- Nilai tukar rupiah menguat 93 poin menjadi Rp17.012 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 8 April 2026.
- Tekanan rupiah disebabkan dinamika global dan suku bunga Amerika Serikat, bukan karena rapuhnya fundamental ekonomi domestik Indonesia.
- Penguatan dolar AS justru menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing ekspor serta memperkuat industri domestik.
“Ini juga menjadi momentum untuk mempercepat substitusi impor dan memperkuat struktur industri domestik,” katanya.
Fakhrul pun melihat adanya tanda-tanda stabilisasi global, khususnya dari meredanya tensi geopolitik dan naiknya harga komoditas yang menguntungkan Indonesia sebagai negara eksportir. Dalam situasi tersebut, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda secara bertahap.
Ia menilai fase overshooting yang terjadi saat ini akan diikuti oleh proses normalisasi nilai tukar. Kondisi ini, menurutnya, dapat dimanfaatkan pelaku pasar sebagai momentum untuk mulai menyesuaikan strategi investasi.
“Ketika mulai ada stabilisasi, biasanya kita masuk fase normalisasi. Ini bisa menjadi momentum untuk secara bertahap mengurangi eksposur terhadap dolar AS,” ujarnya.
Dengan demikian, pelemahan rupiah saat ini tidak hanya mencerminkan dinamika global semata, tetapi juga membuka ruang bagi penguatan daya saing ekonomi nasional ke depan.