- Saham BBRI anjlok 3,91 persen ke Rp 2.950 pada Jumat (29/5/2026) akibat aksi jual masif investor asing.
- Tekanan jual terjadi saat rebalancing indeks MSCI, namun diimbangi aksi beli bersih investor domestik senilai Rp 738 miliar.
- Meskipun harga saham turun, fundamental BBRI tetap kuat dengan pertumbuhan laba bersih 6 persen selama empat bulan 2026.
Suara.com - Harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (berkode emiten BBRI) babak belur di bursa saham domestik. Pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (29/5/2026), saham BUMN ini mengalami tekanan jual yang sangat masif, ditutup anjlok minus 3,91 persen dan terperosok ke level Rp 2.950 per lembar saham.
Penurunan tajam ini merupakan peristiwa bersejarah di pasar modal Indonesia, mengingat level harga penutupan tersebut merupakan titik terendah saham BBRI dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Sepanjang sesi perdagangan hari itu, aktivitas transaksi saham Bank Rakyat Indonesia berlangsung sangat riuh. Volume perdagangan tercatat menembus angka 1,07 miliar lembar saham yang berpindah tangan.
Frekuensi transaksi mencapai 67.818 kali dengan total nilai perputaran uang atau turnover yang sangat fantastis, yakni sebesar Rp 3,19 triliun.
Tekanan berat yang menimpa pergerakan saham BBRI utamanya dipicu oleh derasnya arus modal keluar dari investor asing. Berdasarkan data perdagangan, investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) di saham BBRI hingga menyentuh angka Rp 738,04 miliar.
Tekanan jual ini terjadi bertepatan dengan momentum penyesuaian bobot indeks atau rebalancing MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang mulai berlaku efektif tepat pada penutupan perdagangan Jumat kemarin.
Proses rebalancing ini memaksa banyak manajer investasi global untuk menyesuaikan portofolio mereka secara otomatis.
Namun, di tengah kepanikan dan eksodus modal asing tersebut, fenomena menarik justru ditunjukkan oleh para investor lokal. Mengutip data analitik dari aplikasi Stockbit Sekuritas, ketika dana asing mengalir deras keluar, investor domestik justru bertindak sebagai standby buyer dengan memborong saham yang sedang terkoreksi dalam ini.
Investor domestik tercatat membukukan nilai beli bersih (net buy) yang ekuivalen dengan nilai jual asing, yakni sebesar Rp 738 miliar.
Merujuk pada metrik penilaian dari Stockbit Sekuritas, rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan atau Price to Book Value (PBV) BBRI saat ini hanya berada di angka 1,32 kali. Angka ini terjerembap jauh di bawah standar deviasi minus dua (-2 SD) dari rata-rata PBV historis BBRI selama 10 tahun terakhir.
Kondisi serupa juga terlihat pada rasio harga saham terhadap laba bersih perusahaan, atau Price Earning Ratio (PER). Saat ini, PER BBRI bertengger di angka 7,64 kali.
Valuasi ini berada jauh di bawah level standar deviasi minus satu (-1 SD) rata-rata PER BBRI dalam satu dekade terakhir yang normalnya berada di kisaran 9,92 kali.
Meskipun harga sahamnya sedang diobral di pasar sekunder, kinerja fundamental Bank Rakyat Indonesia di sektor riil justru menunjukkan otot yang kuat.
Entitas induk bank (bank only) sukses mencatatkan laba bersih sebesar Rp 4 triliun khusus pada bulan April 2026. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan positif sebesar 3% secara tahunan (Year-on-Year/YoY), meski secara bulanan (Month-on-Month/MoM) terkoreksi tipis 2%.
Pencapaian impresif di awal kuartal kedua tersebut membuat akumulasi laba bersih bank only selama empat bulan pertama tahun 2026 (4M26) menembus angka Rp 15,9 triliun, atau tumbuh 6% YoY.