Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.760.000
Beli Rp2.630.000
IHSG 5.941,066
LQ45 588,991
Srikehati 289,797
JII 354,441
USD/IDR 17.926

Misi Gagal Total, AS-Israel Memilih Berdamai dengan Iran di Tengah Gempuran

M Nurhadi

Kamis, 04 Juni 2026 | 08:01 WIB
Misi Gagal Total, AS-Israel Memilih Berdamai dengan Iran di Tengah Gempuran
Kolase Trump-Netanyahu [Suara.com]
  • AS dan Israel sedang menyusun kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran untuk meredam krisis di Selat Hormuz.
  • Kesepakatan tersebut mencakup pelonggaran sanksi ekonomi dan pencairan aset Iran sebagai imbalan atas penghentian blokade maritim global.
  • Perjanjian taktis ini tidak menyelesaikan akar konflik utama seperti program nuklir dan rudal balistik milik negara Iran.

Suara.com - Operasi militer skala besar yang diluncurkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel awalnya dirancang untuk meruntuhkan rezim Republik Islam Iran. Namun, alih-alih tumbang, kedua belah pihak yang bertikai kini justru bergerak mendekati kesepakatan sementara.

Perjanjian ini diproyeksikan akan meninggalkan Iran dalam kondisi babak belur secara ekonomi, namun tidak sampai hancur total.

Berdasarkan rincian kesepakatan awal yang dibeberkan oleh sejumlah sumber yang familier dengan jalannya perundingan, Iran akan keluar dari perang ini dengan kondisi finansial yang porak-poranda serta basis industri militernya yang terdegradasi parah.

Harga minyak mentah merespon hal ini dengan penurunan tipis di angka US$95, sementara Brent di kisaran US$97.

Kendati demikian, dominasi kelompok garis keras Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) justru dinilai akan semakin tertancap kuat dalam konstelasi politik Teheran dibandingkan masa sebelum perang.

Sejumlah diplomat, pejabat, dan analis kawasan Timur Tengah menilai bahwa memorandum penghentian perang yang akan disepakati dalam waktu dekat ini bukanlah sebuah terobosan perdamaian yang abadi, melainkan hanya sebuah gencatan senjata jangka pendek.

Hasil akhir dari perundingan ini dipandang murni sebagai transaksi taktis demi membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, meredam tekanan ekonomi di pasar finansial global, serta memberikan ruang bagi Presiden AS Donald Trump untuk menarik diri secara politis dari perang, sembari menunda pembahasan isu-isu krusial yang lebih rumit di masa mendatang.

"Ada keberhasilan militer taktis yang luar biasa, namun sama sekali tidak ada keuntungan strategis yang fundamental. Tidak ada satu pun berkas masalah yang benar-benar telah diselesaikan," ujar Dennis Ross, mantan diplomat senior Amerika Serikat dalam analisisnya.

Sejak serangan udara bersama AS-Israel ditekankan ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu, Donald Trump menegaskan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk melenyapkan ancaman nyata dari program nuklir dan rudal balistik Iran. Namun, cetak biru memorandum baru yang bocor menunjukkan adanya kompromi yang sangat pragmatis.

Di bawah nota kesepahaman tersebut, Iran bersedia mencabut blokade maritim di Selat Hormuz—yang merupakan urat nadi pasokan minyak mentah global.

Sebagai imbalannya, Teheran akan diberikan pelonggaran sanksi ekonomi terbatas serta pencairan aset-aset keuangan mereka yang selama ini dibekukan di luar negeri.

Bagi pejabat Iran, kesepakatan sempit ini dipandang sebagai strategi cerdas untuk membeli waktu, memulihkan stabilitas domestik, dan meredam gejolak ekonomi warga lokal tanpa harus menyerah pada isu kedaulatan yang sensitif.

Di sisi lain, Trump yang juga fokus pada persiapan Pemilihan Umum Paruh Waktu (Midterm Elections) Kongres AS pada November mendatang, membutuhkan pernyataan resmi yang dapat diklaim sebagai keberhasilan dalam menekan stok uranium kadar tinggi Iran.

Meskipun demikian, akar utama konflik sebenarnya tetap tidak tersentuh. Iran tetap menolak menghentikan program pengayaan uranium, Washington enggan memberikan jaminan keamanan, dan Israel tetap bersikap agresif terhadap musuh yang dianggap sebagai ancaman eksistensial tersebut.

Dua sumber regional mengungkapkan bahwa Trump kemungkinan besar hanya akan membawa pulang kesepakatan gencatan senjata berdurasi pendek dengan klausul nuklir yang multitafsir. Sementara itu, kendali atas Selat Hormuz dinilai akan tetap berada di tangan militer Teheran.

"Terlepas dari bagaimana struktur biaya lintasan kapal diatur nantinya, perairan tersebut secara de facto akan tetap di bawah kendali Iran," ungkap salah satu analis kawasan, dikutip via Reuters.

Pemerintah AS bahkan dikabarkan mulai melonggarkan tuntutan terkait pembongkaran rudal balistik Iran, meskipun hal ini memicu kekhawatiran mendalam bagi Israel dan negara-negara Arab di kawasan Teluk.

Hambatan terbesar saat ini adalah tuntutan Iran yang mengaitkan damai Selat Hormuz dengan keharusan Israel menghentikan gempuran terhadap Hizbullah di Libanon.

Trump sendiri mulai melunak dan mendesak Israel untuk menahan diri dari membombardir kota Beirut, karena khawatir eskalasi di Libanon dapat merusak meja perundingan Selat Hormuz.

Sebagai langkah awal, Iran menegaskan pencairan dana beku sebesar USD 12 miliar harus dieksekusi terlebih dahulu sebelum langkah diplomasi lainnya berjalan. Namun, langkah ini rentan mengundang kritik domestik bagi Trump karena dianggap meniru kebijakan mantan Presiden Barack Obama pada tahun 2015 silam.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Disebut Orang Gila oleh Trump, Benjamin Netanyahu: Kami Tetap Sahabat

Disebut Orang Gila oleh Trump, Benjamin Netanyahu: Kami Tetap Sahabat

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 07:56 WIB

Lebanon Pilih Jalur Diplomasi untuk Akhiri Konflik dengan Israel

Lebanon Pilih Jalur Diplomasi untuk Akhiri Konflik dengan Israel

Video | Rabu, 03 Juni 2026 | 23:00 WIB

Penampakan Bandara Internasional Kuwait Luluh Lantak Dihantam Drone Iran

Penampakan Bandara Internasional Kuwait Luluh Lantak Dihantam Drone Iran

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 19:04 WIB

Donald Trump Beberkan Alasan Maki Benjamin Netanyahu Orang Gila

Donald Trump Beberkan Alasan Maki Benjamin Netanyahu Orang Gila

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 18:53 WIB

Strategi Bertahan di Tengah Rupiah yang Semakin Jatuh ke Jurang

Strategi Bertahan di Tengah Rupiah yang Semakin Jatuh ke Jurang

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 18:26 WIB

Timnas Iran Segera Kantongi Visa Jelang Piala Dunia 2026

Timnas Iran Segera Kantongi Visa Jelang Piala Dunia 2026

Bola | Rabu, 03 Juni 2026 | 17:39 WIB

Terkini

LRT Jakarta Fase 1B Masuki Tahap Uji Coba, Waskita Karya Catat Progres Konstruksi 93,07 Persen

LRT Jakarta Fase 1B Masuki Tahap Uji Coba, Waskita Karya Catat Progres Konstruksi 93,07 Persen

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 07:55 WIB

Risiko Besar jika Rupiah Tembus Rp18.000, Siapa yang Dirugikan?

Risiko Besar jika Rupiah Tembus Rp18.000, Siapa yang Dirugikan?

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 07:45 WIB

Digitalisasi di Desa Pleret Bantul, Warga Bisa Urus Layanan Kalurahan Lewat HP dari Rumah

Digitalisasi di Desa Pleret Bantul, Warga Bisa Urus Layanan Kalurahan Lewat HP dari Rumah

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 07:43 WIB

Moody's Beri Prospek Negatif, Fitch dan S&P Anggap Danantara 'Stabil': Ini Alasannya

Moody's Beri Prospek Negatif, Fitch dan S&P Anggap Danantara 'Stabil': Ini Alasannya

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 07:35 WIB

Kegagalan Investasi TaniHub Risiko Bisnis, Bukan Tindak Pidana

Kegagalan Investasi TaniHub Risiko Bisnis, Bukan Tindak Pidana

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 01:05 WIB

Eks Dirut BVI Bantah Terima Kickback dari Investasi TaniHub

Eks Dirut BVI Bantah Terima Kickback dari Investasi TaniHub

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 23:41 WIB

TASPEN Cepat Kilat, 99 Persen Pensiunan Terima Gaji Ke-13 di Hari Pertama Tanpa Potongan

TASPEN Cepat Kilat, 99 Persen Pensiunan Terima Gaji Ke-13 di Hari Pertama Tanpa Potongan

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 22:13 WIB

Asuransi Astra Rayakan Eksistensi 70 Tahun dengan ACTION! dan Apresiasi Pewarta 2026

Asuransi Astra Rayakan Eksistensi 70 Tahun dengan ACTION! dan Apresiasi Pewarta 2026

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 21:38 WIB

RUU P2SK Disepakati, Besok Dibawa ke Paripurna

RUU P2SK Disepakati, Besok Dibawa ke Paripurna

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 20:46 WIB

Pengamat: Pengusaha Jangan Baru Ribut Saat DSI Bereskan Tata Kelola Ekspor

Pengamat: Pengusaha Jangan Baru Ribut Saat DSI Bereskan Tata Kelola Ekspor

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 19:42 WIB