- Pembiayaan murabahah emas BCA Syariah tumbuh 238,1 persen hingga Desember 2025, mencapai nilai Rp 520 miliar.
- BCA Syariah mempermudah akses pembiayaan emas melalui aplikasi mobile banking dan menambah vendor penyedia emas.
- Total aset BCA Syariah pada akhir 2025 naik 15,4% menjadi Rp 19,2 triliun, fokus 2026 beralih ke segmen UMKM.
Suara.com - Pembiayaan murabahah emas PT Bank BCA Syariah mencatat pertumbuhan sepanjang 2025. Hingga Desember 2025, pembiayaan emas BCA Syariah melesat 238,1 persen secara tahunan (year on year/yoy) dengan nilai mencapai Rp 520 miliar.
VP Retail & Consumer Business BCA Syariah, Arief Mediadianto, mengatakan lonjakan pembiayaan emas sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat berinvestasi pada instrumen yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
"Per Desember 2025 pembiayaan murabahah emas BCA Syariah tumbuh sebesar 238,1 persen secara tahunan dengan nilai mencapai Rp 520 miliar," ujar Arief seperti dikutip, Selasa (10/2/2026).

Menurut Arief, BCA Syariah melakukan sejumlah inisiatif untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan emas, salah satunya dengan mempermudah akses bagi nasabah. Jika sebelumnya pengajuan pembiayaan harus dilakukan secara luring di kantor layanan, kini nasabah dapat mengakses pembiayaan emas melalui aplikasi mobile banking BCA Syariah, BSya.
Tak hanya itu, BCA Syariah juga memperluas kerja sama dengan berbagai penyedia emas. Kita bekerja sama juga dengan berbagai macam vendor-vendor penyedia emas. Awalnya yang paling populer hanya Antam, kemudian kita bekerja sama dengan Pegadaian, Galeri 24, hingga Hartadinata," beber Arief.
Di segmen konsumer secara keseluruhan, pembiayaan BCA Syariah secara total pembiayaan konsumer naik 47,1 persen menjadi Rp 2,1 triliun, dengan pembiayaan emas menyumbang sekitar 30 persen dari total portofolio konsumer.
Meski ekspansi pembiayaan emas terbilang agresif, Arief menegaskan kualitas pembiayaan tetap terjaga. Rasio pembiayaan bermasalah atau Non Performing Financing (NPF) berada di level 1,57 persen, jauh di bawah rata-rata industri.
"Strategi kehati-hatian menjadi kunci agar ekspansi tidak meningkatkan risiko," ungkapnya.
Secara keseluruhan, kinerja pembiayaan BCA Syariah hingga akhir 2025 menunjukkan tren positif. Total pembiayaan tumbuh 23,1 persen secara tahunan menjadi Rp 13,2 triliun. Pembiayaan komersial naik 20,3 persen menjadi Rp 10,1 triliun, sementara segmen usaha kecil dan menengah (SME) tumbuh 9,7 persen menjadi Rp946 miliar.
Baca Juga: Emas Global ke Level USD 5.100, Dipicu Pelemahan Dolar dan Isu Larangan China
"Kalau kita masih ngomongin konsumer, so far masih ditopang sama pembiayaan emas. Kontribusinya mungkin sekitar 30-an persen," ucap Arief.
Aset BCA Syariah meningkat 15,4 persen menjadi Rp 19,2 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 17,1 persen secara tahunan menjadi Rp 15,4 triliun.
Arief menambahkan, di tengah volatilitas ekonomi sepanjang 2025, BCA Syariah secara sengaja menjaga laju ekspansi agar tetap terkendali. Memasuki 2026, perseroan akan mengalihkan fokus pada penguatan segmen UMKM guna memperluas distribusi risiko dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
"Strateginya akan lebih banyak berfokus pada SME atau UMKM," pungkasnya.