Petani Tembakau Peringatkan Ancaman Pandemi Ekonomi Jilid II

Achmad Fauzi

Jum'at, 13 Maret 2026 | 21:13 WIB
Petani Tembakau Peringatkan Ancaman Pandemi Ekonomi Jilid II
Aceh Utara Kembangkan Budi Daya Tembakau. [Antara]
baca 10 detik
  • APTI menyoroti PP Nomor 28 Tahun 2024 mengenai batas maksimal nikotin dan tar berpotensi menekan ekonomi petani.
  • Ketua Umum APTI menilai penerapan standar global tanpa mempertimbangkan kondisi domestik berisiko menimbulkan krisis ekonomi petani.
  • APTI meminta diversifikasi produk dan infrastruktur disiapkan pemerintah sebelum pembatasan produk tembakau diberlakukan.

Suara.com - Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) menyoroti rencana pemerintah untuk membatasi kandungan nikotin dan tar pada produk tembakau. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan tekanan ekonomi bagi petani tembakau di berbagai daerah.

Usulan pembatasan tersebut merupakan salah satu amanat dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Dalam regulasi tersebut pemerintah diminta menetapkan batas maksimal kandungan nikotin dan tar pada produk tembakau.

Ketua Umum DPN APTI Agus Parmuji menilai kebijakan yang menekankan standar global tanpa mempertimbangkan kondisi domestik berpotensi menimbulkan dampak serius bagi petani.

"Jangan sampai standar global begitu saja diterapkan di Indonesia tanpa mempertimbangkan kondisi lokal. Tembakau di Indonesia juga merupakan bagian dari kebudayaan dan sumber penghidupan masyarakat," ujarnya seperti dikutip, Jumat (13/3/2026).

Tembakau hasil panen petani di Temanggung, Jawa Tengah. [Dok. Serat.id]
Tembakau hasil panen petani di Temanggung, Jawa Tengah. [Dok. Serat.id]

Menurut Agus, wacana kebijakan tersebut menjadi ancaman bagi petani tembakau di sejumlah daerah sentra produksi seperti Jawa Timur, Madura hingga Temanggung. Jika diterapkan tanpa kesiapan ekosistem yang memadai, petani berpotensi menghadapi tekanan ekonomi yang serius.

Ia bahkan mengingatkan potensi terjadinya krisis ekonomi bagi petani tembakau.

"Kami dari petani tentunya bisa mengalami pandemi ekonomi jilid II jika kebijakan ini (pembatasan nikotin dan tar) tidak disiapkan secara matang. Karena itu kami meminta kebijakan yang tepat dan adil bagi petani. Makanya kalau tembakau ingin dimanfaatkan untuk produk lain seperti pangan, kosmetik atau lainnya, pemerintah harus menyiapkan infrastrukturnya sampai ke daerah," tegasnya.

Sebagai upaya menjaga keberlanjutan sektor tembakau, APTI mendorong pemerintah untuk melakukan diversifikasi produk tembakau, pengembangan produk turunan bernilai tambah, serta memberikan program pendampingan bagi petani.

Langkah tersebut dinilai penting untuk melindungi petani tembakau sekaligus menjaga kontribusi sektor Industri Hasil Tembakau (IHT) terhadap perekonomian nasional.

baca juga

Pada 2024 misalnya, IHT menyumbang sekitar 4,22 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional atau setara Rp158,72 triliun. Industri ini juga dikenal sebagai sektor padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja dari hulu hingga hilir.

Sementara itu, forum uji publik yang digelar Kemenko PMK menjadi bagian dari proses penyusunan kebijakan penentuan batas maksimal kandungan nikotin dan tar pada produk tembakau.

Forum tersebut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan kementerian dan lembaga, akademisi, pelaku industri, organisasi pekerja, hingga asosiasi petani. Para pihak memberikan masukan terhadap hasil kajian yang disusun sebelum kebijakan tersebut dibahas lebih lanjut dalam proses koordinasi antar kementerian hingga tahap pengambilan keputusan pemerintah.

Kemenko PMK menyatakan kajian tersebut masih dalam tahap diskusi dan pengumpulan masukan dari berbagai pemangku kepentingan.

APTI berharap proses penyusunan kebijakan tersebut dapat mempertimbangkan kepentingan seluruh pihak yang terdampak.

"Kami percaya selalu ada jalan tengah. Yang penting kebijakan ini dikaji secara adil, bijaksana, dan melibatkan semua pihak yang terdampak," pungkas Agus.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gerakan Kurangi Risiko Rokok Meluas, Sejumlah Pengusaha Vape Mulai Pasang Stiker Edukasi

Gerakan Kurangi Risiko Rokok Meluas, Sejumlah Pengusaha Vape Mulai Pasang Stiker Edukasi

Bisnis | Rabu, 11 Maret 2026 | 09:07 WIB

Petani Tembakau Curhat, Perusahaan Rokok Menyusut dari 5.000 Jadi 1.700

Petani Tembakau Curhat, Perusahaan Rokok Menyusut dari 5.000 Jadi 1.700

Bisnis | Selasa, 10 Maret 2026 | 20:40 WIB

BRIN Ungkap Produk Tembakau Alternatif Minim Risiko Toksikan, Apa Itu?

BRIN Ungkap Produk Tembakau Alternatif Minim Risiko Toksikan, Apa Itu?

Bisnis | Sabtu, 07 Maret 2026 | 07:57 WIB

Terkini

Dihadiri Para Menteri dan Ketua MPR, EIGER Nature Resmi Diluncurkan di Kabupaten Bogor

Dihadiri Para Menteri dan Ketua MPR, EIGER Nature Resmi Diluncurkan di Kabupaten Bogor

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:10 WIB

Dari Cisarua ke Dramaga, Dugaan Keracunan MBG di Bogor Belum Temukan Titik Terang

Dari Cisarua ke Dramaga, Dugaan Keracunan MBG di Bogor Belum Temukan Titik Terang

Bogor | Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:10 WIB

Kronologi Kericuhan Malioboro Usai Demo Sumpah Pemuda, Massa Tak Dikenal Serang Gedung DPRD DIY

Kronologi Kericuhan Malioboro Usai Demo Sumpah Pemuda, Massa Tak Dikenal Serang Gedung DPRD DIY

Jogja | Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:18 WIB

20 Tahun Mengabdi, Irsan Jadi Calon Tunggal Ketua BPC Gapensi Kabupaten Bogor

20 Tahun Mengabdi, Irsan Jadi Calon Tunggal Ketua BPC Gapensi Kabupaten Bogor

Bogor | Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:05 WIB

Dari Serang, Jakarta hingga Sukabumi: Kronologi Polresta Serang Kota Gagalkan Peredaran 8,8 Kg Sabu

Dari Serang, Jakarta hingga Sukabumi: Kronologi Polresta Serang Kota Gagalkan Peredaran 8,8 Kg Sabu

Banten | Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:00 WIB

Persib Kalahkan Melbourne Victory 2-0, Igor Tolic: Grup Belum Usai

Persib Kalahkan Melbourne Victory 2-0, Igor Tolic: Grup Belum Usai

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:35 WIB

Umuh Muchtar Buka Suara Usai Pelaku Pembacokan Bobotoh Ditangkap: Mohon Bobotoh Jangan Dendam

Umuh Muchtar Buka Suara Usai Pelaku Pembacokan Bobotoh Ditangkap: Mohon Bobotoh Jangan Dendam

Jabar | Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:21 WIB

Polda DIY Pastikan Malioboro Dalam Kendali Penuh Usai Kerahkan Water Cannon dan Gas Air Mata

Polda DIY Pastikan Malioboro Dalam Kendali Penuh Usai Kerahkan Water Cannon dan Gas Air Mata

Jogja | Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:14 WIB

Mahasiswa Kemah di Kantor Gubernur Sumsel saat Sumpah Pemuda, Desak Transparansi Anggaran Karhutla

Mahasiswa Kemah di Kantor Gubernur Sumsel saat Sumpah Pemuda, Desak Transparansi Anggaran Karhutla

Sumsel | Rabu, 28 Oktober 2026 | 23:44 WIB

Pengamat Tanggapi Harga Saham BYAN Haji Isam

Pengamat Tanggapi Harga Saham BYAN Haji Isam

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 23:17 WIB

×