Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.825.000
Beli Rp2.700.000
IHSG 6.858,899
LQ45 669,842
Srikehati 328,644
JII 449,514
USD/IDR 17.509

Harga Acuan Beras Dinilai Sudah Tak Realistis, Berapa Seharusnya?

Achmad Fauzi | Fakhri Fuadi Muflih | Suara.com

Kamis, 07 Mei 2026 | 17:45 WIB
Harga Acuan Beras Dinilai Sudah Tak Realistis, Berapa Seharusnya?
Pengamat menilai harga acuan beras sudah tidak realistis. [ANTARA].
  • Pengamat AEPI Khudori menyatakan harga gabah melampaui Harga Pembelian Pemerintah sehingga menekan industri perberasan nasional pada April 2026.
  • Produsen beras menghadapi dilema kerugian finansial karena biaya produksi tinggi namun tetap dibatasi oleh aturan Harga Eceran Tertinggi.
  • Pemerintah didorong segera mengevaluasi kebijakan HET agar regulasi lebih adaptif terhadap kenaikan harga gabah di berbagai wilayah Indonesia.

Suara.com - Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai kebijakan harga beras nasional menghadapi tekanan serius seiring terus naiknya harga gabah di tingkat petani dan penggilingan.

Ia menyebut Harga Eceran Tertinggi (HET) beras kini semakin sulit diterapkan secara realistis oleh pelaku usaha.

Menurut Khudori, ketidaksinkronan antara harga bahan baku dan batas harga jual membuat produsen beras berada dalam tekanan berat, bahkan berisiko terus merugi jika tetap mematuhi aturan HET.

"Ketika harga GKP di atas HPP, HET beras potensial terlampaui. Gabah adalah bahan baku beras. Ketika harga gabah tinggi, harga beras juga tinggi. Implikasinya, pelaku usaha akan kesulitan mematuhi HET," ujar Khudori kepada wartawan, Kamis (7/4/2026).

Petugas menata karung beras di Gudang Bulog Tambak Aji, Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/4/2026). [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/agr]
Pengamat menilai harga acuan beras sudah tidak realistis. [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/agr]

Ia menjelaskan, pemerintah menetapkan HET dengan asumsi harga gabah bergerak di sekitar Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Masalahnya, dalam praktik di lapangan, harga gabah justru terus berada di atas asumsi tersebut.

Khudori mencontohkan, harga gabah saat ini di sejumlah wilayah seperti Lampung dan Jawa Timur telah berada di kisaran Rp 7.400 hingga Rp 8.200 per kilogram, jauh di atas HPP Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kilogram.

"Untuk bisa menjual beras dengan kalkulasi seperti di atas, harga GKP maksimal Rp 6.500/kg dengan rendemen minimal 55,4 persen," katanya.

Dengan harga gabah yang lebih tinggi, biaya produksi otomatis ikut melonjak, sementara produsen tetap dibatasi oleh HET yang tidak berubah sebanding.

Menurut Khudori, persoalan paling terasa pada produsen beras premium maupun medium karena ruang margin makin sempit setelah memperhitungkan biaya penggilingan, kemasan, distribusi, dan operasional.

"Ketika harga gabah tinggi dan rendemen giling hanya berkisar 54-55 persen, produsen beras pasti tekor ketika menjual sesuai HET," katanya.

Ia menyebut kondisi tersebut menempatkan pelaku usaha pada situasi dilematis. Menjual di atas HET berpotensi dianggap melanggar, namun menjual sesuai HET berarti harus menanggung kerugian.

"Apabila menjual di atas HET akan dinilai melanggar dan dapat dikenai sanksi. Sebaliknya, jika tetap menjual di bawah HET kerugian akan terus menggerogoti keuangan perusahaan," ucap Khudori.

Khudori juga menyoroti ketimpangan kebijakan harga antara beras medium dan premium. Dalam beberapa tahun terakhir, HET beras medium mengalami kenaikan cukup besar, sementara premium dinilai tidak mendapat penyesuaian serupa.

"Kalau HET beras medium dikoreksi karena kenaikan harga bahan baku gabah, mengapa koreksi serupa tidak dilakukan pada HET beras premium?" katanya.

Menurut dia, kebijakan harga yang tidak adaptif terhadap perubahan struktur biaya berpotensi menekan industri perberasan dari hulu ke hilir, terutama penggilingan kecil dan produsen bermerek.

Khudori menilai evaluasi terhadap HET menjadi penting agar regulasi tetap melindungi konsumen tanpa mematikan pelaku usaha. "Situasi ini amat dilematis bagi pelaku usaha," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pengusaha Beras Pusing, Harga Gabah Tembus Rp 8.200 per Kg

Pengusaha Beras Pusing, Harga Gabah Tembus Rp 8.200 per Kg

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 13:15 WIB

Waduh! Harga Beras dan Cabai Rawit 'Ngamuk' di Pasar Tradisional Pagi Ini

Waduh! Harga Beras dan Cabai Rawit 'Ngamuk' di Pasar Tradisional Pagi Ini

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 09:40 WIB

Cabai Turun Tajam hingga 10%, Harga Beras Justru Naik Tipis Hari Ini

Cabai Turun Tajam hingga 10%, Harga Beras Justru Naik Tipis Hari Ini

Bisnis | Rabu, 15 April 2026 | 08:30 WIB

Terkini

Harga Sembako Naik Hari Ini : Cabai Rp88 Ribu, Beras Premium Rp21 Ribu per Kg

Harga Sembako Naik Hari Ini : Cabai Rp88 Ribu, Beras Premium Rp21 Ribu per Kg

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 10:30 WIB

Harga Minyak Kembali Turun, Diprediksi Bertahan di Atas 80 Dolar AS hingga Akhir Tahun

Harga Minyak Kembali Turun, Diprediksi Bertahan di Atas 80 Dolar AS hingga Akhir Tahun

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 10:15 WIB

Pegadaian Gelar Operasi Katarak Gratis, 300 Peserta Ikuti Screening dan 125 Orang Jalani Operasi

Pegadaian Gelar Operasi Katarak Gratis, 300 Peserta Ikuti Screening dan 125 Orang Jalani Operasi

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05 WIB

Harga Emas Antam Berbalik Anjlok, Hari Ini Dipatok Rp 2.839.000/Gram

Harga Emas Antam Berbalik Anjlok, Hari Ini Dipatok Rp 2.839.000/Gram

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43 WIB

Pasar Kripto Ambyar! Inflasi Meledak, Bitcoin dan Altcoin Kompak Terkapar

Pasar Kripto Ambyar! Inflasi Meledak, Bitcoin dan Altcoin Kompak Terkapar

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:40 WIB

Pengangguran Masih 7,24 Juta Orang, Masalahnya Bukan Sekadar Minim Lowongan

Pengangguran Masih 7,24 Juta Orang, Masalahnya Bukan Sekadar Minim Lowongan

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:37 WIB

Emiten MDLA Bagikan Dividen Tunai Rp 176,56 Miliar

Emiten MDLA Bagikan Dividen Tunai Rp 176,56 Miliar

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32 WIB

Di Depan Investor Global, Purbaya Pamer Tuntaskan 45 Masalah Hambatan Investasi RI

Di Depan Investor Global, Purbaya Pamer Tuntaskan 45 Masalah Hambatan Investasi RI

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:27 WIB

IHSG Dibuka Langsung Anjlok ke Level 6.700 Setelah Rebalancing MSCI

IHSG Dibuka Langsung Anjlok ke Level 6.700 Setelah Rebalancing MSCI

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:15 WIB

Genjot Pendapatan, Emiten CASH Siap Hadapi Tantangan Industri Pembayaran Digital

Genjot Pendapatan, Emiten CASH Siap Hadapi Tantangan Industri Pembayaran Digital

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 09:14 WIB