakukan mogok kerja.

Alih-alih mengalir ke sektor produktif seperti pembangunan pabrik, penguatan UMKM, atau inovasi teknologi yang menciptakan lapangan kerja, uang justru mandek di brankas dalam bentuk batangan karena investor terus memburu aset safe haven di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.

"Kenaikan harga emas ini karena inflasi, masalah perang dagang, masalah perpolitikan Amerika, masalah kebijakan bank sentral, supply and demand. Nah ini yang mempengaruhi harga emas naik," kata Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi saat dihubungi Suara.com, Senin (26/1/2026).

Ibarhim menangkap fenomena ini dengan jeli. Ia mencatat perubahan perilaku masyarakat yang kini lebih memilih menginvestasikannnya di emas digital meski hanya dengan uang ratusan ribu, ketimbang membelanjakannya di restoran atau kafe.

"Peredaran uang berkurang, daya beli masyarakat berkurang," ujarnya.

Jika modal berhenti berputar di sektor riil, pertumbuhan ekonomi akan melambat, dan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi nyata. Tengok saja saat ini fokus utama para pelaku pasar tertuju pada konsistensi pertumbuhan nilai emas yang luar biasa dalam dua tahun terakhir. Sepanjang tahun 2025, harga emas dunia tercatat melonjak hingga 64%.

baca juga

Kenaikan fantastis ini didorong oleh kebijakan pelonggaran moneter Amerika Serikat, derasnya arus masuk ke dana kelolaan ETF, serta aksi borong bank sentral global terutama China yang melakukan pembelian selama 14 bulan berturut-turut.

Memasuki tahun 2026, momentum tersebut ternyata tidak meredup. Hanya dalam kurun waktu satu bulan, harga emas sudah terkerek naik lebih dari 16%.

Emas Sebagai Lindung Nilai

Banyak yang bersorak saat melihat harga emas naik. Namun, ini adalah keberuntungan semu. Emas adalah instrumen pelindung nilai (hedging). Jika harganya melonjak liar, pasar sebenarnya sedang berteriak bahwa nilai uang sedang merosot tajam.

"Institusi besar, seperti pengusaha-pengusaha punya duit pasti lebih banyak menyimpan emas. Buktinya apa, 70 ton bullion bank emas yang terkumpul dimiliki orang-orang menengah atas, kalau masyarakat kecil cuma Rp300 ribu beli, tapi sebetulnya yang diuntungkan adalah konglomerat," kata dia.

Harga emas global menembus level psikologis baru, $5.000 per troy ounce pada Senin (26/1/2026) untuk pertama kalinya. Bagi para spekulan, ini adalah pesta pora. Namun, masyarakat kecil angka ini adalah alarm bahaya yang menyengat. Desain-Aldi-Suara.com
Harga emas global menembus level psikologis baru, $5.000 per troy ounce pada Senin (26/1/2026) untuk pertama kalinya. Bagi para spekulan, ini adalah pesta pora. Namun, masyarakat kecil angka ini adalah alarm bahaya yang menyengat. Desain-Aldi-Suara.com

Bertanda Inflasi dan Gerus Daya Beli

Lonjakan menuju USD5.000 mencerminkan pudarnya kepercayaan terhadap mata uang fiat. Dampaknya adalah inflasi biaya (cost-push inflation). Emas bukan sekadar pajangan ia adalah komponen mikron dalam ponsel, alat kesehatan, hingga industri perhiasan.

Saat biaya bahan baku ini meroket, produsen akan membebankan kenaikan harga tersebut kepada konsumen. Akhirnya, harga barang pokok ikut terseret, dan daya beli masyarakat luas akan tergerus.

Fenomena ini diperparah oleh gerakan "dedolarisasi". Pakar keuangan Dr. Hans Kwee memproyeksikan harga emas bisa menyentuh USD10.000 pada 2030. Mengapa? Karena bank-bank sentral dunia termasuk Indonesia, China, hingga Polandia sedang memborong emas secara agresif untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar AS.

"Dunia menyadari kita tidak bisa bergantung sepenuhnya pada dolar lagi. Bank sentral di berbagai negara terus memborong emas karena mereka mencari aset yang lebih aman," ujar Hans.

Masalahnya, transisi menuju tatanan ekonomi baru ini tidak akan mulus. Volatilitas nilai tukar akan terjadi, dan masyarakat kecil adalah pihak pertama yang akan merasakan "obat pahit" dari ketidakstabilan ini.

Siapa yang diuntungkan?

Secara teknis, masyarakat kecil memang bisa memiliki emas dalam pecahan kecil. Namun, Ibrahim Assuaibi mengingatkan bahwa pemenang aslinya adalah para konglomerat. Saat masyarakat kecil sibuk menyisihkan uang makan untuk membeli 0,1 gram emas, institusi besar dan kaum menengah atas telah memborong puluhan ton emas hingga pasar mengering.

"Sebetulnya yang diuntungkan adalah konglomerat. Mereka pasti memupuk logam mulia sehingga logam mulia sudah tidak ada (stok kosong), itu pasti sudah diborong," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI, Rupiah Anjlok Lagi

Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI, Rupiah Anjlok Lagi

Bisnis | Selasa, 27 Januari 2026 | 09:55 WIB

Emas Antam Terpeselet Hari Ini, Harganya Dibanderol Rp 2.916.000/Gram

Emas Antam Terpeselet Hari Ini, Harganya Dibanderol Rp 2.916.000/Gram

Bisnis | Selasa, 27 Januari 2026 | 09:24 WIB

Harga Emas Naik Lagi, Hari Ini di Pegadaian Sudah Tembus Level Rp3 Juta

Harga Emas Naik Lagi, Hari Ini di Pegadaian Sudah Tembus Level Rp3 Juta

Bisnis | Selasa, 27 Januari 2026 | 07:17 WIB

Terkini

Fenomena HopeTok di Era Digital: Kenapa Konten Positif Semakin Dicari GenZ?

Fenomena HopeTok di Era Digital: Kenapa Konten Positif Semakin Dicari GenZ?

Your Say | Senin, 20 Juli 2026 | 12:30 WIB

Iran: Perang Berakhir Jika Menang Lawan Amerika Serikat atau Lewat Negosiasi

Iran: Perang Berakhir Jika Menang Lawan Amerika Serikat atau Lewat Negosiasi

News | Senin, 20 Juli 2026 | 12:24 WIB

Pelantikan Jampidsus Baru Tinggal Menghitung Hari

Pelantikan Jampidsus Baru Tinggal Menghitung Hari

News | Senin, 20 Juli 2026 | 12:18 WIB

Bantah Klaim Hotman Paris, Mensesneg Tegaskan Pemeriksaan Pejabat Tak Butuh Izin Presiden

Bantah Klaim Hotman Paris, Mensesneg Tegaskan Pemeriksaan Pejabat Tak Butuh Izin Presiden

News | Senin, 20 Juli 2026 | 12:18 WIB

Transportasi Darat Sumbang 87 Persen emisi, Bagaimana Kemenhub Percepat Dekarbonisasi?

Transportasi Darat Sumbang 87 Persen emisi, Bagaimana Kemenhub Percepat Dekarbonisasi?

Your Say | Senin, 20 Juli 2026 | 12:16 WIB

Reborn Rookie: Kisah Konglomerat yang Terlahir Kembali sebagai Karyawan Baru

Reborn Rookie: Kisah Konglomerat yang Terlahir Kembali sebagai Karyawan Baru

Your Say | Senin, 20 Juli 2026 | 12:15 WIB

Berapa Hadiah Pemenang Piala Dunia 2026? Segini Uang yang Dibawa Pulang Spanyol

Berapa Hadiah Pemenang Piala Dunia 2026? Segini Uang yang Dibawa Pulang Spanyol

Bola | Senin, 20 Juli 2026 | 12:15 WIB

Tragedi Maut di Kuningan: Pria Tewas Terjun dari Lantai 46, Isu Kerabat Pengacara Kondang Diselidiki

Tragedi Maut di Kuningan: Pria Tewas Terjun dari Lantai 46, Isu Kerabat Pengacara Kondang Diselidiki

News | Senin, 20 Juli 2026 | 12:14 WIB

Tiga WNA Asal India Dideportasi, Ini Perkaranya

Tiga WNA Asal India Dideportasi, Ini Perkaranya

Sumut | Senin, 20 Juli 2026 | 12:13 WIB

Kopi Kiwa: Menyesap Sensasi Kopi Premium di Pinggir Jalan GOR Kota Jambi

Kopi Kiwa: Menyesap Sensasi Kopi Premium di Pinggir Jalan GOR Kota Jambi

Your Say | Senin, 20 Juli 2026 | 12:05 WIB

×