- Nilai tukar rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS akibat akumulasi tekanan faktor eksternal serta domestik yang terjadi.
- Pelemahan rupiah memicu kenaikan harga barang impor, biaya energi, serta inflasi yang menurunkan daya beli masyarakat secara signifikan.
- Ekonom menyarankan masyarakat mengelola keuangan dengan memprioritaskan kebutuhan pokok, menyediakan dana darurat, serta membatasi pinjaman berbunga tinggi.
Suara.com - Nilai tukar rupiah masih terus meloyo, bahkan hampir menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS. Kondisi ini memberikan kekhawatiran terhadap masyarakat, karena harga barang-barang akan mengalami kenaikan, yang berimbas pada meningkatnya pengeluaran.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan masyarakat tidak perlu panik jika rupiah bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Menurutnya, yang terpenting adalah memahami dampak yang mungkin muncul terhadap pengeluaran rumah tangga dan menyesuaikan strategi keuangan sejak dini.
"Menurut saya, pelemahan rupiah yang semakin dekat ke Rp 18.000 per dolar AS bukan disebabkan satu faktor tunggal, melainkan akumulasi tekanan eksternal dan domestik yang terjadi bersamaan," ujar Josua Pardede saat dihubungi Suara.com, Kamis (4/6/2026).
Dampak Rupiah Melemah
![Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/19/33926-nilai-tukar-rupiah-ilustrasi-dolar-ilustrasi-dollar-ilustrasi-rupiah.jpg)
Ia menjelaskan, tekanan terbesar berasal dari kombinasi harga minyak dunia yang masih tinggi, kuatnya dolar AS, serta melemahnya surplus perdagangan Indonesia.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan dolar meningkat, sementara pasokan devisa dari perdagangan semakin menipis.
Josua menuturkan pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga berbagai barang yang bergantung pada bahan baku impor. Mulai dari elektronik, alat kesehatan, obat-obatan, komponen otomotif hingga energi dapat mengalami kenaikan biaya.
"Jika pelemahan rupiah berlanjut, dampak pertama adalah kenaikan biaya impor. Barang konsumsi impor, bahan baku industri, obat, alat kesehatan, mesin, komponen otomotif, elektronik, dan energi akan menjadi lebih mahal," jelasnya.
Tak hanya itu, tekanan terhadap inflasi juga berpotensi meningkat. Menurut Josua, biaya logistik dan energi yang lebih mahal pada akhirnya bisa diteruskan ke harga barang dan jasa yang dibayar masyarakat.
"Dampak kedua adalah tekanan inflasi, terutama jika harga minyak tetap tinggi dan biaya logistik naik," jelasnya.
Siasat Atur Keuangan
Karena itu, Josua menyarankan masyarakat mulai memperkuat ketahanan keuangan rumah tangga.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah memprioritaskan kebutuhan pokok dan menunda pembelian barang konsumsi yang tidak mendesak, terutama produk impor yang rentan mengalami kenaikan harga.
Selain itu, masyarakat juga perlu memastikan dana darurat tersedia untuk menghadapi potensi kenaikan biaya hidup dalam beberapa bulan ke depan. Diversifikasi investasi juga dinilai penting agar risiko akibat gejolak pasar dapat diminimalkan.
Menurut Josua, masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap peningkatan beban pinjaman. Sebab, pelemahan rupiah yang disertai kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya kredit.
"Dampak ketiga adalah tekanan terhadap dunia usaha, karena perusahaan yang punya pinjaman valas atau bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi biaya lebih tinggi. Dampak keempat adalah penurunan daya beli masyarakat, karena harga barang naik sementara cicilan dan bunga kredit berpotensi ikut naik setelah BI menaikkan BI Rate," pungkasnya.