- Himbara minta BI jamin 100% likuiditas yuan untuk skema LCT.
- Rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS, tekanan pasar meningkat.
- Transaksi LCT Indonesia-China tembus US$3,7 miliar per bulan.
Suara.com - Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) meminta dukungan Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas Djiwandono untuk menyediakan likuiditas yuan dalam skema Local Currency Trade (LCT) Indonesia-China guna memperkuat transaksi bilateral di tengah pelemahan rupiah terhadap mata uang asing.
Permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Perwakilan Himbara yang juga Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Putrama Wahju Setyawan, kepada Thomas Djiwandono dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR RI pada Selasa kemarin.
Menurut Putrama, keterlibatan bank-bank nasional dalam skema LCT tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan likuiditas penuh dari BI. Karena itu, Himbara meminta otoritas moneter menyediakan jaminan ketersediaan yuan bagi perbankan yang nantinya menjadi pelaksana transaksi perdagangan Indonesia-China menggunakan mata uang lokal.
"Ada sebuah syarat yang saya sampaikan kepada Pak Thomas Djiwandono, yaitu bahwa bank di dalam negeri nanti yang akan terlibat dalam LCT ini membutuhkan 100% dukungan likuiditas CNY atau yuan dari Bank Indonesia," ujar Putrama dalam rapat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Pernyataan tersebut muncul di tengah tekanan besar terhadap rupiah. Berdasarkan data perdagangan, nilai tukar rupiah sempat ditutup di level Rp17.839 per dolar AS dan terus bergerak menuju level Rp18.000 yang selama ini dianggap sebagai batas psikologis penting bagi pasar.
LCT Jadi Senjata Kurangi Ketergantungan Dolar
Putrama menjelaskan, penguatan kerja sama LCT dengan China menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional. Mengingat nilai perdagangan Indonesia dan China sangat besar, penggunaan mata uang lokal dinilai mampu mengurangi kebutuhan dolar sekaligus meredam tekanan terhadap rupiah.
Pengembangan skema tersebut juga tidak hanya melibatkan BI dan bank-bank nasional, tetapi akan didukung oleh tiga bank sentral, yakni Bank Indonesia, Bank Sentral China, dan Bank Sentral Hong Kong.
"Kita memahami bahwa beberapa transaksi kita cukup besar dengan China, sehingga saat ini kami mengembangkan bersama BI local currency trade yang akan melibatkan tiga otoritas bank sentral," kata Putrama.
Bank Indonesia sebelumnya mengungkapkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral Indonesia-China terus meningkat signifikan. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut nilai transaksi LCT kedua negara pada tahun lalu telah melampaui US$25 miliar.
Sementara sepanjang tahun ini, nilai transaksi bulanan bahkan sudah mencapai sekitar US$3,7 miliar. Angka tersebut menunjukkan semakin banyak pelaku usaha yang beralih menggunakan yuan dan rupiah dibanding dolar AS dalam aktivitas perdagangan dan investasi.
BI juga telah memperluas kerja sama dengan sejumlah bank serta otoritas moneter China agar transaksi yuan dapat dilakukan langsung di Indonesia. Dengan demikian, pelaku usaha kini dapat melakukan transaksi yuan dalam berbagai instrumen, mulai dari spot, swap hingga forward.