Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan

Mohammad Fadil Djailani

Sabtu, 18 April 2026 | 15:53 WIB
Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan
lustrasi ladang tebu - (Pixabay/Momolebo2020)
  • Pemerintah kejar swasembada gula lewat integrasi 36 pabrik dan perluasan lahan.
  • Produktivitas rendah akibat mesin pabrik tua BUMN dan minimnya bibit unggul.
  • Pabrik GKR sulit tanam tebu karena keterbatasan lahan dan masalah logistik.

Suara.com - Pemerintah terus memacu mesin untuk mencapai swasembada gula konsumsi pada tahun 2028. Namun, jalan menuju kemandirian pangan tersebut nampaknya masih terjal dan penuh kerikil tajam.

Masalah struktural, mulai dari hulu hingga hilir, menjadi tembok besar yang harus segera diruntuhkan.

Kementerian Pertanian (Kementan) telah mematok target produksi 3 juta ton gula konsumsi untuk tahun 2026. Langkah strategis pun diambil melalui integrasi 36 pabrik gula di bawah bendera Holding Pangan ID Food dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).

Tak hanya itu, perluasan lahan seluas 200 ribu hektare serta program peremajaan tebu (bongkar ratoon) terus digenjot demi mendongkrak produktivitas.

Namun, realita di lapangan berkata lain. Produktivitas tebu nasional saat ini masih jalan di tempat, hanya berkisar di angka 4,74 ton per hektar. Angka ini jauh di bawah capaian historis masa keemasan gula Indonesia.

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementan, Kuntoro Boga Andri, membeberkan bahwa rendahnya produktivitas ini dipicu oleh beragam faktor klasik: kebun tebu yang menua, bibit yang kurang unggul, hingga minimnya akses permodalan bagi petani.

Senada dengan hal itu, Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, secara blak-blakan mengakui kualitas gula produksi BUMN belum optimal. Masalahnya bukan pada niat, melainkan pada 'jantung' produksi yang sudah renta.

"Kualitas produk tidak optimal, berwarna putih kusam atau kuning. Berbeda dengan pabrik swasta yang lebih putih," ujar Yuvensius Sri Susilo, Dosen Ekonomi Pembangunan UAJY. Menurutnya, modernisasi mesin giling dan restrukturisasi manajemen adalah harga mati jika ingin bersaing dengan swasta.

Di sisi lain, tantangan juga datang dari kewajiban pabrik Gula Kristal Rafinasi (GKR) untuk menanam tebu sendiri.

Sementara terkait kewajiban Pabrik Gula rafinasi untuk menanam tebu, Wamen Kementerian Perdagangan, dalam Rapat Dengan Pendapat dengan Komisi VI DPR RI (8/4/2026), Faisol Riza menjelaskan terkendala tiga kendala utama.

Kendala pertama berasal dari sisi produksi. Dia menjelaskan, pabrik gula kristal rafinasi yang berdiri sebelum regulasi baru pada dasarnya hanya dirancang untuk memurnikan gula kristal mentah menjadi gula kristal rafinasi.

“Perubahan bahan baku dari gula kristal mentah ke tebu membutuhkan investasi baru, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan tebu serta penyesuaian lini produksi yang selama ini tidak dipersiapkan untuk operasi berbasis tebu,” jelas Faisol.

Kendala kedua terkait keterbatasan lahan. Sebagian besar pabrik gula rafinasi berlokasi di kawasan dekat pelabuhan, terutama di Banten, sementara ketersediaan lahan tebu di wilayah tersebut sangat terbatas.

Kendala ketiga berasal dari aspek logistik. Faisol menjelaskan, kewajiban kepemilikan kebun tebu berpotensi membuat lokasi perkebunan jauh dari pabrik rafinasi. Kondisi ini dinilai tidak ideal karena tebu harus segera digiling setelah panen untuk menjaga rendemen tetap optimal. Jarak yang terlalu jauh berisiko menurunkan kualitas bahan baku dan efisiensi produksi.

“Dari aspek logistik, tebu harus segera digiling untuk menjaga rendemen tetap optimal,” pungkasnya.

Pengamat Pertanian IPB, Purwono, mengingatkan bahwa meskipun swasembada gula konsumsi relatif lebih pasti karena arealnya sudah tersedia, peta jalan (roadmap) untuk Gula Kristal Rafinasi masih buram.

"Rencana pembangunan pabrik gula dan kebun (untuk rafinasi) belum ada yang jadi," tegas Purwono.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Alasan Harga Emas Justru Turun di Tengah Konflik

Alasan Harga Emas Justru Turun di Tengah Konflik

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 19:12 WIB

Anhar Sudradjat: Investasi Rumah Lebih Menguntungkan Dibanding Emas

Anhar Sudradjat: Investasi Rumah Lebih Menguntungkan Dibanding Emas

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 17:47 WIB

Purbaya Pamer Kondisi Ekonomi RI ke Investor AS, Minta Tak Ragu Investasi

Purbaya Pamer Kondisi Ekonomi RI ke Investor AS, Minta Tak Ragu Investasi

Bisnis | Selasa, 14 April 2026 | 16:35 WIB

Terkini

Dasco: DPR Malam Ini Lembur Kerjakan UU P2SK, Akan Difinalisasi Besok

Dasco: DPR Malam Ini Lembur Kerjakan UU P2SK, Akan Difinalisasi Besok

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 23:11 WIB

Dadan Hindayana Berencana MBG Dibagikan di Arab Saudi Sebelum Dicopot

Dadan Hindayana Berencana MBG Dibagikan di Arab Saudi Sebelum Dicopot

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 21:37 WIB

Neraca Perdagangan RI Surplus 72 Bulan Beruntun di April 2026, Tapi Terendah dalam 5 Tahun

Neraca Perdagangan RI Surplus 72 Bulan Beruntun di April 2026, Tapi Terendah dalam 5 Tahun

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:54 WIB

Impor RI Melonjak 25,21 Miliar USD April 2026, Sektor Migas Naik Tajam 82%

Impor RI Melonjak 25,21 Miliar USD April 2026, Sektor Migas Naik Tajam 82%

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:34 WIB

Premi Bisnis Baru Asuransi Jiwa Tumbuh 5 Persen

Premi Bisnis Baru Asuransi Jiwa Tumbuh 5 Persen

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:29 WIB

Demi Stok Tak Langka, ESDM Bisa Setiap Saat Stop Ekspor Perusahaan Migas

Demi Stok Tak Langka, ESDM Bisa Setiap Saat Stop Ekspor Perusahaan Migas

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:29 WIB

Asurasi Inhealth Ubah Identitas, Jamin Tak Kurangi Layanan ke Nasabah

Asurasi Inhealth Ubah Identitas, Jamin Tak Kurangi Layanan ke Nasabah

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:22 WIB

Perusahaan Logistik Gali Cuan Bisnis Jastip di Ajang PRJ

Perusahaan Logistik Gali Cuan Bisnis Jastip di Ajang PRJ

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:17 WIB

Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Web3 Bakal Mengubah Karier dan Bisnis Masa Depan

Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Web3 Bakal Mengubah Karier dan Bisnis Masa Depan

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:15 WIB

Dana Asing Hengkang Rp 1,37 T Meski IHSG Menguat, Saham Prajogo Pangestu Jadi Sasaran

Dana Asing Hengkang Rp 1,37 T Meski IHSG Menguat, Saham Prajogo Pangestu Jadi Sasaran

Bisnis | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:11 WIB