Suara.com - Pasar modal Indonesia tengah berada dalam fase krusial setelah serangkaian lembaga pemeringkat dan indeks internasional merilis tinjauan yang kurang menggembirakan.
Lembaga pemeringkat kredit dunia, Moody’s, secara resmi menurunkan prospek (outlook) utang jangka panjang Indonesia dari "Stabil" menjadi "Negatif".
Terlebih, Moodys juga memberi dampak pada PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Central Asia Tbk (BCA), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).
Meskipun peringkat utang saat ini masih dipertahankan pada level Baa2, perubahan prospek ini memberikan sinyal waspada bagi para investor global.
Langkah Moody’s ini menyusul peringatan dari MSCI yang mempertimbangkan untuk menurunkan status bursa Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Rentetan sentimen negatif ini diperparah dengan keputusan raksasa perbankan investasi, Goldman Sachs dan UBS, yang memangkas bobot pasar saham Indonesia menjadi underweight.
Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami tekanan jual masif pada pekan lalu.
Tinjauan pesimistis dari lembaga-lembaga global tersebut berakar pada kekhawatiran yang serupa: penurunan kualitas tata kelola dan transparansi kebijakan. Faktor-faktor ini dinilai berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia dalam jangka menengah dan panjang.
Moody’s secara spesifik menyoroti risiko keberlanjutan fiskal, prediktabilitas kebijakan yang menurun, serta indikasi pelemahan kelembagaan. Poin ini menimbulkan spekulasi di kalangan analis mengenai apakah hal tersebut merujuk pada independensi otoritas moneter atau lembaga tinggi negara lainnya.
Baca Juga: Rupiah Amblas Imbas Moody's Kasih Rating Negatif ke Indonesia
MSCI lebih fokus pada teknis pasar modal, mencakup transparansi kepemilikan saham, kualitas free float (porsi saham publik), hingga perilaku perdagangan yang mencurigakan. Mereka mempertanyakan apakah pembentukan harga saham di BEI saat ini murni melalui mekanisme pasar atau terdapat intervensi yang tidak sehat.
Kekhawatiran ini dianggap wajar mengingat laju IHSG yang sangat agresif. Indeks tercatat melonjak sekitar 50 persen hanya dalam kurun waktu sembilan bulan; melesat dari titik terendah 5.996 pada April 2025 menuju level psikologis 9.000 pada awal Januari 2026.
Profil Moody's Ratings dan Perannya bagi Negara
Sebagai bagian dari "Big Three" bersama S&P dan Fitch, Moody's Ratings memegang peran vital sebagai penyedia opini independen mengenai kelayakan kredit suatu negara atau korporasi.
Peringkat ini menjadi kompas bagi investor internasional dalam mengukur risiko gagal bayar (default).
Poin Penting Profil Moody’s:
- Fungsi Utama: Mengukur risiko kredit dari obligasi pemerintah maupun swasta menggunakan skala standar (Aaa hingga C).
- Skala Investasi: Level Investment Grade (Aaa hingga Baa3) menunjukkan risiko rendah, sementara Speculative Grade (Ba1 hingga C) atau sering disebut junk bond menunjukkan risiko tinggi.
- Dampak Finansial: Peringkat yang tinggi memungkinkan negara meminjam dana dengan bunga rendah. Sebaliknya, penurunan outlook ke negatif dapat meningkatkan biaya utang karena investor menuntut imbal hasil (yield) yang lebih tinggi sebagai kompensasi risiko.
Dampak bagi Investor dan Stabilitas Pasar
Kondisi saat ini menuntut para pelaku pasar untuk lebih selektif.
Penyesuaian prospek oleh Moody’s menjadi negatif mengindikasikan bahwa jika tidak ada perbaikan nyata dalam tata kelola dan kebijakan ekonomi dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, peringkat utang Indonesia benar-benar terancam diturunkan (downgrade).
Jika skenario penurunan status oleh MSCI dari Emerging ke Frontier Market terjadi, dikhawatirkan akan ada aliran modal keluar (outflow) besar-besaran dari dana kelolaan institusi global yang selama ini menetapkan Indonesia dalam portofolio mereka.
Oleh karena itu, konsistensi kebijakan pemerintah dan transparansi otoritas bursa kini menjadi kunci utama untuk memulihkan kepercayaan pasar internasional.
Kontributor : Rizqi Amalia