Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

BRIN Ungkap Produk Tembakau Alternatif Minim Risiko Toksikan, Apa Itu?

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Sabtu, 07 Maret 2026 | 07:57 WIB
BRIN Ungkap Produk Tembakau Alternatif Minim Risiko Toksikan, Apa Itu?
Beberapa sample produk dari STIG POD ditampilkan pada acara "Vape Fair" di JCC, Jakarta, Sabtu (7/9). (Suara.com/Angga Budhiyanto)
  • Produk tembakau alternatif terbukti minim toksikan karena tanpa proses pembakaran.
  • Data ilmiah jadi fondasi standar produk untuk selaraskan ekonomi dan kesehatan.
  • GEBRAK dorong pemerintah gunakan sains untuk tekan angka perokok di Indonesia.

Suara.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa riset mendalam terhadap produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik dan tembakau yang dipanaskan, merupakan fondasi penting untuk menyelaraskan kepentingan ekonomi dan kesehatan di Indonesia.

Peneliti BRIN, Prof. Dr. Ir. Bambang Prasetya, menyatakan bahwa riset bukan sekadar angka, melainkan basis data kepatuhan (compliance) dalam merumuskan Standar Nasional Indonesia (SNI).

"Riset diperlukan untuk menjembatani 'mazhab' ekonomi dan kesehatan," ujar Prof. Bambang, dikutip Jumat (6/3/2026).

Berdasarkan studi BRIN bertajuk “Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO's Nine Toxicants”, ditemukan bahwa rokok elektronik memiliki kadar zat berbahaya yang jauh lebih rendah dibandingkan rokok konvensional. Hal ini dikarenakan tidak adanya proses pembakaran yang menghasilkan TAR.

Tak hanya rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan (heated tobacco product) juga menunjukkan hasil serupa. "Studi menunjukkan penurunan zat toksikan berisiko hingga 80-90% dibandingkan rokok," jelas Prof. Bambang secara konsisten.

Temuan ini disambut positif oleh Ketua Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK), Garindra Kartasasmita. Ia menilai data dari BRIN adalah senjata utama untuk melawan misinformasi yang menyamaratakan risiko produk alternatif dengan rokok bakar.

"Masih banyak hoaks yang beredar. Studi tambahan sangat diperlukan agar masyarakat mendapatkan informasi komprehensif," kata Garindra.

Ia mendorong pemerintah untuk melirik strategi negara maju yang sukses menekan prevalensi merokok melalui pendekatan pengurangan risiko (harm reduction). Menurutnya, pemanfaatan produk tembakau alternatif berbasis sains bisa menjadi alat utama bagi perokok dewasa untuk beralih ke produk yang lebih rendah risiko.

Dengan bukti ilmiah yang kian solid, sinergi antara regulasi berbasis data dan inovasi produk diharapkan mampu memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat tanpa mengabaikan stabilitas ekonomi sektor terkait.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Wacana Pelarangan Total Rokok Elektronik

Wacana Pelarangan Total Rokok Elektronik

Bisnis | Rabu, 04 Maret 2026 | 14:46 WIB

Kekerasan Terus Berulang, Peneliti BRIN Minta Berhenti Gunakan Kata Oknum untuk Polisi Bermasalah

Kekerasan Terus Berulang, Peneliti BRIN Minta Berhenti Gunakan Kata Oknum untuk Polisi Bermasalah

News | Kamis, 26 Februari 2026 | 17:54 WIB

Singgung Tanggung Jawab Lembaga, Peneliti BRIN Minta Polri Setop Pakai Istilah Oknum

Singgung Tanggung Jawab Lembaga, Peneliti BRIN Minta Polri Setop Pakai Istilah Oknum

News | Kamis, 26 Februari 2026 | 16:32 WIB

Terkini

BP Batam 'Ngebut' di 2026: Investasi Tembus Rp17,4 Triliun, Sektor Elektronik Jadi Jawara

BP Batam 'Ngebut' di 2026: Investasi Tembus Rp17,4 Triliun, Sektor Elektronik Jadi Jawara

Bisnis | Kamis, 23 April 2026 | 22:01 WIB

7 Hari Menuju Ambang Batas: Trump di Ujung Tanduk, Kongres Beri 'Cek Kosong' Perang?

7 Hari Menuju Ambang Batas: Trump di Ujung Tanduk, Kongres Beri 'Cek Kosong' Perang?

Bisnis | Kamis, 23 April 2026 | 21:33 WIB

Lewat Kartini BISA Fest, Telkom Perkuat Peran Perempuan di Era Digital

Lewat Kartini BISA Fest, Telkom Perkuat Peran Perempuan di Era Digital

Bisnis | Kamis, 23 April 2026 | 20:42 WIB

Babak Akhir Utang 'Whoosh', RI Siap Sodorkan Skema Restrukturisasi ke China

Babak Akhir Utang 'Whoosh', RI Siap Sodorkan Skema Restrukturisasi ke China

Bisnis | Kamis, 23 April 2026 | 20:10 WIB

Pemerintah Gunakan Cara Baru Pantau BBM Subsidi Agar Tak Bocor

Pemerintah Gunakan Cara Baru Pantau BBM Subsidi Agar Tak Bocor

Bisnis | Kamis, 23 April 2026 | 20:06 WIB

Pengguna Aktif GoPay Tembus 26 Juta

Pengguna Aktif GoPay Tembus 26 Juta

Bisnis | Kamis, 23 April 2026 | 20:00 WIB

Danantara Umbar Biang Kerok Kinerja Garuda Indonesia Masih Seret

Danantara Umbar Biang Kerok Kinerja Garuda Indonesia Masih Seret

Bisnis | Kamis, 23 April 2026 | 19:50 WIB

Pegang 42 Persen Cadangan Dunia, Nikel Masih Jadi 'Raja' Investasi Hilirisasi RI

Pegang 42 Persen Cadangan Dunia, Nikel Masih Jadi 'Raja' Investasi Hilirisasi RI

Bisnis | Kamis, 23 April 2026 | 19:05 WIB

Jumlah BUMN Dipangkas Jadi Hanya 300, Begini Klaster-klasternya

Jumlah BUMN Dipangkas Jadi Hanya 300, Begini Klaster-klasternya

Bisnis | Kamis, 23 April 2026 | 19:02 WIB

Pemerintah Diminta Tak Wajibkan Penggunaan Dolar AS untuk Transaksi Batu Bara DMO

Pemerintah Diminta Tak Wajibkan Penggunaan Dolar AS untuk Transaksi Batu Bara DMO

Bisnis | Kamis, 23 April 2026 | 18:57 WIB