- Harga BBM naik 37%, kendaraan listrik dinilai jadi solusi penghematan.
- Sebanyak 98% masyarakat mendukung percepatan transisi kendaraan listrik.
- Industri siap, AISMOLI desak pemerintah beri kepastian kebijakan EV.
Suara.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga sekitar 37 persen yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 menjadi pukulan baru bagi masyarakat. Di tengah tekanan biaya hidup dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, beban pengeluaran rumah tangga untuk transportasi diperkirakan semakin berat.
Namun di balik lonjakan harga BBM tersebut, pelaku industri melihat adanya peluang besar untuk mempercepat transisi menuju kendaraan listrik nasional.
Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) menilai kondisi saat ini merupakan momentum yang tepat bagi pemerintah untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik secara masif. Setiap kendaraan listrik yang menggantikan kendaraan berbahan bakar minyak dinilai mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi sekaligus menekan beban subsidi yang selama ini menguras APBN.
Berdasarkan riset INDEF 2025, hampir 20 persen pengeluaran rumah tangga digunakan untuk kebutuhan kendaraan, mulai dari pembelian, perawatan, pajak hingga bahan bakar. Kenaikan harga BBM membuat komponen pengeluaran tersebut menjadi semakin sensitif terhadap daya beli masyarakat.
Ketua Umum AISMOLI Budi Setiyadi mengatakan kondisi saat ini harus dimanfaatkan sebagai peluang strategis untuk mendorong percepatan elektrifikasi transportasi.
"Hasil survei ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah siap, memahami manfaatnya, dan menantikan percepatan transisi energi di bidang transportasi. Bagi pemerintah, ini bukan beban, melainkan peluang untuk memimpin perubahan yang didukung mayoritas masyarakat," kata Budi.
Optimisme AISMOLI bukan tanpa dasar. Survei Litbang Kompas yang dilakukan pada April 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar menunjukkan tingkat dukungan masyarakat terhadap kendaraan listrik berada pada level tertinggi.
Sebanyak 98 persen responden mendukung penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. Bahkan, 94,8 persen responden menilai pemerintah perlu mempercepat transisi kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan yang konkret.
Menariknya, tingkat kesadaran masyarakat terhadap kendaraan listrik juga sudah sangat tinggi dengan skor pengenalan mencapai 8,04 dari skala 10.
Di sisi lain, potensi pasar kendaraan listrik masih sangat besar. Sebanyak 81,1 persen responden yang belum memiliki kendaraan listrik menyatakan bersedia beralih apabila kendaraan listrik terbukti mampu memberikan manfaat ekonomi, kesehatan, dan lingkungan yang lebih baik.
Sementara itu, 96,8 persen pengguna kendaraan listrik mengaku bersedia merekomendasikan kendaraan listrik kepada orang lain karena merasakan langsung biaya operasional yang jauh lebih murah dibanding kendaraan konvensional.
Data Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) yang dipaparkan dalam AISMOLI Annual Meeting 2026 menunjukkan biaya operasional motor listrik dapat lebih hemat antara 74 hingga 83 persen dibandingkan motor berbahan bakar bensin.
Meski minat masyarakat tinggi, AISMOLI menilai faktor utama yang menentukan percepatan adopsi kendaraan listrik adalah kepastian kebijakan pemerintah.
Survei Litbang Kompas menemukan mayoritas calon konsumen menempatkan manfaat ekonomi dan keberlanjutan insentif sebagai faktor penentu keputusan pembelian.
Karena itu, industri berharap pemerintah tidak hanya menghadirkan insentif jangka pendek, tetapi juga membangun ekosistem regulasi yang konsisten dan dapat diprediksi dalam jangka panjang.
Sekretaris Jenderal AISMOLI Hanggoro Ananta Khrisna menegaskan bahwa industri telah siap mendukung percepatan transisi energi nasional. Ketersediaan produk, jaringan distribusi, hingga kesiapan rantai pasok disebut telah dipersiapkan.
"Industri dan konsumen telah menunjukkan kesiapan yang sama. Kini saatnya pemerintah mengambil peran kepemimpinan untuk membangun ekosistem kebijakan yang memberi kepastian jangka panjang. Kebijakan yang konsisten akan mendorong investasi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan daya beli masyarakat melalui penghematan biaya transportasi," ujarnya.
AISMOLI menilai keberhasilan transisi kendaraan listrik tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Pemerintah, industri, dan konsumen harus bergerak dalam satu arah yang sama.
Dari sisi konsumen, kesiapan sudah terlihat dengan tingginya minat masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik. Dari sisi industri, tingkat kepuasan pengguna yang mencapai hampir 97 persen menjadi modal kuat untuk memperluas pasar.
Sementara dari sisi pemerintah, masyarakat menginginkan regulasi yang lebih tegas terhadap pengendalian emisi kendaraan. Sebanyak 97,4 persen responden menilai aturan emisi saat ini masih lemah dan perlu diperketat.
Jika ketiga pilar tersebut mampu berjalan beriringan, Indonesia berpeluang membangun industri kendaraan listrik yang kompetitif, memperkuat rantai pasok domestik, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM secara permanen.
Di tengah lonjakan harga BBM dan tekanan fiskal yang semakin besar, kendaraan listrik kini bukan lagi sekadar pilihan teknologi masa depan. Bagi Indonesia, transisi energi di sektor transportasi telah menjadi kebutuhan ekonomi yang semakin mendesak.