- Rupiah melemah konsisten pada Rabu, 4 Februari 2026, mencapai level Rp 16.779 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.
- Analis menyebut pelemahan rupiah dipicu oleh kurangnya keakraban investor dengan nama Misbakhun dan ketidakpastian pasar ekuitas.
- Kondisi pelemahan rupiah ini juga dialami beberapa mata uang Asia lain, kecuali baht Thailand yang menguat signifikan.
Suara.com - Nilai tukar rupiah konsisten melemah terhadap dolar AS hingga akhir perdagangan Rabu, 4 Februari 2026. Berdasarkan data, Bloomberg rupiah bergerak di sekitar level Rp 16.779 per dolar AS.
Kondisi itu membuat rupiah pun melemah 0,15 persen dibandingkan penutupan Selasa (3/2) lalu yang berada di level Rp 16.754.
Sedangkan, kurs JISDOR Bank Indonesia ada di level Rp 16.775.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah melemah dikarenakan nama Misbakhun tidak terlalu dikenal oleh investor. Sehingga, membuat rupiah mengalami tekanan.
![Mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/29/55963-nilai-tukar-rupiah.jpg)
"Memang sampai saat ini pelaku pasar tidak terlalu welcome nama Misbakhun, seperti halnya pjs Friderica Widyasari," katanya saat dihubungi Suara.com.
Lukman melanjutkan, ketidakpastian mengenai pasar ekuitas Indonesia memang masih membebani rupiah. Apalagi pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal keempat 2025 bisa membuat rupiah bertahan lama akan melemah.
"Selain itu ada antispasi data PDB Indonesia yang lebih lemah besok. Masalah IHSG MSCI akan terus membebani minggu depan," katanya.
Sementara itu, rupiah melemah bersama beberapa mata uang lainnya. Di mana, yen Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ambles 0,44 persen.
Selanjutnya, won Korea Selatan tertekan 0,28 persen dan dolar Taiwan yang sudah ditutup terkoreksi 0,12 persen. Disusul, peso Filipina yang terkoreksi 0,1 persen.
Baca Juga: IHSG Tertekan, OJK dan BEI Didorong Perbaiki Kepercayaan Pasar
Berikutnya, rupee India yang turun 0,05 persen dan dolar Singapura yang melemah tipis 0,03 persen terhadap the greenback. Kemudian, ringgit Malaysia yang terkerek 0,08 persen dan yuan China turun 0,03 persen.
Sedangkan, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melesat 0,24 persen. Diikuti oleh, dolar Singapura naik 0,004 persen.