- Alumni Geografi UGM, Novita Anggraeni, sukses mendirikan perusahaan minyak telon merek Habbie sejak tahun 2022.
- Bisnis produk perawatan bayi tersebut kini telah merambah pasar Asia Tenggara dan meraih berbagai penghargaan bergengsi.
- Novita menerapkan kerangka berpikir strategis dan manajerial dari bangku kuliah untuk mengembangkan operasional serta pemasaran perusahaan.
Suara.com - Banyak orang mungkin mengira kuliah menentukan jalan hidup seseorang. Lulusan teknik dianggap harus menjadi insinyur, anak hukum bekerja di firma hukum, sementara mahasiswa geografi identik dengan peta dan tata wilayah.
Namun, anggapan itu tidak berlaku untuk Novita Anggraeni. Alumni Program Studi Pembangunan Wilayah, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu justru memilih jalan yang jauh dari bayangan kebanyakan orang.
Alih-alih bekerja di sektor pemerintahan atau perencanaan wilayah, Novita kini sukses membangun perusahaan minyak telon dan minyak kayu putih dengan merek Habbie sejak 2022.

Menariknya, bisnis yang dirinya bangun kini tak hanya dipasarkan di Indonesia, tetapi mulai menjangkau pasar Asia Tenggara, seperti ke Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand.
Kemudian, berbagai penghargaan bergengsi tingkat nasional juga telah didapatkan oleh Habbie.
Mulai dari Rekor MURI sebagai Brand Minyak Telon dengan Varian Terbanyak di Dunia, Indonesia Brand Excellence Award 2024 atas komitmen tinggi dalam menghadirkan produk berkualitas, hingga Indonesia Brand Champion 2023 karena tingginya inovasi dan dominasi produk di kategori perawatan bayi.

Meski bergerak di bidang yang berbeda dari jurusan kuliahnya, Novita merasa ilmu yang didapat selama kuliah tetap memiliki peran besar dalam perjalanan bisnisnya.
Menurutnya, kuliah bukan sekadar belajar teori teknis, melainkan cara berpikir dan membangun kerangka penyelesaian masalah.
“Kalau geografi itu best practice. Kuliah itu bukan hanya ilmu alat. Kalau hanya ilmu alat, nanti kami dipahami orang yang bikin peta,” ujar Novita kepada Suara.com.

Dirinya menjelaskan bahwa di Program Studi Pembangunan Wilayah memang banyak belajar tentang perencanaan, pemetaan, hingga pengembangan kawasan. Namun, yang paling penting justru kemampuan membaca persoalan dan menyusun strategi.
Cara berpikir seperti itulah yang ternyata bisa diterapkan dalam dunia bisnis. Seperti konsep membuat peta dan perencanaan wilayah mirip dengan menyusun strategi pemasaran perusahaan.
“Kalau di prodiku itu Pengembangan Wilayah, nanti dianggap cocoknya bikin perencanaan kota atau kerja di birokrat seperti Bappeda dan Bappenas,” kata Novita.
“Tapi kalau kita cuma memahami ilmu alam, terlalu sempit lapangan pekerjaannya. Padahal kita bisa melihat framework-nya saja. Framework bisa kita pakai di mana pun,” ujar eks penulis itu.
“Misal tadi peta, kalau di sales itu ada sales plan. Sales kalau mau kunjungan bikin roadmap-nya, biar tidak boncos. Itu sebenarnya banyak aplikasinya,” lanjut Novita.
Selama kuliah, Novita juga belajar mengenai konsep perencanaan wilayah yang pada praktiknya sangat dekat dengan kemampuan manajerial dalam menjalankan perusahaan.