- Rupiah tembus Rp17.000/USD, risiko kredit valas membengkak 13% akibat currency mismatch.
- Perbankan tetap stabil karena porsi kredit valas rendah dan tren pinjaman rupiah meningkat.
- Disiplin hedging dan stress test menjadi kunci mitigasi risiko volatilitas dolar di perbankan.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus merosot hingga melampaui level psikologis baru. Meski risiko currency mismatch mengintai, sektor perbankan mengklaim telah memiliki tameng kuat.
Apa yang Sedang Terjadi?
Nilai tukar rupiah tengah berada dalam tekanan hebat. Pergerakan kurs yang kini menembus angka Rp17.000 per dolar AS memicu alarm kewaspadaan di sektor finansial. Secara teori, setiap pelemahan rupiah adalah kabar buruk bagi debitur yang memiliki utang dalam denominasi dolar Amerika Serikat (valas) namun pendapatannya dalam rupiah.
Beban Utang Membengkak
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa ancaman utama dari fenomena ini adalah kredit valas. Ketika rupiah melemah dari kisaran Rp15.000 ke Rp17.000, beban kewajiban debitur otomatis membengkak secara drastis.
"Beban kewajiban dalam rupiah bisa naik lebih dari 10–13 persen tanpa ada perubahan pokok utang. Ini adalah risiko currency mismatch yang nyata," ujar Rizal kepada Suara.com
Namun, Rizal memberikan catatan penting: perbankan Indonesia secara sistemik masih relatif aman. Hal ini dikarenakan porsi kredit valas dalam struktur perbankan nasional tidak lagi sedominan dulu.
Belajar dari Masa Lalu
Bagaimana bank-bank besar merespons "hujan" dolar ini? PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC), misalnya, menunjukkan sikap optimistis namun tetap waspada. Direktur OCBC NISP, Martin Widjaja, mengungkapkan bahwa paparan (exposure) bank terhadap volatilitas dolar saat ini sangat terkendali.
"Selama 2-3 tahun terakhir, korporasi cenderung beralih meminjam dalam mata uang rupiah ketimbang dolar. Hal ini membuat portofolio kredit bank jauh lebih terlindungi dari fluktuasi kurs," kata Martin kepada Suara.com
Selain itu kata dia debitur saat ini jauh lebih teredukasi. Mereka aktif menggunakan instrumen seperti forward dan interest rate swap untuk mengunci nilai tukar, sehingga risiko jangka menengah dan panjang dapat dimitigasi.
"Semua dilakukan jauh lebih disiplin untuk menjaga volatilitas tersebut. Secara portfolio kita comfortable dengan aktivitas hedging yang dilakukan,”imbuhnya.
Peluang di Balik Volatilitas
Menariknya, pelemahan rupiah tidak melulu dipandang sebagai ancaman. Bagi sektor ekspor yang memiliki pendapatan dalam dolar, ini adalah peluang ekspansi. OCBC NISP bahkan memproyeksikan kredit valas masih bisa tumbuh di level high single digit tahun ini, menyasar sektor-sektor berorientasi ekspor tersebut.
Untuk memastikan keamanan simpanan nasabah, perbankan secara rutin melakukan stress test atau uji ketahanan. Direktur OCBC NISP, Johannes Husin, menegaskan bahwa koordinasi dengan regulator dan kepatuhan terhadap batas risiko (limit) manajemen adalah harga mati.
"Situasi ini juga kesempatan bagi kami untuk membantu nasabah melakukan diversifikasi portofolio agar tetap tangguh di tengah gejolak geopolitik global," pungkas Johannes.
Diketahui, nilai tukar rupiah masih terus mengalami tren pelemahan di tengah tingginya ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah. Posisi rupiah mencetak rekor terendah baru di Rp17.123 pada pukul 10.24 WIB, Jumat (10/4/2026).
Ini merupakan level terendah bagi mata uang rupiah terhadap dolar AS, setelah sempat mencapai level terendah di Rp17.105 pada Selasa (7/4/2026) kemarin. Namun hingga pukul 11.36 WIB hari ini, nilai tukar rupiah berangsur pulih ke Rp17.101 menurut data Bloomberg.
Pelemahan nilai tukar rupiah ini telah memaksa Bank Indonesia (BI) untuk intervensi melalui berbagai mekanisme.
BI menyatakan stabilitas menjadi prioritas utama, sehingga dilakukan optimalisasi pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki. Bank sentral akan selalu berada di pasar uang, baik spot market, DNDF, maupun NDF di offshore market untuk menjaga stabilitas rupiah.