Harga Beras Meroket! Pemerintah Gandeng 'Raksasa' Pangan Turun Gunung, Ada Apa?

Mohammad Fadil Djailani, Fakhri Fuadi Muflih

Jum'at, 08 Mei 2026 | 19:27 WIB
Harga Beras Meroket! Pemerintah Gandeng 'Raksasa' Pangan Turun Gunung, Ada Apa?
Perum Bulog bersama pemerintah terus memperkuat strategi pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah melalui peningkatan serapan dalam negeri, distribusi yang merata, serta penguatan sistem logistik pangan (Dok: Bulog)
baca 10 detik
  • Pemerintah gandeng BUMN dan swasta percepat stabilisasi pasokan serta harga beras nasional.
  • Beras SPHP jadi instrumen utama bendung kenaikan harga di berbagai wilayah Indonesia.
  • HKTI nilai harga gabah Rp6.500/kg sudah ideal bagi petani, namun biaya produksi kian naik.

Suara.com - Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mempercepat langkah pengendalian harga beras dengan merangkul seluruh lini dalam rantai pasok pangan. Kolaborasi ini melibatkan Perum Bulog, pelaku usaha penggilingan (PERPADI), petani (HKTI), hingga ritel modern (APRINDO) guna memastikan kelancaran distribusi dan stabilitas harga di pasar.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa pemerintah memerlukan data riil dari lapangan untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran. "Kami ingin mendapatkan informasi yang jelas dari pelaku usaha dan petani mengenai kondisi sebenarnya, sehingga kebijakan yang diambil sesuai dengan dinamika pasar," ujarnya dalam pertemuan di Jakarta, Jumat (8/5/2026).

Dalam upaya menahan laju harga, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tetap menjadi senjata utama. Ketua Umum PERPADI, Sutarto Alimoeso, menyarankan agar distribusi SPHP dilakukan secara fleksibel dan efektif mengikuti fluktuasi harga. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan persaingan pembelian gabah agar harga di tingkat hulu tidak melonjak liar.

Di sisi produsen, Wakil Ketua Umum DPN HKTI, Mulyono Machmur, menyebutkan bahwa harga Gabah Kering Panen (GKP) saat ini, yang berada di kisaran Rp6.500 per kilogram, sudah sangat ideal bagi kesejahteraan petani. "Angka ini sudah cukup bagus dan patut dipertahankan untuk menjaga semangat produksi petani," jelasnya.

Namun, tantangan muncul dari sisi biaya produksi. Pelaku usaha mengeluhkan kenaikan harga bahan baku, biaya distribusi, hingga kemasan yang menekan margin usaha. Menanggapi hal ini, perwakilan PERPADI, Budiman, mengusulkan agar pemerintah melakukan evaluasi berkala terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET) guna menyesuaikan dengan struktur biaya aktual di lapangan.

Melalui sinergi ini, pemerintah optimis pasokan beras tetap aman dan lonjakan harga dapat segera diredam demi menjaga daya beli masyarakat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Harga Acuan Beras Dinilai Sudah Tak Realistis, Berapa Seharusnya?

Harga Acuan Beras Dinilai Sudah Tak Realistis, Berapa Seharusnya?

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 17:45 WIB

Jadi "Patrick Otak Besar": Strategi Survival Saat Gaji Habis Ditelan Harga Beras

Jadi "Patrick Otak Besar": Strategi Survival Saat Gaji Habis Ditelan Harga Beras

Your Say | Kamis, 07 Mei 2026 | 17:05 WIB

Pengusaha Beras Pusing, Harga Gabah Tembus Rp 8.200 per Kg

Pengusaha Beras Pusing, Harga Gabah Tembus Rp 8.200 per Kg

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 13:15 WIB

Terkini

Program 1 Polis 1 Mangrove Generali Tembus 20.000 Pohon

Program 1 Polis 1 Mangrove Generali Tembus 20.000 Pohon

Foto | Jum'at, 25 September 2026 | 05:00 WIB

Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?

Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 23:37 WIB

28 PPKS di Karawang Jalani Asesmen untuk Penanganan Lanjutan

28 PPKS di Karawang Jalani Asesmen untuk Penanganan Lanjutan

Jabar | Kamis, 24 September 2026 | 23:31 WIB

Dua Yoni Situs Pocangan Jember Hilang, DPRD Desak Perlindungan Cagar Budaya Diperkuat

Dua Yoni Situs Pocangan Jember Hilang, DPRD Desak Perlindungan Cagar Budaya Diperkuat

Jatim | Kamis, 24 September 2026 | 23:11 WIB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:57 WIB

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 22:45 WIB

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

News | Kamis, 24 September 2026 | 22:08 WIB

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:01 WIB

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 21:59 WIB

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 21:56 WIB

×