- Konsumsi LPG nasional capai 8,6 juta ton, sebagian besar dipenuhi melalui keran impor.
- Pemerintah siapkan CNG berbahan dasar gas alam lokal sebagai substitusi utama LPG impor.
- Penggunaan gas domestik ini diyakini mampu wujudkan kemandirian energi di tengah ketidakpastian geopolitik.
Suara.com - Ketergantungan Indonesia terhadap gas melon segera berakhir lewat inovasi terbaru dari pemerintah. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kini menyiapkan gas CNG sebagai alternatif jitu pengganti LPG.
Langkah ini bukan sekadar wacana, melainkan wujud "survival mode" di tengah ancaman krisis energi global. Pemanfaatan sumber daya lokal menjadi tameng utama menjaga ketahanan energi nasional.
Faktanya, angka konsumsi gas tabung di Tanah Air menyentuh 8,6 juta ton per tahun. Mirisnya, hanya sekitar 1,7 juta ton yang murni diproduksi dari perut bumi pertiwi.
Senjata Rahasia Bebas Impor
![Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengaku tak tidur memikirkan pasokan LPG yang menipis. [Suara.com/Novian Ardiansyah].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/27/29933-bahlil-lahadalia-esdm.jpg)
Kekurangan pasokan tersebut selama ini masih sangat bergantung pada kebaikan negara lain. Oleh karena itu, pengoptimalan energi dari dalam negeri menjadi hal yang mutlak dilakukan.
Rencana pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) terus digodok secara intensif di lingkaran istana. Target utamanya adalah melepaskan diri dari belenggu impor yang membebani kas negara.
"Sekarang lagi masih dalam pembahasan, yang tadi saya laporkan, adalah kita membuat CNG," ujar Bahlil usai Rapat Terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta, Senin (27/4) dikutip dari ESDM.
"Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi, dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan," lanjutnya.
Potensi Raksasa Gas Lokal
Bahan baku gas terkompresi ini seratus persen berasal dari geliat industri dalam negeri. Komponen utamanya adalah gas cair C1 dan C2 yang didominasi metana serta etana.
Gas alam tersebut dicairkan terlebih dahulu demi mempermudah proses penyimpanan maupun pengangkutan harian. Tercatat sudah ada 57 badan usaha niaga yang siap mendukung ekosistem baru ini.
"Kalau CNG itu adalah dari gas, tapi dia dari gas cair C1, C2. Dan itu industri di dalam negeri kita banyak," jelasnya lagi.
"Tetapi dia memakai satu alat yang kemudian bisa ditekan sampai dengan 250 sampai 400 bar, tekanannya. Sehingga pemakaiannya itu bisa baik. Tapi sekali lagi ini masih dalam tahap konsolidasi agar kita bisa mencapai hasil yang lebih baik," imbuhnya.
Siap Masuk Dapur Warga?
Sebenarnya, wujud energi substitusi ini bukanlah barang asing di lanskap industri Indonesia. Berbagai sektor bisnis menengah hingga besar sudah lama mencicipi keandalannya.