- PT SMI telah menyalurkan pembiayaan infrastruktur sebesar Rp 275 triliun selama 17 tahun untuk mendukung proyek senilai Rp 1.183 triliun.
- Kontribusi pendanaan tersebut berhasil menyerap 10,9 juta tenaga kerja serta memberikan dampak sebesar 0,5 persen terhadap PDB nasional.
- PT SMI mendorong kolaborasi dengan sektor swasta guna menutupi kesenjangan pendanaan infrastruktur nasional senilai 625 miliar Dolar AS.
Suara.com - PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI mengumumkan bahwa selama 17 tahun, mereka telah menyalurkan pembiayaan ke proyek infrastruktur sebesar Rp 275 triliun dengan akumulasi nilai proyek Rp 1.183 triliun.
Direktur Utama PT SMI Reynaldi Hermansjah mengatakan kalau pembiayaan dari lembaga di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ini berdampak pada 10,9 juta tenaga kerja hingga berkontribusi 0,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
"Kami percaya bahwa investasi pada infrastruktur yang berkualitas memiliki peran krusial dalam meningkatkan efisiensi ekonomi yaitu penurunan biaya, peningkatan produktivitas, percepatan arus barang dan jasa, serta mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif," katanya dalam acara simposium PT SMI di Ayana Midplaza, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Berdasarkan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, Reynaldi mengungkapkan kebutuhan investasi infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan diperkirakan mencapai 625 miliar Dolar AS.
Hanya saja kapasitas pendanaan dari anggaran Pemerintah, baik dari pusat maupun daerah, baru mampu memenuhi sekitar 40 persen dari total kebutuhan tersebut.
Ia melanjutkan, kebutuhan pendanaan ini menunjukkan bahwa pembiayaan publik yang bersifat konvensional tidak lagi cukup memadai. Untuk itu diperlukan inovasi pembiayaan yang lebih progresif melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, baik pusat maupun daerah, dengan sektor swasta dan lembaga pembiayaan pembangunan.
"Dalam konteks inilah, PT Sarana Multi Infrastruktur memiliki peran yang strategis sebagai development financial institution dalam menjembatani kesenjangan pendanaan infrastruktur, sekaligus mendorong hadirnya skema pembiayaan yang lebih inovatif," jelasnya.