Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.845.000
Beli Rp2.715.000
IHSG 7.129,490
LQ45 690,764
Srikehati 337,455
JII 482,445
USD/IDR 17.273

Minyak Dunia Tembus USD 120, APBN 2026 Terancam Jebol? Cek Faktanya

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Jum'at, 13 Maret 2026 | 13:31 WIB
Minyak Dunia Tembus USD 120, APBN 2026 Terancam Jebol? Cek Faktanya
Harga minyak dunia tembus 118 dolar AS per barrel. Akankah harga BBM ikut melonjak? [Suara.com/Rochmat]
  • Minyak USD 120/barel tekan APBN; defisit diproyeksi naik ke 2,88% PDB, masih di ambang aman.
  • Kenaikan ICP tiap USD 1 per barel berisiko memperlebar defisit anggaran hingga Rp 6,8 triliun.
  • Pemerintah disarankan pangkas belanja dinas dan benahi subsidi energi salah sasaran Rp 133,5 T.

Suara.com - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran benar-benar membuat pasar energi global gemetar. Harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak tajam hingga menyentuh level USD 120 per barel pada Senin (9/3). Kondisi ini sontak memicu kekhawatiran atas nasib fiskal Indonesia.

Pasalnya, dalam APBN 2026, Pemerintah mematok asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) jauh di bawah angka tersebut, yakni hanya USD 70 per barel. Lonjakan harga ini jelas mempersempit ruang fiskal akibat membengkaknya beban subsidi.

Meski situasi genting, riset terbaru Next Indonesia Center bertajuk "Harga Minyak dan Batas Ketahanan APBN" memberikan angin segar. Mereka memprediksi APBN masih memiliki daya tahan jika merujuk pada pola krisis Rusia-Ukraina tahun 2022.

"Setiap kenaikan ICP sebesar USD 1 per barel akan menambah belanja negara sebesar Rp 10,3 triliun, namun hanya menambah penerimaan Rp 3,5 triliun. Artinya, ada pelebaran defisit sekitar Rp 6,8 triliun setiap kenaikan satu dolar," tulis riset tersebut.

Berdasarkan simulasi, jika harga minyak bertahan tinggi selama enam bulan ke depan (naik sekitar 21,66 persen menjadi rata-rata USD 85,2 per barel), maka defisit APBN diperkirakan membengkak menjadi Rp 740,7 triliun atau setara 2,88 persen PDB.

"Selama kenaikan rata-rata tidak lebih dari 35 persen, defisit masih di bawah batas aman 3 persen PDB sesuai UU Keuangan Negara," ujar Direktur Eksekutif Next Indonesia Center, Christiantoko, Jumat (13/3).

Agar kantong negara tidak jebol, Next Indonesia Center menyarankan dua langkah darurat pertama, pemerintah diminta memangkas pos non-pelayanan publik seperti perjalanan dinas dan rapat-rapat yang kurang krusial. Kedua, benahi penyaluran subsidi energi karena berdasarkan data Susenas 2025 penyaluran subsidi elpiji dan BBM masih salah sasaran dengan total potensi pemborosan mencapai Rp 133,5 triliun.

"Orang kaya justru menikmati manfaat lebih besar. Perbaikan sasaran subsidi adalah kunci menjaga ketahanan anggaran," tegas Christiantoko.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Termasuk Indonesia, 8 Negara Sebut Israel Langgar Hukum Internasional karena Blokade Al Aqsa

Termasuk Indonesia, 8 Negara Sebut Israel Langgar Hukum Internasional karena Blokade Al Aqsa

News | Jum'at, 13 Maret 2026 | 13:29 WIB

Pertempuran Udara: Iran Tembak Jatuh Pesawat Tanker AS di Langit Irak

Pertempuran Udara: Iran Tembak Jatuh Pesawat Tanker AS di Langit Irak

News | Jum'at, 13 Maret 2026 | 13:26 WIB

AS Akui Tentaranya Tak Berdaya Kawal Kapal Tanker Lewati Selat Hormuz

AS Akui Tentaranya Tak Berdaya Kawal Kapal Tanker Lewati Selat Hormuz

News | Jum'at, 13 Maret 2026 | 13:08 WIB

Terkini

Dana Asing Keluar Rp 2 Triliun dari Pasar Saham RI Hari Ini, Paling Banyak di BCA

Dana Asing Keluar Rp 2 Triliun dari Pasar Saham RI Hari Ini, Paling Banyak di BCA

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 19:31 WIB

Terpusat di Jawa dan Tergantung Musim, Masalah Stabilitas Stok Pangan Indonesia

Terpusat di Jawa dan Tergantung Musim, Masalah Stabilitas Stok Pangan Indonesia

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 19:23 WIB

Purbaya Ultimatum Asosiasi Reksa Dana: Sekarang Saya Ikut Awasi, Macam-macam Saya Hajar!

Purbaya Ultimatum Asosiasi Reksa Dana: Sekarang Saya Ikut Awasi, Macam-macam Saya Hajar!

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 18:43 WIB

Cegah Diabetes hingga Hipertensi, Pemerintah Siapkan Label Khusus di Makanan

Cegah Diabetes hingga Hipertensi, Pemerintah Siapkan Label Khusus di Makanan

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 18:31 WIB

Bahlil Ngaku Tak Bisa Tidur Mikirin Pasokan LPG

Bahlil Ngaku Tak Bisa Tidur Mikirin Pasokan LPG

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 18:18 WIB

Purbaya Dibilang Gila Usai Sebut IHSG Bisa Tembus 28.000 di 2030

Purbaya Dibilang Gila Usai Sebut IHSG Bisa Tembus 28.000 di 2030

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 18:17 WIB

Pemerintah Wajibkan Dapur Makan Bergizi Gratis Kantongi Sertifikat Higiene

Pemerintah Wajibkan Dapur Makan Bergizi Gratis Kantongi Sertifikat Higiene

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 18:15 WIB

Industri Budaya dan Kreatif Sumbang 3 Persen PDB Global, Peluang Identitas Lokal RI Mendunia

Industri Budaya dan Kreatif Sumbang 3 Persen PDB Global, Peluang Identitas Lokal RI Mendunia

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 18:14 WIB

Putusan KPPU Tuai Kritik, Metodologi Denda Pindar Dinilai Tak Jelas

Putusan KPPU Tuai Kritik, Metodologi Denda Pindar Dinilai Tak Jelas

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 18:13 WIB

Tiru India, OJK Ingin Investor RI Lebih Punya Banyak Reksa Dana

Tiru India, OJK Ingin Investor RI Lebih Punya Banyak Reksa Dana

Bisnis | Senin, 27 April 2026 | 18:06 WIB