- Operator emas daring terkemuka, Jieworui, di Shenzhen mengalami krisis likuiditas akut dengan dana tertahan sekitar Rp29,5 triliun.
- Jieworui menawarkan leverage sangat tinggi hingga 40 kali lipat serta imbal hasil menarik bagi nasabah sejak krisis memuncak 20 Januari.
- Pemerintah Shenzhen membentuk satuan tugas khusus setelah 150.000 korban protes karena pembatasan penarikan dana secara sepihak.
Suara.com - Pusat perhiasan dan emas terbesar di China, Shenzhen Shuibei, kini tengah diguncang skandal besar. Jieworui, operator perdagangan emas daring terkemuka, dikabarkan mengalami krisis likuiditas akut dan gagal memenuhi kewajiban pembayaran kepada nasabahnya.
Nilai dana yang tertahan diperkirakan mencapai 13,4 miliar yuan atau setara dengan kurang lebih Rp29,5 triliun.
Ironisnya, kemacetan dana ini terjadi justru saat harga emas dunia menyentuh rekor tertinggi baru di level US$5.200 per troy ons pada Rabu lalu.
Lonjakan harga yang seharusnya menguntungkan justru menjadi pemicu kesulitan penarikan dana (redemption) massal bagi platform tersebut.
Modus Operandi dan Praktik Leverage Tinggi
Jieworui beroperasi di kawasan industri emas paling komprehensif di Tiongkok. Selain melayani jual-beli dan daur ulang logam mulia fisik, platform ini juga menawarkan layanan spekulasi emas non-fisik.
Berdasarkan laporan media setempat, Jieworui menyediakan fasilitas leverage (daya ungkit) yang sangat berisiko, hingga mencapai 40 kali lipat.
Untuk menarik minat konsumen, platform ini menggunakan strategi promosi yang sangat agresif, seperti:
- Pembebasan biaya pemrosesan emas.
- Penawaran harga beli kembali (buyback) yang jauh di atas rata-rata pasar.
- Janji imbal hasil yang menarik bagi nasabah yang menyetorkan emas fisik atau perak mereka.
150 Ribu Korban dari Kalangan Ibu Rumah Tangga
Baca Juga: Harga Emas Anjlok Tajam: Galeri 24 dan UBS Turun Berturut-turut, Saatnya Serok?
Data per 27 Januari 2026 menunjukkan jumlah korban yang terdampak telah melampaui 150.000 orang. Sebagian besar korban merupakan masyarakat kelas pekerja dan ibu rumah tangga yang tergiur dengan skema investasi tersebut.
Krisis mulai memuncak sejak 20 Januari ketika banyak investor mengaku tidak bisa menarik dana mereka.
Situasi semakin memburuk pada 26 Januari saat platform secara sepihak membatasi penarikan harian hanya sebesar 500 yuan (sekitar Rp1,1 juta) dan 1 gram emas.
Kondisi ini memicu gelombang protes besar-besaran di Shenzhen hingga berujung pada bentrokan dengan pihak kepolisian.
Menanggapi gejolak sosial tersebut, Pemerintah Kota Shenzhen mengumumkan telah membentuk satuan tugas khusus untuk mengintervensi masalah ini dan memastikan perusahaan memenuhi kewajibannya kepada investor.
Di sisi lain, pemilik Jieworui, Zhang Zhiteng, merilis pernyataan video yang berusaha menenangkan para investor.