Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.760.000
Beli Rp2.630.000
IHSG 5.941,066
LQ45 588,991
Srikehati 289,797
JII 354,441
USD/IDR 17.926

Rupiah Akhirnya Jebol ke Rp18.000, Purbaya Tak Mau Disalahkan

Mohammad Fadil Djailani

Kamis, 04 Juni 2026 | 08:43 WIB
Rupiah Akhirnya Jebol ke Rp18.000, Purbaya Tak Mau Disalahkan
Rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS untuk pertama kali. Foto ist.
  • Rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS untuk pertama kali.
  • Purbaya bantah fiskal jadi biang kerok pelemahan rupiah.
  • BI perketat transaksi valas dan genjot penggunaan mata uang lokal.

Suara.com - Nilai tukar rupiah akhirnya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional. Namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak jika pelemahan rupiah dikaitkan dengan kondisi fiskal pemerintah.

Berdasarkan data Investing pada Kamis (4/6/2026), kurs dolar AS menguat 49,4 basis poin atau 0,28 persen menjadi Rp18.015. Sepanjang perdagangan, mata uang Negeri Paman Sam bergerak dalam rentang Rp17.937 hingga Rp18.024.

Data Google Finance juga menunjukkan dolar AS sempat menyentuh Rp18.010 pada pukul 06.23 WIB sebelum kembali turun ke kisaran Rp17.971. Sementara data Bloomberg mencatat dolar menguat 0,71 persen secara harian dan terakhir berada di level Rp17.966.

Menanggapi pelemahan rupiah yang semakin mendekati bahkan menembus level Rp18.000 per dolar AS, Purbaya menilai faktor utama berasal dari sentimen pasar dan berbagai rumor yang berkembang dalam beberapa hari terakhir.

"Kalau kita lihat kan tiba-tiba aja penguatannya, pelemahannya 1-2 hari ini kan. Karena ada isu macam-macam, ada rumor macam-macam di pasar," ujar Purbaya.

Pernyataan tersebut sekaligus membantah tudingan sebagian pelaku pasar yang menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari memburuknya kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut Purbaya, kondisi fiskal Indonesia justru menunjukkan perbaikan. Ia memastikan laporan APBN Mei 2026 akan memperlihatkan kondisi yang lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya.

"Anda pasti menuduh kebijakan fiskal, kan? Banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan. Nanti ada update fiskal bulanan. Bulan Mei membaik dibanding April," katanya.

Purbaya menegaskan pemerintah saat ini fokus menjaga fundamental ekonomi nasional. Ia percaya pergerakan rupiah dalam jangka panjang akan mengikuti kekuatan ekonomi domestik.

"Pada akhirnya kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya. Jadi fokus saya di situ," ujarnya.

Purbaya Lempar Bola ke BI

Menariknya, Purbaya juga menegaskan belum ada kebutuhan untuk menggelar rapat darurat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna membahas pelemahan rupiah. Menurutnya, pengelolaan nilai tukar masih menjadi wilayah kewenangan Bank Indonesia (BI).

"Pertama itu kan jurisdiksi Bank Sentral untuk menjaga nilai tukar. Itu biar mereka jalan dulu," kata Purbaya.

Meski demikian, ia membuka peluang koordinasi lebih intensif apabila tekanan terhadap rupiah semakin besar dan membutuhkan langkah bersama antara pemerintah dan otoritas moneter.

BI Siaga Penuh Jaga Rupiah

Sebelumnya, Bank Indonesia memastikan terus berada di pasar untuk meredam gejolak nilai tukar dan menjaga kecukupan likuiditas valuta asing.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan bank sentral akan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan ketahanan eksternal Indonesia.

"BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas," kata Denny.

Sebagai langkah pengendalian, sejak 2 Juni 2026 BI telah menerapkan batas transaksi pembelian valuta asing tunai terhadap rupiah tanpa underlying maksimal US$25.000 per pelaku per bulan.

Selain itu, BI terus memperluas penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT) dengan sejumlah negara mitra seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Tembusnya level Rp18.000 per dolar AS menjadi alarm baru bagi perekonomian Indonesia. Di tengah derasnya arus keluar modal asing dan ketidakpastian global, pasar kini menunggu efektivitas langkah Bank Indonesia serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BI Ikut Urus Sektor Riil dan Ciptakan Lapangan Kerja di RUU P2SK, Purbaya Akui Tiru AS

BI Ikut Urus Sektor Riil dan Ciptakan Lapangan Kerja di RUU P2SK, Purbaya Akui Tiru AS

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:14 WIB

Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD, Begini Cara Melindungi Keuangan Keluarga

Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD, Begini Cara Melindungi Keuangan Keluarga

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:04 WIB

IHSG Anjlok Karena Investor Ragukan Kredibilitas Kebijakan Pemerintah

IHSG Anjlok Karena Investor Ragukan Kredibilitas Kebijakan Pemerintah

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 18:48 WIB

Terkini

Purbaya Klaim Kemenkeu Ikut Laporkan Kasus Korupsi Eks Kepala BGN Dadan Hindayana

Purbaya Klaim Kemenkeu Ikut Laporkan Kasus Korupsi Eks Kepala BGN Dadan Hindayana

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:42 WIB

Bukan Cuma soal Gizi, Prabowo Ungkap Dampak Ekonomi Dahsyat Kalau MBG Berjalan Benar

Bukan Cuma soal Gizi, Prabowo Ungkap Dampak Ekonomi Dahsyat Kalau MBG Berjalan Benar

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:41 WIB

Emiten SMMT dan MGRO Beri Komentar Soal DSI

Emiten SMMT dan MGRO Beri Komentar Soal DSI

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:33 WIB

BI Ikut Urus Sektor Riil dan Ciptakan Lapangan Kerja di RUU P2SK, Purbaya Akui Tiru AS

BI Ikut Urus Sektor Riil dan Ciptakan Lapangan Kerja di RUU P2SK, Purbaya Akui Tiru AS

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:14 WIB

Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD, Begini Cara Melindungi Keuangan Keluarga

Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD, Begini Cara Melindungi Keuangan Keluarga

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:04 WIB

Misi Gagal Total, AS-Israel Memilih Berdamai dengan Iran di Tengah Gempuran

Misi Gagal Total, AS-Israel Memilih Berdamai dengan Iran di Tengah Gempuran

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 08:01 WIB

LRT Jakarta Fase 1B Masuki Tahap Uji Coba, Waskita Karya Catat Progres Konstruksi 93,07 Persen

LRT Jakarta Fase 1B Masuki Tahap Uji Coba, Waskita Karya Catat Progres Konstruksi 93,07 Persen

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 07:55 WIB

Risiko Besar jika Rupiah Tembus Rp18.000, Siapa yang Dirugikan?

Risiko Besar jika Rupiah Tembus Rp18.000, Siapa yang Dirugikan?

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 07:45 WIB

Digitalisasi di Desa Pleret Bantul, Warga Bisa Urus Layanan Kalurahan Lewat HP dari Rumah

Digitalisasi di Desa Pleret Bantul, Warga Bisa Urus Layanan Kalurahan Lewat HP dari Rumah

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 07:43 WIB

Moody's Beri Prospek Negatif, Fitch dan S&P Anggap Danantara 'Stabil': Ini Alasannya

Moody's Beri Prospek Negatif, Fitch dan S&P Anggap Danantara 'Stabil': Ini Alasannya

Bisnis | Kamis, 04 Juni 2026 | 07:35 WIB