- Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp17.228 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, 24 April 2026.
- Penguatan tersebut terjadi setelah Bank Indonesia melakukan intervensi aktif di pasar sekunder untuk menjaga mata uang.
- Kondisi mata uang Asia bervariasi dengan rupiah tetap berisiko tertekan akibat tingginya harga minyak mentah dunia.
Suara.com - Nilai tukar rupiah perlahan mulai bangkit pada penutupan Jumat, 24 April 2026. Hal Ini setelah Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi dengan mengguyur sejumlah dana.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup Rp 17.228 per dolar AS atau menguat 0,33 persen dari perdagangan Kamis (23/4/2026) di level Rp17.286.
Sementara itu kurs Jisdor melaporkan rupiah ada di level 17.278.
Sedangkan, mayoritas mata uang Asia bervariasi. Salah satunya dolar Taiwan ditutup menguat 0,19 persen. Disusul, ringgit Malaysia yang terangkat 0,09 persen.
Selanjutnya ada baht Thailand yang menguat 0,06 persen dan dolar Singapura terkerek 0,05 persen. Lalu yen Jepang menguat tipis 0,02 persen.

Sementara itu, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ditutup anjlok 0,39 persen.
Lalu ada won Korea Selatan terkikis 0,21 persen dan rupee India tergelincir 0,17 persen. Diikuti, dolar Hong Kong yang turun 0,05 persen. Kemudian, yuan China melemah tipis 0,04 persen terhadap the greenback di sore ini.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa Bank Indonesia terus mengintervensi rupiah agar tidak melemah lebih dalam.
"Intervensi BI, sehari sebelumnya Gubernur BI sudah menyampaikan akan mengintesifikasi imtervensi menjaga rupiah," katanya saat dihubungi Suara.com.
Lukman menuturkan, rupiah masih akan bisa tertekan dikarenakan harga minyak dunia yang mengalami peningkatan. Untuk itu, BI akan terus mengintervensi agar mata uang Garuda tidak melemah lebih dalam.
"Dengan indeks dolar AS, imbal hasil obligasi AS dan harga minyak mentah dunia yang masih tinggi, rupiah seharusnya masih tertekan. Penguatan ini bisa berlangsung sejauh BI terus mengintervensi," pungkasnya.