Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.710.000
Beli Rp2.570.000
IHSG 6.007,656
LQ45 597,448
Srikehati 291,253
JII 359,060
USD/IDR 17.916

Kompilasi Purbaya Serang Balik Ekonom di Hadapan Prabowo: Bantah Resesi hingga Rupiah Hancur

Dicky Prastya

Senin, 16 Maret 2026 | 08:00 WIB
Kompilasi Purbaya Serang Balik Ekonom di Hadapan Prabowo: Bantah Resesi hingga Rupiah Hancur
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (13/3/2026). [Screenshot YouTube Sekretariat Presiden]
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah prediksi krisis dan resesi ekonomi Indonesia di hadapan Presiden Prabowo pada Jumat (13/3/2026).
  • Purbaya menyatakan inflasi terkendali di 2,59 persen jika data subsidi listrik dihilangkan, serta indeks ekonomi membaik.
  • Menteri Keuangan menegaskan Rupiah hanya terdepresiasi 0,3% dan investor asing masih menanamkan modal di Indonesia.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali melontarkan serangan tajam kepada para ekonom yang mengatakan bahwa Indonesia masuk masa krisis-resesi buntut perang Amerika Serikat vs Iran.

Kritik bertubi-tubi Purbaya disampaikan di depan Presiden RI Prabowo Subianto saat Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara pada Jumat (13/3/2026) kemarin.

Suara.com merangkum beberapa pernyataan Purbaya yang mengkritik para ekonom di hadapan Presiden Prabowo. Berikut isinya.

Presiden Prabowo Subianto. [Antara]
Presiden Prabowo Subianto. [Antara]

1. Bantah ekonomi kepanasan

Dalam paparannya, Purbaya saat itu menerangkan soal keadaan inflasi Indonesia per Februari 2026. Ia menyampaikan kalau inflasi tembus 4,64 persen secara year on year (yoy).

Namun Purbaya menerangkan kalau kenaikan inflasi ini terjadi lantaran adanya kebijakan subsidi listrik pada Januari dan Februari 2026 lalu. Jika data itu dihilangkan, inflasi Indonesia hanya 2,59 persen.

"Kalau kita hilangkan data-data subsidi listrik bulan Januari Februari tahun lalu, sebetulnya inflasi kita hanya sekitar 2,59 persen, Pak. Jadi kita masih aman untuk tumbuh lebih cepat lagi. Ekonominya enggak kepanasan," katanya.

2. Ekonom aneh karena sebut RI masuk resesi dan morat-marit

Selanjutnya, Purbaya menerangkan data soal kondisi makro ekonomi Indonesia yang diklaim dalam tahap akselerasi setelah mengalami tekanan tahun lalu. Ia menunjukkan data mulai dari Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), hingga Mandiri Spending Index (MSI).

"Sengaja saya taruh di sini karena di luar banyak yang bilang kita sudah resesi pak, ekonom-ekonom yang agak aneh itu bilang kita sudah resesi, tinggal hancurnya," kata Purbaya.

Purbaya mengatakan, dari sisi angka PMI Manufaktur per Februari 2026 tengah mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir, yakni 53,8. Sementara itu IKK bergerak ke level 125,2.

Selain itu, MSI juga naik ke atas hingga 360,7. Bukti lainnya yakni penjualan mobil yang tumbuh 12,2 persen di Februari 2026.

"Ini bukan main-main Pak. Kalau dilihat tahun lalu kan negatif, sekarang sudah mulai positif dan makin kencang. Jadi kita jauh dari apa yang disebut ekonominya morat-marit, kata ekonom-ekonom di luar itu pak, di TikTok banyak itu pak," timpal dia.

3. Tolak klaim Rupiah hancur

Purbaya lalu menyebut kalau daya beli masyarakat terpukul. Namun kenyataannya, data PMI hingga survei kepercayaan menunjukkan sebaliknya.

"Banyak orang bilang katanya daya daya beli masyarakat terpukul ya. Kalau yang lagi susah ya susah tetap tapi kan kita lihat keadaan umum. Keadaan umum ditangkap dari survei kepercayaan konsumen. Jadi memang dari dia beri masyarakat membaik. Dan yang sebelah kanan saya, saya ulang lagi Purchasing Manager Index itu sekarang 53,8 tertinggi dalam beberapa tahun terakhir Pak," paparnya.

Bendahara Negara lalu menerangkan soal kondisi geopolitik yang tengah gonjang-ganjing dan mengganggu ekonomi, khususnya Rupiah. Ia menerangkan kalau mata uang Indonesia itu justru hanya terdepresiasi 0,3 persen.

"Ada yang bilang Rupiah hancur. Tapi kalau dikatakan betul Pak itu sejak perang, Rupiah hanya terdepresiasi sebesar 0,3. Jadi sebetulnya bagus daya tahan kita. Yang real, yang pemain yang punya duit betul, bilangnya seperti ini. Tapi yang enggak punya duit kali, Pak, jelek-jelekin Pak," umbarnya.

4. Investor asing masih percaya RI

Menkeu Purbaya juga menjabarkan soal banyaknya investor asing yang masih percaya kondisi ekonomi RI. Ia menjabarkan terkait aliran masuk modal asing lewa instrumen investasi mulai dari surat berharga negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga saham.

Mulanya Purbaya membandingkan selisih imbal hasil antara SBN milik Pemerintah Indonesia dengan US Treasury milik Pemerintah Amerika Serikat. Per Maret 2026, level SBN dan US Treasury hanya sebesar 243 basis points (bps). Angka ini naik 0,3 bps dari 240 bps pada Januari 2025.

"Naiknya hanya terbatas 0,3 basis point. Artinya asing masih percaya ke kita," katanya.

Bendahara Negara menerangkan kalau aliran modal asing yang keluar dari Indonesia (outflow) hanya ada di SBN dengan angka Rp 700 miliar. Namun komponen lain seperti SRBI dan saham justru sebaliknya.

"Kita lihat data di bulan Maret terakhir yang outflow hanya SBN Rp 0,7 triliun di kotak itu, Pak. SRBI inflow Rp 2,2 triliun Maret ya. Jadi saham juga masih inflow Rp 2,2 triliun di bulan Maret," beber dia.

"Jadi setelah goncang goncang goncang di bulan Maret sepertinya masih masuk ke sini, Pak. Artinya mereka percaya betul bahwa pondasi kita bagus. Ini kalau investor-investor yang asli seperti ini, Pak. Karena mereka taruh uang," jelasnya.

5. Ekonom tak pernah lihat data

Terakhir, Purbaya berpandangan kalau ekonomi RI tidak akan hancur karena kenaikan harga minyak buntut penutupan Selat Hormuz.

"Banyak yang bilang ekonomi Indonesia akan hancur morat-marit, enggak jelas gitu. Padahal pengalaman kita selama ini enggak demikian," katanya.

Ia bercerita kalau pada 2007-2008, harga minyak brent naik ke level tertinggi hingga 220 Dolar AS per barel secara rata-rata per bulan. Hal ini pun berdampak pada perekonomian global yang juga ikut turun.

Namun dengan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat saat itu, perekonomian Indonesia bisa tumbuh 4,6 persen.

Lalu di Februari 2011, harga minyak kembali tinggi sampai 110-120 Dolar AS per barel. Tapi Pemerintah masih memiliki cara untuk mengendalikan perekonomian, baik dari segi fiskal maupun moneter.

Begitu pula saat pandemi Covid-19, di mana harga minyak ikut naik tajam hingga lebih dari 100 Dolar AS per barel. Tapi Pemerintah tetap mampu menjawab tantangan tersebut.

Purbaya lalu meyakinkan Prabowo agar tidak takut dengan kondisi perekonomian Indonesia jika berkaca dari pengalaman tersebut.

"Yang jadi catatan adalah apa ke depan untuk kita adalah, kita harus adjust dengan kebijakan atau dengan harga minyak global. Tapi kita mesti ceritakan ke masyarakat kita bahwa kita pasti berhasil mengendalikan itu karena pengalaman selama ini kita berhasil. Jadi kita enggak usah takut, Pak. Jadi yang analis-analis yang di TikTok, di YouTube yang bilang kita hancur itu sama sekali enggak pernah ngelihat data, Pak," tukasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemerintah Bangun Ratusan Toilet dan Revitalisasi Sekolah di Kawasan Transmigrasi

Pemerintah Bangun Ratusan Toilet dan Revitalisasi Sekolah di Kawasan Transmigrasi

News | Minggu, 15 Maret 2026 | 19:15 WIB

CORE Wanti-wanti Ekonomi RI Bisa Menderita Efek Perang Iran-AS

CORE Wanti-wanti Ekonomi RI Bisa Menderita Efek Perang Iran-AS

Bisnis | Minggu, 15 Maret 2026 | 19:04 WIB

PVRI Kritik Pernyataan 'Antikritik' Prabowo Usai Insiden Penyiraman Air Keras: Ini Sinyal Represif!

PVRI Kritik Pernyataan 'Antikritik' Prabowo Usai Insiden Penyiraman Air Keras: Ini Sinyal Represif!

News | Minggu, 15 Maret 2026 | 18:09 WIB

Jika Kritik Tak Lagi Aman, Ke Mana Arah Demokrasi Indonesia?

Jika Kritik Tak Lagi Aman, Ke Mana Arah Demokrasi Indonesia?

Your Say | Minggu, 15 Maret 2026 | 15:21 WIB

Siap-siap Trump Boncos Lagi, Iran Mau Hancurkan Perusahaan Amerika Serikat di Timur Tengah

Siap-siap Trump Boncos Lagi, Iran Mau Hancurkan Perusahaan Amerika Serikat di Timur Tengah

News | Minggu, 15 Maret 2026 | 11:43 WIB

Purbaya Pamer ke Prabowo RI Bisa Tangani Kenaikan Harga Minyak Sejak 2007 hingga Covid-19

Purbaya Pamer ke Prabowo RI Bisa Tangani Kenaikan Harga Minyak Sejak 2007 hingga Covid-19

Bisnis | Minggu, 15 Maret 2026 | 09:30 WIB

Terkini

BRI Perluas Akses Investasi Global melalui BRImo, Hadirkan Reksa Dana USD Batavia

BRI Perluas Akses Investasi Global melalui BRImo, Hadirkan Reksa Dana USD Batavia

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 10:28 WIB

Rupiah Paling Perkasa di Asia, Pukul Mundur Dolar AS ke Level Rp17.726

Rupiah Paling Perkasa di Asia, Pukul Mundur Dolar AS ke Level Rp17.726

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:56 WIB

Kabar Baik bagi Konsumen, Harga Cabai dan Ayam Turun di Awal Pekan!

Kabar Baik bagi Konsumen, Harga Cabai dan Ayam Turun di Awal Pekan!

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:38 WIB

Diikuti 45.000 Peserta, BTN Jakim 2026 Dorong Jakarta Menuju Destinasi Sport Tourism Kelas Dunia

Diikuti 45.000 Peserta, BTN Jakim 2026 Dorong Jakarta Menuju Destinasi Sport Tourism Kelas Dunia

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:33 WIB

Investor Tahan Dulu, Harga Emas Antam Mulai Naik Lagi Jadi Rp 2.729.000/Gram

Investor Tahan Dulu, Harga Emas Antam Mulai Naik Lagi Jadi Rp 2.729.000/Gram

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:29 WIB

Penguatan Kenaikan IHSG Cerminkan Kepercayaan Investor terhadap Kekuatan Ekonomi Indonesia

Penguatan Kenaikan IHSG Cerminkan Kepercayaan Investor terhadap Kekuatan Ekonomi Indonesia

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:23 WIB

IHSG Terbang Pagi Ini Setelah Perang AS-Usai, Pantau Saham AMMN dan DEWA

IHSG Terbang Pagi Ini Setelah Perang AS-Usai, Pantau Saham AMMN dan DEWA

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:17 WIB

Jangan Lupa! Ada Diskon Tiket Kapal Feri Selama Libur Sekolah, Catat Tanggalnya

Jangan Lupa! Ada Diskon Tiket Kapal Feri Selama Libur Sekolah, Catat Tanggalnya

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:05 WIB

Emiten HGII Tebar Dividen Buat Pemegang Saham, Berapa Besarannya?

Emiten HGII Tebar Dividen Buat Pemegang Saham, Berapa Besarannya?

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 09:03 WIB

AS - Iran Sepakat Damai: Selat Hormuz Dibuka, Harga Minyak Dunia Anjlok

AS - Iran Sepakat Damai: Selat Hormuz Dibuka, Harga Minyak Dunia Anjlok

Bisnis | Senin, 15 Juni 2026 | 08:48 WIB