- Habibie memakai logika aeronautika untuk atasi Rupiah yang anjlok ke Rp16.800.
- Lewat kebijakan terukur, Rupiah menguat signifikan hingga level Rp6.500.
- Fokus utama Habibie adalah pulihkan trust pasar dan independensi dari IMF.
Suara.com - Sejarah mencatat tahun 1998 sebagai periode paling kelam ekonomi Indonesia. Nilai tukar Rupiah yang semula berada di level Rp2.500 per dolar AS terjun bebas hingga menyentuh titik nadir Rp16.800.
Krisis ini memicu inflasi hebat, kebangkrutan massal sektor perbankan, hingga kerusuhan sosial yang mengakhiri era Orde Baru.
Di tengah puing-puing ekonomi tersebut, Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie naik takhta menjadi Presiden RI ke-3 pada 21 Mei 1998. Meski banyak ekonom meragukan kapasitasnya karena latar belakangnya sebagai insinyur penerbangan, Habibie justru berhasil melakukan keajaiban ekonomi dengan membawa Rupiah menguat tajam hingga ke level Rp6.500 per dolar AS.

Alih-alih menggunakan teori ekonomi statis, Habibie menggunakan logika Aeronautical (kedirgantaraan) untuk menyelamatkan Rupiah. Ia melihat kondisi ekonomi Indonesia saat itu layaknya pesawat yang sedang mengalami stall atau kondisi di mana pesawat kehilangan daya angkat karena moncong yang terlalu mendongak, sehingga terancam jatuh bebas.
Ekonom Umar Juoro menjelaskan bahwa Habibie memandang fluktuasi Rupiah sebagai turbulensi udara. Untuk mencegah pesawat (ekonomi) hancur berantakan (crash), Habibie fokus pada prinsip keseimbangan antara gaya angkat dan gravitasi. Dalam konteks ekonomi, "gaya angkat" tersebut adalah kepercayaan (trust) dan kredibilitas pasar.
Salah satu langkah berani Habibie adalah caranya bernegosiasi dengan IMF. Saat itu, krisis kepercayaan telah menjalar hingga terjadi aksi rush (penarikan uang besar-besaran) di perbankan.
Habibie menyadari bahwa masalah Indonesia bukan sekadar hitungan angka, melainkan emosi dan kepercayaan masyarakat. Untuk mengembalikan stabilitas, pemerintahannya mengambil langkah strategis dengan menjamin 100% simpanan nasabah di bank untuk menghentikan kepanikan, menaikkan suku bunga deposito hingga 60% untuk menarik minat pasar dan melkaukan restrukturisasi perbankan melalui penggabungan bank-bank yang sakit.
"Saya tahu kami butuh kredibilitas," tegas Habibie saat itu menanggapi tekanan IMF. Hasilnya, meski masa jabatannya singkat, tangan dingin sang teknokrat berhasil membuat ekonomi Indonesia melakukan soft landing dan keluar dari zona kritis.