- 48% ekonom nilai ekonomi RI memburuk & terancam stagflasi akibat inflasi tinggi.
- Presiden sebut kritik pengamat tidak patriotik dan diduga dibiayai koruptor.
- Purbaya klaim ekonomi kokoh (5,39%) dan sebut narasi resesi hanyalah noise.
Suara.com - Isu keretakan optimisme antara pemerintah dan akademis kembali memanas. Di satu sisi, para pakar ekonomi melempar rapor merah terhadap kondisi riil di lapangan. Di sisi lain, pemerintah menuding adanya "noise" atau kebisingan yang sengaja diciptakan untuk memicu kecemasan publik.
Fenomena ini terekam jelas dalam rilis terbaru Survei Ahli Ekonomi Semester I-2026 yang dirilis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia (UI).
Hasilnya cukup mengejutkan dimana hampir separuh ekonom yang disurvei menilai urat nadi perekonomian nasional sedang tidak baik-baik saja, bahkan cenderung memburuk dibandingkan tiga bulan lalu.
Rapor Merah dari Kampus: Bayang-bayang Stagflasi
Berdasarkan survei yang melibatkan 85 ahli ekonomi dari dalam dan luar negeri tersebut, sebanyak 48 persen atau 41 responden menyatakan kondisi ekonomi Indonesia memburuk. Rinciannya, 35 ekonom menilai kondisi lebih buruk, sementara 6 lainnya bahkan menyebut jauh lebih buruk. Hanya segelintir sekitar 14 persen yang masih melihat adanya perbaikan.
“Rata-rata respons sebesar -0,39 mencerminkan kecenderungan para ahli yang menilai perekonomian sedang memburuk atau stagnan,” tulis laporan LPEM UI yang dikutip Suara.com, Selasa (17/3/2026).
Tim peneliti menekankan bahwa tren negatif ini konsisten terjadi dalam tiga survei berturut-turut sejak 2025, mengindikasikan belum adanya perbaikan berarti selama 1,5 tahun terakhir.
Sentimen negatif ini dipicu oleh tiga faktor utama yang saling mengunci:
Pertama, para ekonom menilai laju Inflasi saat ini terus mengganas, karena sebanyak 67 persen responden meyakini tekanan harga barang dan jasa terus meningkat.
"Skor keyakinan terhadap data ini mencapai 7,60 dari 10, sebuah sinyal bahwa daya beli masyarakat sedang berada dalam ancaman serius," tulis laporan itu.
Kedua, lebih dari separuh ekonom (56 persen) menyebut pasar tenaga kerja semakin ketat. Minimnya lapangan kerja baru dan stagnasi upah dituding menjadi biang keladi melemahnya pendapatan rumah tangga.
Dan ketiga, indikator bisnis merosot ke angka -0,67. Hal ini menunjukkan bahwa gairah investasi dan ekspansi usaha yang sempat muncul di awal tahun kini mulai layu sebelum berkembang.
Kombinasi antara pertumbuhan yang melambat (stagnan) dan inflasi yang meninggi ini memicu kekhawatiran baru akan ancaman stagflasi yang nyata di depan mata.
Prabowo: "Pengamat Tidak Patriotik"
Menanggapi derasnya kritik dan penilaian miring tersebut, Presiden Prabowo Subianto angkat bicara dengan nada tinggi. Usai Sidang Kabinet Paripurna pada Jumat (13/3/2026), Presiden menyebut ada kelompok pengamat yang memang tidak senang melihat keberhasilan pemerintah.
Prabowo bahkan mensinyalir adanya motivasi politik dan ekonomi gelap di balik narasi-narasi pesimistis tersebut. “Ada pengamat yang memang tidak suka pemerintahnya sendiri berhasil karena berbagai motivasi. Menurut saya sikap mereka itu sempit, bukan sikap patriotik,” tegas Prabowo.
Lebih jauh, Presiden mengungkapkan informasi mengejutkan yang didapat dari intelijen negara. Ia menyebut ada dugaan koruptor yang ketakutan akan langkah penertiban pemerintah, sengaja membiayai pengamat tertentu untuk menyebar kecemasan.
"Indonesia ibarat satu kapal besar. Jika kapal itu oleng, maka semua pihak di dalamnya juga akan terdampak. Kompetisi politik itu wajar tiap lima tahun, tapi setelah selesai, kita harus bersatu menyelamatkan kapal besar bernama Republik Indonesia," imbuhnya.
Purbaya Yudhi Sadewa: Itu Hanya Noise
Senada dengan Presiden, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut melancarkan serangan balik terhadap pihak-pihak yang menyebut Indonesia sedang menuju jurang resesi. Purbaya menyindir bahwa narasi ekonomi hancur tersebut lebih banyak berseliweran di media sosial, terutama TikTok.
"Sekarang banyak noise. Di TikTok tuh banyak yang ngomong ekonomi hancur. Coba lihat data yang betul, suruh belajar yang betul," cetus Purbaya saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Senin (16/3/2026).
Purbaya tampak geram ketika ditanya mengapa pemerintah tidak mengajak para pengkritik tersebut berdiskusi langsung. Dengan nada meninggi, ia menilai tidak ada gunanya berdebat dengan pihak yang dianggapnya tidak memiliki latar belakang pendidikan ekonomi formal.
"Mereka nggak pernah kuliah ekonomi. Di mana debatnya? Saya debat sama orang pinggir jalan yang nggak jelas jadinya. Orang di warung-warung masih lebih jago baca situasi karena punya kemauan belajar," semprotnya.
Menkeu menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sejatinya masih sangat kokoh. Ia merujuk pada data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 mencapai 5,39 persen. Bahkan, ia optimis kuartal I-2026 ini pertumbuhan bisa menembus angka 5,5 persen.
“Orang bilang itu karangan Purbaya saja. Enggak! Itu data BPS,” tegasnya menutup pembicaraan.
Pertarungan narasi antara data akademis LPEM UI dan optimisme pemerintah ini kini menjadi perhatian pasar. Apakah kekhawatiran para ekonom akan terbukti sebagai peringatan dini, ataukah optimisme pemerintah yang akan menjadi kenyataan di sisa tahun 2026? Satu yang pasti, masyarakat di bawah tetap menanti langkah nyata untuk meredam inflasi yang kian menyekik leher.