- Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.200 dan Pertamax Green menjadi Rp17.000 per liter mulai saat ini.
- Kenaikan harga BBM ini memicu migrasi konsumen ke Pertalite, risiko inflasi, hingga penurunan daya beli masyarakat kelas menengah.
- Masyarakat disarankan mengatur ulang pola keuangan, mengelola pengeluaran secara bijak, serta memanfaatkan dana darurat untuk menghadapi kenaikan biaya.
Suara.com - Derita masyarakat Indonesia terus bertambah setiap harinya. Setelah pelemahan rupiah yang membuat harga-harga melambung, kini harga Pertamax mulai mengalami kenaikan.
Dalam pengumumannya, Pertamina menaikkan sejumlah harga BBM nonsubsidi, terutama harga Pertamax dan Pertamax Green.
Harga Pertamax dibanderol Rp16.200 per liter atau mengalami kenaikan Rp3.900 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter.
Sedangkan harga Pertamax Green naik Rp4.900 per liter dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.
Pastinya, kenaikan harga Pertamax ini secara tiba-tiba memberikan dampak terhadap masyarakat. Apalagi, kenaikan ini tidak diikuti oleh kenaikan pendapatan.
Deretan Dampak
![Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU di Jakarta, Rabu (10/6/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/10/13632-kenaikan-harga-bbm-ilustrasi-harga-bbm-ilustrasi-spbu.jpg)
Menurut Pengamat Energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, ada dua dampak umum yang akan terjadi dalam waktu dekat, di antaranya:
- Migrasi dari Pertamax ke BBM subsidi Pertalite. Imbasnya, beban APBN untuk subsidi semakin besar.
- Stok Pertalite akan langka jika tidak ada penambahan setelah adanya peralihan konsumsi akibat kenaikan harga Pertamax.
Selain itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) juga membuat pernyataan mengenai dampak kenaikan harga BBM, yaitu:
- Daya beli bisa melemah, di mana kelompok masyarakat kelas menengah menjadi kelompok yang paling terdampak karena tidak menikmati subsidi BBM namun harus menanggung kenaikan harga Pertamax.
Tak hanya pengamat, para ibu rumah tangga dan pekerja juga merasakan dampak jika harga BBM mengalami kenaikan, di antaranya:
- Bisa terjadi inflasi yang membuat harga bahan pokok melonjak. Imbas biaya logistik meroket akibat harga Pertamax naik.
- Ada migrasi dari kendaraan pribadi ke transportasi umum karena biaya perjalanan akan meningkat.
Apa yang Harus Dilakukan
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat harus jitu mengatur keuangan. Jangan sampai pengeluaran melebihi pendapatan yang berakhir dengan utang sana-sini.
Perencana keuangan Mike Rini saat dihubungi Suara.com memberikan tips yang bisa dilakukan masyarakat ketika harga BBM naik dan rupiah melemah, yaitu:
- Jangan Panik
Mike meminta masyarakat untuk tidak panik secara berlebihan, dan tentunya harus menganalisis dampak dari kenaikan harga Pertamax. - Atur Pola Keuangan
Setelah menganalisis pengeluaran, Mike menganjurkan masyarakat untuk kembali mengatur pola keuangan. Misalnya membagi anggaran untuk biaya hidup, keinginan, dan tabungan. - Kurangi Makan di Restoran/Kafe
Mike juga menyarankan untuk mengurangi konsumsi di luar rumah seperti di restoran atau kafe. - Cari Pendanaan Lain
Jika memang defisit atau pengeluaran lebih besar dibanding pendapatan, Mike mengatakan masyarakat bisa mencari pendanaan lain seperti paylater. Namun, diingatkan untuk tetap menyesuaikan dengan kemampuan bayar. - Miliki Dana Darurat
Mike menjelaskan dana darurat sangat penting karena bisa digunakan untuk menambal pengeluaran yang membengkak. - Punya Asuransi
Asuransi penting untuk menjaga kesehatan jasmani maupun mental di tengah kondisi seperti ini.