Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Apa Itu CNG? Ini Calon Pengganti LPG yang Diklaim Lebih Murah hingga 40 Persen!

Chyntia Sami Bhayangkara

Senin, 04 Mei 2026 | 10:32 WIB
Apa Itu CNG? Ini Calon Pengganti LPG yang Diklaim Lebih Murah hingga 40 Persen!
apa itu cng pengganti lpg (dibuat menggunakan AI)
  • Pemerintah Indonesia mendorong penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif energi rumah tangga pengganti LPG yang bergantung impor.
  • CNG adalah gas alam terkompresi bertekanan tinggi yang diklaim ramah lingkungan serta lebih efisien dibandingkan bahan bakar LPG.
  • Menteri ESDM menyatakan harga CNG berpotensi lebih murah 30 hingga 40 persen karena bersumber dari produksi dalam negeri.

Suara.com - Kamu mungkin mulai sering mendengar istilah CNG belakangan ini, apalagi saat pemerintah mencari cara untuk mengurangi ketergantungan pada LPG. Wacana ini muncul di tengah tantangan pasokan energi dan kebutuhan menjaga stabilitas harga di masyarakat.

Selama ini, LPG sudah jadi andalan utama untuk kebutuhan rumah tangga, terutama memasak. Tapi di balik kemudahannya, ada persoalan besar seperti impor yang masih tinggi dan tekanan terhadap anggaran negara.

Karena itu, pemerintah mulai melirik alternatif energi yang lebih berkelanjutan dan bisa diproduksi dari dalam negeri. Salah satu yang sedang dikaji serius adalah Compressed Natural Gas atau CNG.

Menariknya, selain disebut lebih ramah lingkungan, CNG juga diklaim punya potensi harga yang lebih murah. Bahkan, pemerintah menyebut selisihnya bisa mencapai puluhan persen dibanding LPG.

Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menegaskan bahwa pengembangan CNG merupakan solusi konkret. Foto ist
Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menegaskan bahwa pengembangan CNG merupakan solusi konkret. Foto ist

Apa Itu CNG Pengganti LPG?

Dinukil dari laman resmi Perusahaan Gas Negara (PGN), CNG atau Compressed Natural Gas adalah gas alam yang dikompresi pada tekanan sangat tinggi, biasanya di atas 200 bar. Proses kompresi ini membuat gas lebih padat sehingga lebih mudah disimpan dan didistribusikan ke berbagai wilayah.

Gas alam sendiri terdiri dari campuran hidrokarbon, seperti metana, etana, propana, dan butana. Dalam CNG, kandungan metana menjadi yang paling dominan, bahkan bisa mencapai lebih dari 95 persen.

Kalau dibandingkan dengan LPG, perbedaan utamanya ada pada bentuk dan cara penyimpanan. LPG merupakan campuran propana dan butana yang disimpan dalam bentuk cair, sementara CNG tetap dalam bentuk gas tetapi dengan tekanan tinggi.

Sementara itu, ada juga LNG (Liquefied Natural Gas) yang sama-sama berasal dari gas alam, namun didinginkan hingga suhu sangat rendah agar berubah menjadi cair. Jadi, meski sama-sama “gas,” cara pengolahan dan penyimpanannya berbeda.

Dalam praktiknya, CNG sebenarnya bukan hal baru. Bahan bakar ini sudah lama digunakan di sektor transportasi sebagai bahan bakar kendaraan, karena dinilai lebih bersih dan efisien.

Selain itu, CNG juga dimanfaatkan di sektor industri untuk mendukung proses produksi. Bahkan, penggunaannya mulai merambah ke sektor rumah tangga, seperti untuk memasak dan pemanas air.

Pemerintah pun mulai memperluas pemanfaatannya. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut CNG sudah digunakan di sejumlah hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bahlil Lahadalia di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (27/4/2026). [Suara.com/Novian Ardiansyah]
Bahlil Lahadalia di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (27/4/2026). [Suara.com/Novian Ardiansyah]

CNG Diklaim Lebih Murah 40 Persen

Salah satu alasan utama pemerintah mendorong penggunaan CNG adalah faktor harga. Dibandingkan LPG, biaya penggunaan CNG disebut bisa lebih hemat secara signifikan.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa ongkos CNG bisa lebih murah sekitar 30 hingga 40 persen dibanding LPG, khususnya untuk ukuran tabung rumah tangga seperti 3 kilogram.

Efisiensi ini tidak lepas dari sumber bahan bakunya yang berasal dari dalam negeri. Artinya, pemerintah tidak perlu terlalu bergantung pada impor seperti halnya LPG, yang selama ini masih didatangkan dari luar negeri dalam jumlah besar.

Selain itu, proses distribusi CNG yang berbasis jaringan atau pengangkutan tabung bertekanan juga dinilai bisa menekan biaya logistik dalam jangka panjang, terutama jika infrastrukturnya sudah matang.

Namun, klaim lebih murah ini tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur. Saat ini, jaringan distribusi CNG belum merata di seluruh wilayah Indonesia, sehingga pengembangannya membutuhkan investasi besar.

Di sisi lain, penggunaan CNG juga menawarkan keuntungan dari aspek lingkungan. Emisi gas buangnya lebih rendah dibandingkan bahan bakar konvensional, sehingga lebih ramah terhadap kualitas udara.

Meski begitu, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan. Selain infrastruktur, aspek keamanan penyimpanan gas bertekanan tinggi juga harus dipastikan agar aman digunakan di rumah tangga.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hilirisasi Digeber, RI Bidik Pangkas Impor BBM dan LPG hingga Rp1,25 Miliar per Tahun

Hilirisasi Digeber, RI Bidik Pangkas Impor BBM dan LPG hingga Rp1,25 Miliar per Tahun

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 15:41 WIB

Pemerintah Bebaskan Bea Impor LPG & Bahan Baku Plastik, Cegah Kenaikan Harga Makanan-Minuman

Pemerintah Bebaskan Bea Impor LPG & Bahan Baku Plastik, Cegah Kenaikan Harga Makanan-Minuman

Bisnis | Selasa, 28 April 2026 | 17:16 WIB

Selamat Tinggal Gas Melon, Bahlil Siapkan Alternatif Pengganti LPG

Selamat Tinggal Gas Melon, Bahlil Siapkan Alternatif Pengganti LPG

Lifestyle | Selasa, 28 April 2026 | 16:45 WIB

Terkini

DJP Klaim Anggaran Pajak Indonesia Lebih Murah dari China

DJP Klaim Anggaran Pajak Indonesia Lebih Murah dari China

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 18:34 WIB

Banyak yang Mundur dari Manajer Kopdes Merah Putih, Ada Denda Rp100 Juta hingga Penempatan Diacak?

Banyak yang Mundur dari Manajer Kopdes Merah Putih, Ada Denda Rp100 Juta hingga Penempatan Diacak?

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 18:31 WIB

B50 Resmi Meluncur Juli 2026, ESDM Pastikan Stok Minyak Goreng Tetap Aman

B50 Resmi Meluncur Juli 2026, ESDM Pastikan Stok Minyak Goreng Tetap Aman

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 18:21 WIB

Bos Baru Danantara dari WNA Tuai Polemik, Pakar: Yang Penting Kompeten, Bukan Paspor

Bos Baru Danantara dari WNA Tuai Polemik, Pakar: Yang Penting Kompeten, Bukan Paspor

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 18:15 WIB

Harga Pertamax Cs Berpotensi Turun, ESDM Beri Kabar Baik untuk Kantong Masyarakat

Harga Pertamax Cs Berpotensi Turun, ESDM Beri Kabar Baik untuk Kantong Masyarakat

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 17:51 WIB

Bea Cukai Ungkap BYD & Wuling Biang Kerok 10.000 Kontainer Menumpuk di Tanjung Priok

Bea Cukai Ungkap BYD & Wuling Biang Kerok 10.000 Kontainer Menumpuk di Tanjung Priok

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 17:47 WIB

90 Juta Produk UMKM RI Laku di Luar Negeri, Ternyata Ini Rahasianya

90 Juta Produk UMKM RI Laku di Luar Negeri, Ternyata Ini Rahasianya

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 17:46 WIB

Danantara Pegang Kendali Ekspor Sawit, Pemerintah Ubah Total Tata Kelola CPO Nasional

Danantara Pegang Kendali Ekspor Sawit, Pemerintah Ubah Total Tata Kelola CPO Nasional

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 17:25 WIB

Rupiah Terkapar ke Rp17.762 per Dolar AS, Investor Tunggu Putusan The Fed dan BI

Rupiah Terkapar ke Rp17.762 per Dolar AS, Investor Tunggu Putusan The Fed dan BI

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 16:53 WIB

Purbaya Bongkar Masalah Era Sri Mulyani, Pegawai Pajak dan Bea Cukai Sulit Kerja Sama

Purbaya Bongkar Masalah Era Sri Mulyani, Pegawai Pajak dan Bea Cukai Sulit Kerja Sama

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 16:41 WIB