Strategi Harm Reduction: Solusi Jitu Tekan Risiko Kesehatan dan Jaga Produktivitas Pekerja

Mohammad Fadil Djailani

Selasa, 05 Mei 2026 | 08:23 WIB
Strategi Harm Reduction: Solusi Jitu Tekan Risiko Kesehatan dan Jaga Produktivitas Pekerja
Pedagang menunjukkan bungkus rokok bercukai di Jakarta, Kamis (10/12/2020). [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar]
baca 10 detik
  • Solusi alternatif berbasis ilmiah untuk kurangi risiko kesehatan akibat rokok.
  • Beralih ke produk tanpa bakar perbaiki sel mulut dan indera perasa dalam 3 bulan.
  • Produk tembakau alternatif kurangi paparan zat beracun hingga 90% dibanding rokok.

Suara.com - Di tengah tuntutan pekerjaan yang kian tinggi, menjaga kebugaran dan fokus menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat urban. Salah satu isu yang terus mengemuka adalah pengelolaan risiko kesehatan akibat tingginya konsumsi tembakau. Kini, pendekatan Strategi Pengurangan Bahaya Tembakau atau Tobacco Harm Reduction (THR) mulai dilirik sebagai solusi alternatif untuk menurunkan prevalensi merokok di Indonesia.

Kolonel Laut (K) Dr. drg. Yun Mukmin A., Sp.Ort., menilai bahwa selama ini upaya menekan angka perokok yang hanya mengandalkan imbauan rutin dirasa kurang efektif. Menurutnya, diperlukan strategi yang lebih aplikatif dan berbasis bukti ilmiah agar penurunan angka perokok bisa terjadi secara signifikan.

"Kalau hanya sekadar imbauan, biasanya kurang mengena. Perlu ada strategi yang lebih jitu supaya prevalensi perokok itu menurun drastis. Maka penelitian dari akademisi bisa menjadi rujukan penting untuk menyusun program tersebut," ujar Yun Mukmin, dikutip Senin (4/5/2026).

Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Amaliya, mengungkapkan hasil penelitian terbarunya yang menunjukkan bahwa prevalensi merokok sangat tinggi di lingkungan dengan tingkat stres yang besar. Bagi banyak pekerja, merokok dianggap sebagai pelarian untuk menjaga fokus dan kewaspadaan.

Namun, Prof. Amaliya menegaskan bahwa rokok yang dibakar memiliki risiko kesehatan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, kehadiran produk tembakau alternatif menjadi sangat krusial dalam mengisi celah bagi perokok dewasa yang sulit berhenti total.

“Strategi tobacco harm reduction ini merupakan anjuran atau complementary. Memberikan dukungan terhadap program berhenti merokok yang tetap menjadi gold standard,” jelas Prof. Amaliya.

Ia menambahkan, dengan beralih ke produk alternatif, paparan zat beracun dapat ditekan hingga 90% karena mengeliminasi proses pembakaran yang menghasilkan TAR. Secara klinis, penelitian yang dilakukan bersama University of Catania, Italia, menunjukkan dampak positif yang cepat.

“Mereka yang beralih ke produk tembakau alternatif memperlihatkan perilaku sel yang normal. Dalam tiga bulan, peredaran darah gusi lancar kembali dan indera perasa di lidah kembali normal,” paparnya.

Dr. Yun Mukmin juga menyoroti bahwa zat berbahaya muncul dari proses pembakaran, bukan pada nikotin itu sendiri. Dengan teknologi yang dipanaskan, bukan dibakar, kebutuhan nikotin tetap terpenuhi namun dengan risiko yang jauh lebih rendah.

baca juga

"Solusinya, daripada meneruskan produk rokok dibakar yang risiko penyakitnya tinggi, kenapa tidak switch ke produk tembakau bebas asap yang bahayanya lebih rendah?" pungkas Prof. Amaliya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Paradoks Digital Nomad: Penyelamat Ekonomi atau Penjajahan Modern?

Paradoks Digital Nomad: Penyelamat Ekonomi atau Penjajahan Modern?

Your Say | Senin, 04 Mei 2026 | 19:55 WIB

Commuter Line Lumpuh di Jam Pulang Kantor, Penumpang Terjebak di Antara JurangmanguPondok Ranji

Commuter Line Lumpuh di Jam Pulang Kantor, Penumpang Terjebak di Antara JurangmanguPondok Ranji

News | Senin, 04 Mei 2026 | 17:33 WIB

Tanpa Perlindungan, Transisi Energi Ancam Hak Pekerja: Mengapa?

Tanpa Perlindungan, Transisi Energi Ancam Hak Pekerja: Mengapa?

News | Senin, 04 Mei 2026 | 17:35 WIB

Terkini

Ekspansi LRT ke JIS dan Halim, Pramono Minta Dukungan Danantara

Ekspansi LRT ke JIS dan Halim, Pramono Minta Dukungan Danantara

Video | Minggu, 20 September 2026 | 18:22 WIB

Bye Warna Kalem! Tren Cewek Buah Bikin Tampilan jadi Lebih Segar

Bye Warna Kalem! Tren Cewek Buah Bikin Tampilan jadi Lebih Segar

Your Say | Minggu, 20 September 2026 | 18:20 WIB

Terjebak Clickbait dan Misinformasi: Ketika Kecepatan Membunuh Ketelitian Membaca

Terjebak Clickbait dan Misinformasi: Ketika Kecepatan Membunuh Ketelitian Membaca

Your Say | Minggu, 20 September 2026 | 18:14 WIB

Andre Taulany Nikahi Amanda Rigby, Ungkap Pernikahan Direstui Orang Tua dan Anak

Andre Taulany Nikahi Amanda Rigby, Ungkap Pernikahan Direstui Orang Tua dan Anak

News | Minggu, 20 September 2026 | 18:14 WIB

5 Sunscreen Mengandung TXA untuk Memudarkan Flek Hitam Wanita

5 Sunscreen Mengandung TXA untuk Memudarkan Flek Hitam Wanita

Lifestyle | Minggu, 20 September 2026 | 18:08 WIB

Andre Taulany Akhirnya Buka Suara soal Pernikahan dengan Amanda Rigby

Andre Taulany Akhirnya Buka Suara soal Pernikahan dengan Amanda Rigby

Entertainment | Minggu, 20 September 2026 | 18:00 WIB

Dilema Perempuan Modern: Tuntutan Harus Mandiri dan Beban untuk Selalu Terlihat 'Proper'

Dilema Perempuan Modern: Tuntutan Harus Mandiri dan Beban untuk Selalu Terlihat 'Proper'

Your Say | Minggu, 20 September 2026 | 17:52 WIB

4 Calming Sunscreen Korea Lawan Kemerahan dan Dehidrasi pada Kulit Sensitif

4 Calming Sunscreen Korea Lawan Kemerahan dan Dehidrasi pada Kulit Sensitif

Your Say | Minggu, 20 September 2026 | 17:50 WIB

Dilema Atlet Pelajar: Saat Generasi Emas Dipaksa Memilih Antara Lapangan atau Kelas

Dilema Atlet Pelajar: Saat Generasi Emas Dipaksa Memilih Antara Lapangan atau Kelas

Your Say | Minggu, 20 September 2026 | 17:39 WIB

Boni Hargens Soroti Polri di Era Digital: Citizen Journalism Bisa Jadi Early Warning System

Boni Hargens Soroti Polri di Era Digital: Citizen Journalism Bisa Jadi Early Warning System

News | Minggu, 20 September 2026 | 17:33 WIB

×