- MSCI pada Selasa (3/2/2026) menolak berkomentar mengenai dialog transparansi data investor dengan otoritas pasar modal Indonesia.
- Regulator Indonesia merespons dengan tiga transformasi utama: penurunan ambang batas pengungkapan kepemilikan saham menjadi 1%.
- Ancaman penurunan status indeks MSCI memicu guncangan bursa, menyebabkan IHSG terjerembab dan beberapa bank besar memangkas rekomendasi.
Suara.com - Penyedia indeks global, MSCI (Morgan Stanley Capital International), akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait dialog mereka dengan otoritas pasar modal Indonesia.
Pernyataan ini muncul hanya selang sehari setelah pertemuan krusial yang membahas kekhawatiran transparansi data investor yang sempat memicu guncangan hebat di lantai bursa tanah air.
Dalam keterangan resminya kepada Reuters pada Selasa (3/2/2026), MSCI memilih untuk menjaga kerahasiaan rincian dialog tersebut.
"Sebagai bagian dari kerangka kerja tata kelola dan konsultasi indeks standar kami, MSCI secara teratur berinteraksi dengan pelaku pasar dan pemangku kepentingan terkait. Kami tidak berkomentar tentang diskusi individual," tulis keterangan MSCI yang dikutip via Reuters.
Berkebalikan dengan MSCI, Hasan Fawzi, Anggota Dewan Komisioner OJK sebelumnya memberikan sinyal positif mengenai hasil pertemuan tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa pihak MSCI bersedia memberikan panduan (guidance) mendalam mengenai metodologi perhitungan yang mereka inginkan.
Guna menjawab keraguan investor global, konsorsium regulator pasar modal Indonesia (OJK, BEI, dan KSEI) telah merumuskan tiga agenda transformasi utama:
Penurunan Ambang Batas Pengungkapan (Disclosure): Transparansi kepemilikan saham kini diperketat. Jika sebelumnya hanya pemilik di atas 5% yang wajib diungkap ke publik, kini batasannya diturunkan menjadi 1% ke atas.
Detail Klasifikasi Investor: KSEI akan merombak pengelompokan tipe investor dari yang semula hanya 9 kategori menjadi 27 sub-tipe investor. Langkah ini bertujuan untuk mengungkap profil pemilik manfaat sebenarnya (beneficial owner).
Baca Juga: Di Tengah Gejolak IHSG, Saham Fundamental Justru Mulai Dilirik
Kenaikan Kuota Free Float: Rencana peningkatan porsi saham publik di pasar dari minimum 7,5% menjadi 15% akan segera dieksekusi secara bertahap dengan melibatkan seluruh pelaku pasar.
Dampak MSCI
Pasar saham Indonesia memang tengah berada dalam tekanan hebat sejak 28 Januari lalu, sesaat setelah MSCI melontarkan sinyal penurunan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Kepanikan investor sempat membuat IHSG terjerembab hingga 16% hanya dalam dua hari perdagangan. Tekanan berlanjut hingga Senin (2/2), di mana indeks ditutup ambruk 4,9% ke level 7.922,73.
Peran MSCI sebagai "wasit" keuangan dunia sangat vital karena indeks Emerging Markets mereka melacak aset senilai kurang lebih US$10 triliun.
Dampaknya kini mulai terasa secara sistemik. Sejumlah lembaga keuangan raksasa seperti Goldman Sachs, UBS, hingga Nomura telah resmi memangkas rekomendasi saham Indonesia menjadi Netral dari sebelumnya Overweight.
Penurunan peringkat ini didasarkan pada meningkatnya risiko investasi (investability) serta ancaman aliran modal keluar (outflow) massal dari investor pasif jika Indonesia benar-benar turun kasta.
DISCLAIMER: Investasi pada pasar modal memiliki risiko volatilitas yang dipengaruhi oleh kebijakan indeks global seperti MSCI. Status klasifikasi pasar (Emerging vs Frontier) berdampak langsung pada minat investor asing. Artikel ini merupakan laporan berita bisnis dan bukan merupakan rekomendasi jual atau beli. Investor disarankan untuk memantau pengumuman resmi dari OJK dan BEI secara rutin.