Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.740.000
Beli Rp2.605.000
IHSG 6.220,740
LQ45 625,233
Srikehati 305,996
JII 376,405
USD/IDR 17.748

Strategi Bertahan di Tengah Rupiah yang Semakin Jatuh ke Jurang

Achmad Fauzi

Rabu, 03 Juni 2026 | 18:26 WIB
Strategi Bertahan di Tengah Rupiah yang Semakin Jatuh ke Jurang
Nilai Tukar rupiah masih merosot, strategi apa yang harus dilakukan. [Suara.com/Alfian Winanto]
  • Nilai tukar rupiah melemah hingga mencapai Rp 17.965 per dolar AS pada Juni 2026 akibat meningkatnya permintaan mata uang tersebut.
  • Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu investor mencari dolar AS sebagai aset investasi yang aman.
  • Pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok dan penurunan daya beli masyarakat di berbagai sektor ekonomi.

Suara.com - Nilai tukar rupiah masih jatuh ke jurang, bahkan semakin dalam. Nasib mata uang Garuda kini masih belum menentu karena mendapat tekanan dari berbagai sentimen.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan hari ini rupiah terkapar mendekati level Rp18.000 per dolar AS, atau berada di posisi Rp17.965 per dolar AS.

Pelemahan rupiah ini terjadi secara terus-menerus sejak awal tahun. Hingga Juni 2026, depresiasi nilai tukar rupiah telah mencapai 4,28 persen.

Loyonya rupiah tentu memberikan efek berantai ke berbagai sektor, terutama terhadap harga-harga kebutuhan konsumsi masyarakat.

Alasan Mendasar Rupiah Loyo

Ilustrasi - Nilai rupiah melemah, Dolar Amerika terus naik. (Suara.com)
Ilustrasi - Nilai rupiah melemah, Dolar Amerika terus naik. (Suara.com)

Banyak faktor yang menyebabkan rupiah merosot tajam. Namun, hal yang paling mendasar adalah tingginya permintaan terhadap dolar AS.

Pengamat mata uang Ariston Tjendra menjelaskan, kondisi perang yang masih penuh ketidakpastian membuat investor mencari aset valuta asing yang dianggap paling kuat dan menguntungkan, salah satunya dolar AS.

Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS meningkat dan mendorong penguatan mata uang tersebut. Kondisi ini sesuai dengan hukum ekonomi, di mana kenaikan permintaan akan mendorong kenaikan harga.

"Situasi masih belum beres di Timur Tengah, masih belum jelas apakah perdamaian akan terjadi dalam waktu dekat. AS dan Iran masih terlihat saling serang. Dengan situasi ini, dolar AS masih kuat sebagai aset safe haven," ujarnya saat dihubungi Suara.com, Rabu (3/6/2026).

Sampai Kapan Rupiah Melemah?

Tidak ada yang bisa memastikan sampai kapan nilai tukar rupiah akan terus melemah. Namun, Ariston memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut.

Apalagi, konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda menuju kesepakatan damai. Kondisi tersebut membuat investor terus mencari instrumen investasi yang lebih aman.

"Soal pelemahan sampai berapa, ya tetap terbuka selama faktor pemicu utama belum hilang. Rupiah melemah ke Rp 18.000-Rp 18.500 masih terbuka," imbuhnya.

Dampak Pelemahan Rupiah

Sejumlah Pekerja beraktivitas saat jam pulang kantor di Kawasan Sarinah, Jakarta, Rabu (24/12/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Sejumlah Pekerja beraktivitas saat jam pulang kantor di Kawasan Sarinah, Jakarta, Rabu (24/12/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Pelemahan rupiah bukan tanpa dampak. Efeknya bahkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat kelas menengah dan bawah.

Indonesia masih bergantung pada impor untuk sejumlah kebutuhan. Karena itu, ketika nilai tukar rupiah melemah, harga berbagai barang berpotensi ikut naik.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut harga barang konsumsi dan bahan bakar minyak (BBM) berpotensi meningkat. Dampaknya, masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam berbelanja yang pada akhirnya mencerminkan melemahnya daya beli.

Menurut Ibrahim, gejala pelemahan daya beli sudah mulai terlihat. Salah satunya dari banyaknya pusat perbelanjaan atau toko yang sepi pengunjung.

"Sekarang itu berbeda sekali dengan yang dulu. Pada saat rupiah masih di Rp16.000, tetapi pada saat mendekati Rp18.000 ini sangat terasa. Nah kemungkinan besar di bulan Juli itu harga-harga ini akan kembali mengalami kenaikan," ucapnya.

Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?

Masyarakat sebenarnya tidak perlu terlalu risau menghadapi pelemahan rupiah. Ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk mengelola keuangan di tengah kondisi tersebut.

Ibrahim menyarankan agar masyarakat mulai menekan pengeluaran yang tidak perlu. Untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat sebaiknya membeli secukupnya dan tidak melakukan penimbunan atau belanja berlebihan.

Menurut dia, perubahan perilaku konsumsi ini sudah mulai terlihat di kalangan pekerja kantoran. Banyak yang kini memilih membawa bekal makanan dari rumah dibanding membeli makan di luar.

"Artinya apa? Mereka kumpul di kantin, mereka bawa bekal sendiri dan mereka makan di situ. Hanya membeli mungkin ala kadarnya yang ada di kantin. Nah ini sudah ada perubahan-perubahan yang cukup mendalam," katanya.

Kesimpulannya, masyarakat tetap memiliki berbagai pilihan untuk menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah. Yang terpenting adalah mengelola pengeluaran secara bijak, menghindari perilaku konsumtif, serta menyiapkan dana cadangan untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menkeu Purbaya Ramal Rupiah Menguat 3 Bulan Lagi

Menkeu Purbaya Ramal Rupiah Menguat 3 Bulan Lagi

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 16:34 WIB

Rupiah Nyaris Jebol ke Rp18.000! Himbara Ramai-ramai Tunjuk Thomas Djiwandono, Ada Apa?

Rupiah Nyaris Jebol ke Rp18.000! Himbara Ramai-ramai Tunjuk Thomas Djiwandono, Ada Apa?

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 16:25 WIB

Rupiah Selangkah Lagi Masuk Jurang Rp18.000, Investor Asing Ramai-Ramai Hengkang dari RI

Rupiah Selangkah Lagi Masuk Jurang Rp18.000, Investor Asing Ramai-Ramai Hengkang dari RI

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 15:53 WIB

Terkini

DJP Klaim Anggaran Pajak Indonesia Lebih Murah dari China

DJP Klaim Anggaran Pajak Indonesia Lebih Murah dari China

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 18:34 WIB

Banyak yang Mundur dari Manajer Kopdes Merah Putih, Ada Denda Rp100 Juta hingga Penempatan Diacak?

Banyak yang Mundur dari Manajer Kopdes Merah Putih, Ada Denda Rp100 Juta hingga Penempatan Diacak?

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 18:31 WIB

B50 Resmi Meluncur Juli 2026, ESDM Pastikan Stok Minyak Goreng Tetap Aman

B50 Resmi Meluncur Juli 2026, ESDM Pastikan Stok Minyak Goreng Tetap Aman

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 18:21 WIB

Bos Baru Danantara dari WNA Tuai Polemik, Pakar: Yang Penting Kompeten, Bukan Paspor

Bos Baru Danantara dari WNA Tuai Polemik, Pakar: Yang Penting Kompeten, Bukan Paspor

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 18:15 WIB

Harga Pertamax Cs Berpotensi Turun, ESDM Beri Kabar Baik untuk Kantong Masyarakat

Harga Pertamax Cs Berpotensi Turun, ESDM Beri Kabar Baik untuk Kantong Masyarakat

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 17:51 WIB

Bea Cukai Ungkap BYD & Wuling Biang Kerok 10.000 Kontainer Menumpuk di Tanjung Priok

Bea Cukai Ungkap BYD & Wuling Biang Kerok 10.000 Kontainer Menumpuk di Tanjung Priok

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 17:47 WIB

90 Juta Produk UMKM RI Laku di Luar Negeri, Ternyata Ini Rahasianya

90 Juta Produk UMKM RI Laku di Luar Negeri, Ternyata Ini Rahasianya

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 17:46 WIB

Danantara Pegang Kendali Ekspor Sawit, Pemerintah Ubah Total Tata Kelola CPO Nasional

Danantara Pegang Kendali Ekspor Sawit, Pemerintah Ubah Total Tata Kelola CPO Nasional

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 17:25 WIB

Rupiah Terkapar ke Rp17.762 per Dolar AS, Investor Tunggu Putusan The Fed dan BI

Rupiah Terkapar ke Rp17.762 per Dolar AS, Investor Tunggu Putusan The Fed dan BI

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 16:53 WIB

Purbaya Bongkar Masalah Era Sri Mulyani, Pegawai Pajak dan Bea Cukai Sulit Kerja Sama

Purbaya Bongkar Masalah Era Sri Mulyani, Pegawai Pajak dan Bea Cukai Sulit Kerja Sama

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 16:41 WIB