- Pelaku usaha ritel di Indonesia menghadapi kenaikan harga barang sebesar 5 hingga 10 persen sejak dua minggu terakhir.
- Kenaikan biaya bahan baku plastik akibat konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga produk rumah tangga dan elektronik.
- Hippindo mengkhawatirkan penurunan daya beli masyarakat sehingga pelaku usaha berupaya mengoptimalkan promosi serta program belanja domestik lainnya.
Suara.com - Pelaku usaha ritel mulai merasakan kenaikan harga barang di pasar dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini terutama dipicu oleh meningkatnya biaya bahan baku, khususnya plastik yang banyak digunakan dalam berbagai produk.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budiharjo Iduansjah, mengatakan kenaikan harga sudah mulai diterima dari para pemasok dalam dua minggu terakhir.
Kenaikan harga plastik merupakan imbas dari memanasnya situasi di Timur Tengah lantaran adanya perang Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel.
"Ya, saat ini kami di ritel sudah terima kenaikan harga dari supplier. Jadi dari dua minggu lalu, atau minggu lalu juga udah masuk, dalam proses kami menegosiasi harga, harga lama. Tapi kalau nggak bisa ya kami nego harganya naik bertahap," ujar Budiharjo di Gedung SMESCO, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
![Pedagang melayani pembeli plastik di Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (9/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/25259-kenaikan-harga-plastik-kantong-plastik-ilustrasi-plastik-pedagang-plastik.jpg)
Budi menambahkan, kenaikan harga saat ini paling terasa pada produk yang menggunakan bahan plastik, baik di sektor rumah tangga maupun industri, termasuk elektronik.
"Artinya memang udah kenaikan harga itu terutama dari pengusaha makanan minuman, yang elektronik juga, alat listrik yang berhubungan kabel-kabel tuh naik semua. Alat-alat listrik, alat elektronik yang ada berhubungan sama plastik tuh semua naik. Ya, ember-ember itu naik semua itu," ucapnya.
Menurut Budi, rata-rata kenaikan harga di sektor ritel saat ini berada di kisaran 5 sampai 10 persen.
"Rata-rata 10 persen. Uh ya, tapi kami lagi nego ya, ada yang naik 5, 10 gitu, ya," ucapnya.
Meski demikian, tidak semua harga langsung disesuaikan. Sejumlah pelaku usaha masih menahan kenaikan harga sambil melakukan negosiasi dengan pemasok.
Budi menjelaskan, kenaikan harga ini turut berdampak pada kinerja penjualan ritel, meski secara nominal terlihat mengalami peningkatan.
"Kalau cash flow gini, sebenarnya kenaikan itu kan inflasi ya. Jadi kami kelihatannya ada, ada kenaikan penjualan jadi sebenarnya. Ya, karena kebetulan tetap ada kan, jadi ada kenaikan omzet secara nggak langsung mungkin 5 persen. Nah, itu didorong dari inflasi," jelasnya.
Namun, ia mengingatkan adanya potensi tekanan terhadap daya beli masyarakat jika kenaikan harga terus berlanjut.
"Nah, kalau cash flow kan kami bayar ke ritel, ke supplier kan term of payment. Jadi tidak ada masalah karena kami terimanya cash. Jadi artinya secara cash flow yang jadi masalah mungkin adalah kami khawatirkan daya beli," ucapnya.
Untuk menjaga penjualan, pelaku usaha ritel mulai menyesuaikan strategi, termasuk melakukan promosi dan mengoptimalkan program belanja domestik.
"Dengan adanya kenaikan ini, makanya kami inisiasi program-program Belanja di Indonesia Aja, kami coba optimalkan turis luar negeri masuk ke Indonesia belanja, terus uh bagaimana juga promosi-promosi agar stok lama bisa imbangin dengan harga baru. Jadi ada yang harga kami turunkan, ada harga yang naik," pungkasnya.