- Perum Bulog akan mengekspor beras ke Malaysia dengan harga di atas Rp16.000 per kilogram demi keuntungan petani.
- Perwakilan Bulog dan Kementerian Pertanian dijadwalkan berkunjung ke Sarawak setelah Idul Adha 2026 untuk menyepakati detail teknis.
- Kebijakan ekspor ini dilaksanakan atas arahan Presiden Prabowo untuk memperkuat posisi perdagangan pangan serta meningkatkan penerimaan negara.
Suara.com - Perum Bulog memastikan harga ekspor beras Indonesia ke Malaysia akan dipatok di atas harga eceran tertinggi (HET) domestik.
Kebijakan tersebut disiapkan untuk meningkatkan keuntungan petani sekaligus memperkuat penerimaan negara dari sektor pangan.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan penentuan harga ekspor dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia tidak menjual beras terlalu murah di pasar internasional.
“Karena sesuai arahan Bapak Presiden (Prabowo Subianto) kemarin harga yang kita ekspor harus menguntungkan untuk petani, untuk bangsa dan negara kita,” ujar Rizal dilansir dari laman Antara, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Rizal, harga ekspor beras Indonesia ke Malaysia berpotensi lebih tinggi dibandingkan penawaran awal dari pihak Malaysia yang berada di kisaran Rp16.000 per kilogram.
“Ya, insya Allah seperti itu ya, harga ekspor beras di atas Rp16.000 per kilogram,” katanya.
![Pekerja memikul karung berisi beras saat bongkar muat di Gudang Bulog Ternate, Maluku Utara, Senin (6/4/2026). [ANTARA FOTO/Andri Saputra/sgd]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/06/51119-stok-beras-nasional-cadangan-beras-nasional-bulog.jpg)
Bulog bersama tim dari Kementerian Pertanian dijadwalkan melakukan kunjungan ke Sarawak, Malaysia, usai Idul Adha 2026.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk membahas detail ekspor beras Indonesia, termasuk jumlah kebutuhan dan harga final yang akan disepakati kedua negara.
“Rencana habis Idul Adha ini dalam waktu dekat kami akan ke Sarawak Insya Allah dengan tim dari Kementerian Pertanian untuk sekaligus memastikan berapa jumlahnya dan berapa harga fiksnya,” ucap Rizal.
Selain membahas harga, kedua pihak juga akan menentukan skema distribusi beras. Bulog membuka peluang pengiriman dilakukan langsung dari pelabuhan ke pelabuhan atau pembelian dilakukan pihak Malaysia melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
“Nanti kita setelah diskusi di sana (Malaysia). Apakah kita port to port atau mereka langsung beli di kita di Pelabuhan Priok,” jelasnya.
Harga Ekspor Masih Dibahas dengan Menteri Pertanian
Meski optimistis ekspor segera terealisasi, Rizal menegaskan Bulog masih akan berkoordinasi dengan jajaran internal, termasuk direktur pemasaran serta Menteri Pertanian yang juga menjabat Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman.
Menurutnya, pembahasan tersebut penting untuk menentukan harga terbaik sebelum ekspor resmi dilakukan.
“Ini untuk minta petunjuk yang terbaik seperti apa,” kata Rizal.
Indonesia Ingin Perkuat Posisi di Pasar Pangan Regional
![Stok beras pemerintah mencapai 4 juta ton berkat penyerapan hasil panen petani sejak awal 2026. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/14/71961-stok-beras-pemerintah.jpg)
Bulog menilai rencana ekspor beras ke Malaysia menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan pangan regional.
Langkah ini juga dinilai dapat membuka peluang peningkatan nilai tambah sektor pertanian nasional.
Saat ini, HET beras premium di Indonesia berada di kisaran Rp14.900 hingga Rp15.800 per kilogram, tergantung wilayah penjualan sesuai regulasi Badan Pangan Nasional.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sempat menyinggung langsung rencana ekspor beras Indonesia saat peluncuran 1.061 gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Prabowo meminta Bulog memastikan harga beras ekspor tidak dijual murah agar memberikan keuntungan maksimal bagi negara dan petani Indonesia.