- Emas dan perak menguat signifikan didorong pelemahan Dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah global.
- Menteri Keuangan AS mengaitkan lonjakan harga emas dengan aktivitas spekulatif dan margin ketat trader di China.
- Pasar menantikan data Ketenagakerjaan dan CPI AS, bersamaan dengan saran regulator China membatasi kepemilikan surat utang AS.
Suara.com - Emas dan perak kembali menjadi primadona investor yang mencari perlindungan (safe-haven) di tengah memanasnya berbagai isu global.
Pelemahan indeks Dolar AS yang cukup signifikan serta kenaikan harga minyak mentah menjadi katalis utama yang mendorong penguatan dua logam mulia tersebut.
Harga emas untuk kontrak pengiriman April terpantau melesat USD 120,00 hingga menyentuh level USD 5.100,00. Sementara itu, harga perak untuk kontrak Maret juga terbang tinggi dengan kenaikan USD 6,275 ke posisi USD 83,18.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam wawancara terbaru menyebutkan bahwa volatilitas ekstrem pada harga emas belakangan ini dipengaruhi oleh aktivitas trader di China.
"Pergerakan emas di China sudah agak tidak terkendali. Mereka terpaksa memperketat persyaratan margin. Bagi saya, emas terlihat seperti mengalami lonjakan spekulatif klasik," ujar Bessent kepada Fox News.
Pernyataan ini muncul merespons reli rekor logam mulia yang dipicu oleh pembelian spekulatif, gejolak geopolitik, dan kekhawatiran atas independensi Federal Reserve (The Fed).
Di sisi lain, data CFTC menunjukkan para manajer investasi sempat memangkas posisi beli (long) mereka hingga 23% pada pekan yang berakhir 3 Februari, menyusul penurunan harga emas terbesar dalam satu dekade terakhir pada akhir Januari lalu.
Dilansir via Kitco, Pasar kini tengah menanti dua data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang jadwalnya berdekatan akibat sempat terjadinya penghentian operasional pemerintah (government shutdown):
Data Ketenagakerjaan (Rabu): Ekonom memprediksi penambahan 69.000 lapangan kerja pada Januari dengan tingkat pengangguran bertahan di angka 4,4% (level tertinggi dalam empat tahun).
Indeks Harga Konsumen/CPI (Jumat): Investor mencari bukti bahwa inflasi masih dalam tren menurun. Inflasi inti diprediksi akan tumbuh pada laju tahunan paling lambat sejak awal 2021.
Selain data ekonomi, sentimen pasar juga terguncang oleh laporan bahwa regulator China telah menyarankan lembaga keuangan domestiknya untuk membatasi kepemilikan surat utang AS (U.S. Treasuries).
Langkah ini diambil guna memitigasi risiko konsentrasi dan volatilitas pasar, meski diklaim tidak berkaitan dengan manuver geopolitik.