- Nilai tukar dolar AS tetap stabil pada level 99,00 karena pasar menanti hasil perundingan perdamaian konflik Timur Tengah.
- Keputusan gencatan senjata Iran dan laporan data pekerjaan AS menjadi faktor penentu utama pergerakan mata uang global.
- Normalisasi lalu lintas Selat Hormuz berpotensi menurunkan harga minyak serta memulihkan pengaruh suku bunga terhadap indeks dolar AS.
Suara.com - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil meskipun mengalami penurunan mingguan. Hal ini disebabkan oleh pasar menunggu hasil pembicaraan damai di Timur Tengah.
Salah satunya, mengenai waktu kenaikan suku bunga bank sentral .Selain itu, data pekerjaan AS di akhir pekan akan menjadi fokus karena para pejabat Federal Reserve mengisyaratkan bahwa bank sentral AS mungkin perlu menaikkan suku bunga jika perang mempercepat inflasi yang sudah tinggi.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia akan segera memutuskan kesepakatan yang diusulkan untuk memperpanjang gencatan senjata Iran. Tentunya isu ini membuat mata uang lainnya bisa menguat termasuk Indonesia.
"USD akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan perang AS-Iran dan laporan data non-farm payrolls AS untuk bulan Mei," kata Joseph Capurso, kepala FX di Commonwealth Bank of Australia dilansir Reuters, Senin (1/6/2026).
Indeks dolar AS terhadap sekeranjang mata uang termasuk yen dan euro, tetap stabil di 99,00, setelah penurunan 0,4 persen pekan lalu.
Hal ini terlihat, kesepakatan yang diusulkan akan memperpanjang gencatan senjata AS-Iran selama 60 hari dan memungkinkan lalu lintas kembali melalui jalur air tersebut.
![Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. [istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/76171-donald-trump.jpg)
Selain itu, kondisi normal selat Hormuz merupakan jalur bagi seperlima pengiriman minyak mentah dan LNG global bisa memberikan sentimen positif pada investor.
"Setelah Selat dibuka kembali, seiring waktu harga minyak akan turun dan suku bunga akan kembali menjadi pengaruh yang lebih besar terhadap USD," tandasnya.