- BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia April 2026 surplus 89,1 juta dolar AS, angka terendah dalam enam tahun terakhir.
- Pemerintah menyatakan penurunan surplus terjadi karena lonjakan impor bahan bakar minyak sebesar 82,52 persen secara tahunan di Indonesia.
- Secara kumulatif periode Januari hingga April 2026, surplus neraca perdagangan Indonesia tetap tumbuh 5,48 persen dibanding tahun lalu.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara soal surplus neraca perdagangan Indonesia yang melemah pada April 2026. Bahkan surplus ini menjadi terendah dalam enam tahun terakhir.
Meskipun surplus 72 beruntun, Menkeu Purbaya beralasan kalau rendahnya surplus neraca perdagangan RI dikarenakan tingginya impor Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Indonesia.
"Ini kita berlanjut terus untuk 72 berturut-turut, walaupun agak turun sedikit di bulan April ya, karena pasti karena impor BBM-nya meningkat," katanya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Namun jika dihitung secara periode year to date (ytd), surplus neraca perdagangan Indonesia meningkat 5,48 persen pada Januari hingga April 2026.
"Secara year to date Januari sampai April, itu naik 5,48 persen dibanding tahun lalu," imbuhnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus 89,1 juta Dolar AS per April 2026. Capaian ini membuat neraca perdagangan RI surplus selama 72 bulan beruntun sejak April 2020.
![Deretan truk tangki pengangkut bbm terparkir di lapangan Pelindo Makassar. Kendaraan tersebut menjadi barang bukti kasus penyalahgunaan BBM subsidi dari Sulsel ke Kalimantan Tengah [SuaraSulsel.id/Lorensia Clara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/02/41818-truk-pengangkut-bbm.jpg)
Meski begitu, surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 menjadi yang terendah sejak Mei 2020 alias lima tahun lalu. Dibandingkan Maret 2026 misalnya, surplus ini jauh lebih sedikit dengan angka 3,32 miliar Dolar AS.
"Jadi surplus April 2026 ini merupakan surplus terkecil sejak Mei 2020 atau selama surplus 72 bulan berturut-turut," kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini dalam konferensi pers yang disiarkan virtual, Selasa (2/6/2026).
Di sisi lain BPS juga mengungkapkan kalau nilai impor Indonesia per April 2026 melonjak tajam hingga 25,21 miliar Dolar AS atau naik 22,49 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari April 2025.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini merinci kalau nilai impor migas mencapai 4,60 miliar Dolar AS atau naik 82,52 persen yoy.
Menurutnya, kenaikan impor migas ini terjadi dari peningkatan impor minyak mentah sebesar 67,49 persen dan impor hasil minyak 87,76 persen.
"Kenaikan impor migas 82,52 persen ini disebabkan oleh peningkatan nilai impor minyak mentah yaitu 67,49 persen," katanya dalam konferensi pers yang disiarkan virtual, Selasa (2/6/2026).
Adapun tiga negara besar yang memasok minyak mentah ke Indonesia adalah Nigeria, Brasil, dan Kazakhstan. Sementara negara pemasok hasil minyak ke RI adalah Malaysia, Singapura, dan Mesir.
Sedangkan nilai impor non-migas per April 2026 naik 20,62 miliar Dolar AS atau mengalami peningkatan 14,11 persen yoy.
"Peningkatan nilai impor secara tahunan ini didorong oleh peningkatan impor non-migas dengan andil peningkatan sebesar 12,39 persen," imbuhnya.
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga April 2026, total nilai impor Indonesia mencapai 86,51 miliar USD atau naik 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Nilai impor migas tercatat senilai 12,93 miliar USD atau naik 17,58 persen. Sementara nilai impor non-migas tercatat senilai 73,58 miliar USD atau naik 12,70%.