- PT Bank Rakyat Indonesia akan menyelenggarakan RUPS pada 10 April 2026 untuk menetapkan besaran dividen tahun buku 2025.
- Manajemen BRI mengindikasikan potensi peningkatan rasio pembagian dividen guna memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.
- Kondisi permodalan BRI yang sangat solid, dengan rasio kecukupan modal sebesar 23,52 persen, mendukung rencana kenaikan pembagian dividen tersebut.
Suara.com - Para investor dan pemegang saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tengah menanti momentum besar.
Emiten yang gemar bagi dividen ini dijadwalkan akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 10 April 2026 mendatang.
Salah satu poin utama yang menjadi pusat perhatian pasar adalah penetapan nilai dividen dari tahun buku 2025.
Meski rincian angka nominalnya belum dirilis secara resmi, pihak manajemen BBRI telah memberikan indikasi kuat bahwa besaran dividen yang akan dibagikan kali ini berpotensi mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengungkapkan bahwa rencana kenaikan rasio pembagian dividen (payout ratio) ini dilakukan dengan perhitungan yang matang.
Strategi tersebut tetap mengedepankan keseimbangan antara pengembalian keuntungan kepada pemegang saham dan pemeliharaan struktur permodalan yang sehat.
Hery menjelaskan bahwa dalam menentukan rasio dividen, perseroan selalu memantau kondisi kecukupan modal serta rencana ekspansi bisnis jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan perusahaan.
“Dalam menentukan rasio dividen, bank tentu akan mempertimbangkan kondisi struktur permodalannya secara menyeluruh,” jelas Hery dalam keterangannya saat paparan kinerja perusahaan beberapa waktu lalu.
Pada perdagangan hari ini sendiri, harga saham BBRI menguat cukup percaya diri di angka Rp3.350 di awal sesi 2, naik 3,72% dibandingkan pembukaan pasar.
- CNAF Tebar Dividen Rp129 Miliar
Baca Juga
Posisi Permodalan yang Sangat Solid
Optimisme manajemen BRI untuk membagikan dividen yang lebih besar didukung oleh kondisi keuangan yang sangat sehat. Hery menyebutkan bahwa rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) BBRI saat ini berada di level 23,52 persen.
Angka tersebut mencerminkan posisi permodalan yang sangat kuat, karena berada jauh di atas ambang batas minimum yang ditetapkan oleh regulator perbankan.
Dengan benteng modal yang kokoh, BRI memiliki fleksibilitas tinggi untuk mendukung pertumbuhan bisnis di masa depan sekaligus menghadiahi para investornya.
“Saat ini kondisi permodalan BRI sangat memadai dan kuat. Dengan CAR di kisaran 23,52 persen, kami memiliki ruang yang cukup luas untuk mendukung bisnis yang berkelanjutan,” tambah Hery.
Langkah meningkatkan rasio dividen ini dipandang sebagai upaya strategis perseroan untuk menjaga struktur modal yang optimal.