Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.699.000
Beli Rp2.575.000
IHSG 6.172,340
LQ45 616,921
Srikehati 300,840
JII 375,650
USD/IDR 17.821

BI Batasi Pembelian Tunai Dolar Mulai April, Rupiah Terus Melemah

Liberty Jemadu, Rina Anggraeni

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:57 WIB
BI Batasi Pembelian Tunai Dolar Mulai April, Rupiah Terus Melemah
BI mengubah batas maksimum pembelian valas dengan menjadi 50.000 dolar AS per pelaku per bulan. Kebijakan ini berlaku mulai April mendatang di tengah ancaman krisis energi akibat konflik di Teluk Persia. [Antara]
baca 10 detik
  • Bank Indonesia mengubah batas pembelian tunai dolar menjadi 50.000 dolar AS per bulan mulai April untuk stabilitas nilai tukar rupiah.
  • BI terakhir kali membatasi pembelian dolar AS pada 2022, di tengah krisis akibat wabah Covid-19.
  • Rupiah ditutup melemah pada 17 Maret 2026 meskipun BI menahan suku bunga di tengah ketegangan global.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) telah mengubah batas maksimum pembelian valas dengan menjadi 50.000 dolar AS per pelaku per bulan. Kebijakan ini berlaku mulai April mendatang di tengah ancaman krisis energi akibat konflik di Teluk Persia.

Sebelumnya BI membatasi pembelian valas sebesar 100.000 dolar AS per bulan mulai 2022 silam, di tengah krisis ekonomi akibat wabah Covid-19.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan ini untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

"Memperkuat ketentuan pelaporan Lalu Lintas Devisa (LLD) melalui penyesuaian threshold kewajiban dokumen pendukung transfer dana keluar negeri (outgoing) dalam valas dari USD100 ribu menjadi USD50 ribu yang akan mulai berlaku April 2026," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Selasa (17/3/2026).

Sedangkan, batas jual Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) ditingkatkan dari 5 juta dolar AS per transaksi menjadi 10 juta dolar AS per transaksi. Disusul batas beli dan jual swap juga ditingkatkan dari 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.

Bank Indonesia juga akan terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang Timur Tengah.

Rupiah terus melemah

Sementara pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (17/3/2026), nilai tukar rupiah kembali melemah. Padahal, mata uang garuda sempat menguat ke level Rp16.975 pada pembukaan tadi pagi.

Berdasarkan data Bloomberg, ditutup ke level Rp16.997 per dolar AS atau melemah 0,01 persen dibanding penutupan pada Senin (16/3/2026) yang berada di level Rp 16.998 per dolar AS.

baca juga

Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.982 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah gagal menguat padahal Bank Indonesia (BI) sudah menahan suku bunganya.

"Rupiah gagal mempertahankan penguatan terhadap dolar AS setelah Gubernur BI dalam RDG BI masih terkesan dovsih dengan mengatakan bahwa ruang pelonggaran kebijakan tetap terbuka," katanya saat dihubungi Suara.com.

Kata dia, pelemahan rupiah masih akan terus berlanjut. Apalagi, belum meredanya ketegangan antara Iran vs Amerika dan Israel masih membuat rupiah tertekan.

"Posisi rupiah masih akan terus didikte dolar AS dan perang di Timur Tengah,"jelasnya.

Sementara itu, mayoritas mata uang di Asia menguat. Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,38 persen. Selanjutnya ada ringgit Malaysia terkerek 0,28 persen dan won Korea Selatan naik 0,2 persen. Disusul, peso Filipina yang sudah ditutup terangkat 0,15 persen.

Berikutnya, yuan China terapresiasi 0,05 persen dan rupee India pun terlihat menguat tipis 0,003 persen terhadap the greenback.

Sedangkan, baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,21 persen disusul dolar Hongkong yang terkoreksi 0,09 persen, yen Jepang tergelincir 0,07 persen dan dolar Singapura yang melemah tipis 0,05 persen.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Perang di Timur Tengah, BI Tahan Suku Bunga Biar Rupiah Makin Kuat

Perang di Timur Tengah, BI Tahan Suku Bunga Biar Rupiah Makin Kuat

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 15:00 WIB

Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000, Menko Airlangga: Tugas BI Ini!

Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000, Menko Airlangga: Tugas BI Ini!

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 13:47 WIB

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.975

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.975

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 09:42 WIB

BI Beberkan Kerugian jika Masyarakat Tukar Uang Lebaran Ditempat Tidak Resmi

BI Beberkan Kerugian jika Masyarakat Tukar Uang Lebaran Ditempat Tidak Resmi

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 08:41 WIB

Bank Indonesia Diramal Tahan Suku Bunga, Stabilitas Rupiah Jadi Pertimbangan Utama

Bank Indonesia Diramal Tahan Suku Bunga, Stabilitas Rupiah Jadi Pertimbangan Utama

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 07:31 WIB

Terkini

Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond

Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 18:42 WIB

Pekerja PIPS Tolak Permenaker 7/2026, Khawatir Upah Mandek hingga Ancam Keandalan Listrik

Pekerja PIPS Tolak Permenaker 7/2026, Khawatir Upah Mandek hingga Ancam Keandalan Listrik

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 18:37 WIB

Hadapi Industri yang Makin Kompleks, SIG Andalkan Kualitas SDM

Hadapi Industri yang Makin Kompleks, SIG Andalkan Kualitas SDM

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:53 WIB

Indonesia Gandeng Kuwait Perkuat Kerja Sama Sektor Energi

Indonesia Gandeng Kuwait Perkuat Kerja Sama Sektor Energi

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:48 WIB

Kejar Dana ESG Global, Industri Perunggasan Mulai Jual Data Ilmiah demi Tarik Investor

Kejar Dana ESG Global, Industri Perunggasan Mulai Jual Data Ilmiah demi Tarik Investor

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:39 WIB

Tanggapi MSCI, Ini 8 Strategi Pemerintah Perkuat Pasar Saham RI

Tanggapi MSCI, Ini 8 Strategi Pemerintah Perkuat Pasar Saham RI

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:37 WIB

Rupiah Menguat dan IHSG Rebound, Pelaku Usaha Nilai Kepercayaan Pasar ke RI Mulai Pulih

Rupiah Menguat dan IHSG Rebound, Pelaku Usaha Nilai Kepercayaan Pasar ke RI Mulai Pulih

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:26 WIB

Minat PIP Naik Saat Ancaman PHK Membayangi, Ekonom Minta Pemerintah Fokus Selamatkan Lapangan Kerja

Minat PIP Naik Saat Ancaman PHK Membayangi, Ekonom Minta Pemerintah Fokus Selamatkan Lapangan Kerja

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:17 WIB

Purbaya Kantongi Restu dari Bank Sentral China, Panda Bond Segera Terbit

Purbaya Kantongi Restu dari Bank Sentral China, Panda Bond Segera Terbit

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 16:24 WIB

Oleh-oleh Purbaya dari China: Asian Infrastructure Investment Bank Segera Buka Kantor di RI

Oleh-oleh Purbaya dari China: Asian Infrastructure Investment Bank Segera Buka Kantor di RI

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 16:08 WIB