- Pasar properti 2026 lebih rasional dan didominasi pembeli kategori end-user.
- Stabilitas inflasi dan suku bunga KPR jadi kunci utama penentu permintaan rumah.
- Infrastruktur dan reputasi pengembang kini lebih dipertimbangkan dibanding sekadar harga.
Suara.com - Wajah pasar properti Indonesia di tahun 2026 tampil beda. Bukan lagi soal aksi borong impulsif seperti era booming masa lalu, kini pasar bergerak lebih tenang, terukur, dan berbasis kebutuhan riil (end-user driven).
Kebijakan moneter ketat dari bank sentral global dalam dua tahun terakhir memang memaksa pembiayaan properti menjadi lebih selektif. Namun, di tengah bayang-bayang suku bunga, secercah harapan muncul dari inflasi domestik yang mulai jinak, memberi napas bagi daya beli masyarakat.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai fundamental ekonomi nasional masih menjadi benteng utama. Menurutnya, konsumsi dan investasi dalam negeri tetap menjadi mesin pertumbuhan yang solid.
"Prospek ekonomi domestik kita masih cukup kuat. Prospek investasi dalam negeri juga masih cukup kuat," ujar Josua dalam Seminar Property Outlook bertajuk “Membaca Arah Perkembangan dan Peluang Pasar Properti di Tahun 2026” di Jakarta.
Josua menggarisbawahi bahwa stabilitas inflasi adalah kunci. Keputusan pemerintah menahan harga BBM bersubsidi dianggap sangat krusial dalam meredam gejolak harga yang bisa merembet ke sektor perbankan.
"Kalau inflasi terkendali, suku bunga juga diharapkan tidak naik banyak. Ini akan berpengaruh kepada KPR, karena 70 sampai 80 persen pembiayaan properti residensial ditopang oleh perbankan," imbuhnya.
Meski demikian, ia tak menampik adanya tantangan di kelas menengah. Kelompok penopang utama ini masih berjuang pulih sepenuhnya pascapandemi, dengan sebagian beralih ke sektor informal. Harapannya, kenaikan investasi dapat memicu penyerapan tenaga kerja yang nantinya mengerek daya beli properti.
Senada dengan Josua, pengamat properti Anton Sitorus melihat pasar saat ini memasuki fase yang lebih "dewasa". Jika dulu spekulasi merajalela, kini konsumen jauh lebih berhitung.
"Pasar properti hari ini lebih quiet, lebih rasional, dan lebih end-user driven," jelas Anton.
Ia memotret adanya ketimpangan performa antar segmen. Sektor industri kini menjadi primadona dan ritel mulai merangkak naik, sementara pasar apartemen masih merayap pelan. Di mata Anton, infrastruktur tetap menjadi "dewa penolong" bagi nilai properti.
"Infrastruktur itu silent multiplier. Konektivitas datang lebih dulu, baru harga mengikuti," tuturnya.
Menariknya, perilaku konsumen kini bergeser. Harga bukan lagi satu-satunya penentu. Reputasi pengembang, kualitas proyek, dan kemudahan akses transportasi publik menjadi variabel yang tidak bisa ditawar.
"Timing memang penting. Tetapi sekarang selection lebih penting. Lokasi, tipe proyek, dan siapa pengembangnya sangat dipertimbangkan," tutup Anton.