Bongkar Muat Kapal Molor hingga 6 Hari, Biaya Logistik Kian Mahal

Achmad Fauzi

Minggu, 01 Februari 2026 | 16:30 WIB
Bongkar Muat Kapal Molor hingga 6 Hari, Biaya Logistik Kian Mahal
Aktivitas bongkar-muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (20/8/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Keterlambatan sandar dan bongkar muat di pelabuhan, seperti Tanjung Perak, menyebabkan kenaikan biaya logistik nasional.
  • Penyebab utama dugaan perlambatan adalah peralatan bongkar muat yang sudah tua dan produktivitasnya menurun tajam.
  • Keterlambatan ini memicu kelangkaan kontainer kosong, berdampak signifikan pada pemenuhan jadwal pengiriman barang perusahaan.

Suara.com - Keterlambatan waktu sandar serta proses bongkar muat kapal di sejumlah pelabuhan kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya arus logistik sejak akhir 2025 hingga awal 2026. Kondisi ini dinilai berdampak langsung pada melonjaknya biaya logistik nasional.

Sejumlah kapal dilaporkan harus menunggu hingga 5–6 hari untuk dapat sandar dan melakukan bongkar muat barang. Padahal, pada kondisi normal, waktu tunggu maksimal hanya sekitar tiga hari. Buruknya layanan bongkar muat ini diduga kuat akibat keterbatasan dan usia peralatan yang sudah tua serta kerap mengalami gangguan, sehingga produktivitas terminal menurun tajam.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono, mengatakan kondisi tersebut terlihat jelas di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Ia menilai lamanya waktu sandar dan bongkar muat telah memicu kelangkaan kontainer di sejumlah pelabuhan.

"Saya melihat beberapa kapal menunggu pembongkaran lebih lama. Kalau biasanya maksimal 3 hari, sekarang bisa sampai 6 hari. Ini karena beberapa alat bongkar muat atau crane sudah tua, misalnya di Terminal Peti Kemas (TPK) Nilam, dan TPK Mirah di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya," ujar Sebastian seperti dikutip, Minggu (1/2/2026).

Aktivitas bongkar-muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (20/8/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Aktivitas bongkar-muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (20/8/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Menurutnya, PT Pelindo seharusnya segera melakukan peremajaan alat bongkar muat di berbagai terminal. Pasalnya, kapasitas produktivitas alat yang ada saat ini jauh dari ideal.

"Seharusnya PT Pelindo segera melakukan peremajaan alat bongkar muat. Idealnya jumlah Container Processing Area (CPA) per jam bisa 30–40 kontainer, sekarang hanya mampu menangani 10 kontainer," katanya.

Molornya proses bongkar muat tersebut berdampak langsung pada pengiriman barang. Sebastian mengungkapkan, banyak perusahaan forwarder kesulitan memenuhi jadwal pengiriman akibat kelangkaan kontainer kosong.

"Saya mengirim bahan baku pupuk ke Sampit, sejak Desember sudah sulit dapatkan kontainer kosong. Pengiriman baru bisa dilakukan Januari 2026, itupun hanya sebagian," jelas Sebastian.

Ia menambahkan, sebelumnya pihaknya bisa memperoleh 20–40 kontainer per hari. Namun kini jumlah tersebut turun drastis menjadi sekitar 10 kontainer per hari. Akibatnya, volume pengiriman juga ikut terpangkas.

baca juga

"Dengan 40 kontainer kami bisa mengirim 1.000 ton per hari. Sekarang hanya dapat 10 kontainer, sehingga yang terkirim hanya sekitar 250 ton," ungkapnya.

Keterlambatan bongkar muat juga disoroti Ketua DPC Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya, Steven H Lesawengen. Ia menyebut persoalan serupa terjadi di Terminal Peti Kemas Berlian, Tanjung Perak.

"Keterlambatan penanganan bongkar muat kapal di TPK Berlian Pelabuhan Tanjung Perak karena alat belum siap," ungkap Steven.

Hingga berita ini diturunkan, manajemen TPK Berlian dan TPK Mirah belum memberikan tanggapan meski telah dihubungi. Sementara itu, manajemen TPK Nilam Tanjung Perak membantah adanya kerusakan alat bongkar muat di terminal tersebut.

Di sisi lain, perwakilan Terminal Petikemas Semarang (TPKS), Komang, menjelaskan bahwa keterlambatan kapal sandar dan bongkar muat di pelabuhan tersebut masih dalam batas kewajaran dan dipengaruhi faktor eksternal, terutama cuaca.

"Keterlambatan ini wajar terjadi karena faktor cuaca yang tidak menentu. Sebelumnya kami juga sudah melakukan sosialisasi kepada para pengguna jasa agar kondisi ini dapat diantisipasi," ujar Komang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta, Pelindo dan Kemenhub Kembangkan Kawasan Pesisir serta Pelabuhan Laut

Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta, Pelindo dan Kemenhub Kembangkan Kawasan Pesisir serta Pelabuhan Laut

Bisnis | Selasa, 27 Januari 2026 | 13:16 WIB

Purbaya Ancam Potong Anggaran Kemenhub, Geram Banyak Kapal Asing Tak Bayar Pajak

Purbaya Ancam Potong Anggaran Kemenhub, Geram Banyak Kapal Asing Tak Bayar Pajak

Bisnis | Selasa, 27 Januari 2026 | 09:51 WIB

Pengusaha Ngadu ke Purbaya, Banyak Kapal Asing Masuk RI Tak Bayar Pajak

Pengusaha Ngadu ke Purbaya, Banyak Kapal Asing Masuk RI Tak Bayar Pajak

Bisnis | Selasa, 27 Januari 2026 | 09:20 WIB

Terkini

Febrie Adriansyah Minta Rp 50 Miliar ke Tan Kian agar Tak Jadi Tersangka Kasus Jiwasraya

Febrie Adriansyah Minta Rp 50 Miliar ke Tan Kian agar Tak Jadi Tersangka Kasus Jiwasraya

News | Senin, 02 November 2026 | 14:49 WIB

Demi Ingat Aksi Sadisnya! Dwi Bagus Simpan Foto Lokasi Pembakaran Korban hingga Mesin Penggiling

Demi Ingat Aksi Sadisnya! Dwi Bagus Simpan Foto Lokasi Pembakaran Korban hingga Mesin Penggiling

News | Senin, 02 November 2026 | 14:48 WIB

Darya-Varia Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis dengan DiVi Lab di Self-Care AMRUN 5K 2026, Bali

Darya-Varia Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis dengan DiVi Lab di Self-Care AMRUN 5K 2026, Bali

Bali | Senin, 02 November 2026 | 14:45 WIB

Setelah 7 Tahun Hiatus, Syahrini Juga Kembali untuk Aksi Kemanusiaan Lewat Incess for Humanity

Setelah 7 Tahun Hiatus, Syahrini Juga Kembali untuk Aksi Kemanusiaan Lewat Incess for Humanity

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 14:45 WIB

Kompensasi Blackout Cuma Rp6 Ribu-Rp12 Ribu, Tagihan Listrik Warga Batam Malah Naik

Kompensasi Blackout Cuma Rp6 Ribu-Rp12 Ribu, Tagihan Listrik Warga Batam Malah Naik

Batam | Senin, 02 November 2026 | 14:43 WIB

Penipuan Online hingga Hoaks Bansos, Ini Disinformasi yang Banyak Menyasar Warga Jakarta

Penipuan Online hingga Hoaks Bansos, Ini Disinformasi yang Banyak Menyasar Warga Jakarta

News | Senin, 02 November 2026 | 14:34 WIB

Rekonstruksi Pembunuhan Bayi di Kebayoran Lama, Pelaku Celupkan Kepala Korban ke Ember

Rekonstruksi Pembunuhan Bayi di Kebayoran Lama, Pelaku Celupkan Kepala Korban ke Ember

News | Senin, 02 November 2026 | 14:34 WIB

Telkom Raup Pendapatan Rp113,5 Triliun melalui Pertumbuhan 4 Segmen Bisnis Utama

Telkom Raup Pendapatan Rp113,5 Triliun melalui Pertumbuhan 4 Segmen Bisnis Utama

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 14:32 WIB

Jelang FIFA Matchday November 2026, John Herdman Coret Ole Romeny dari Skuad Timnas Indonesia?

Jelang FIFA Matchday November 2026, John Herdman Coret Ole Romeny dari Skuad Timnas Indonesia?

Bola | Senin, 02 November 2026 | 14:32 WIB

Anggota Wantimpres: Secara Hukum, RI Tak Lagi Punya Wakil Presiden yang Sah

Anggota Wantimpres: Secara Hukum, RI Tak Lagi Punya Wakil Presiden yang Sah

News | Senin, 02 November 2026 | 14:32 WIB

×