- IHSG dibuka melemah namun menguat ke level 6.181 pada perdagangan Jumat, 19 Juni 2026 di Bursa Efek Indonesia.
- MSCI resmi mempertahankan status Indonesia dalam kelompok Emerging Market berdasarkan tinjauan Global Market Accessibility Review tahun 2026.
- Keputusan MSCI tersebut mencegah penurunan status Indonesia menjadi Frontier Market yang berisiko memicu keluarnya dana asing domestik.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di dua arah pada awal perdagangan, Jumat, 19 Juni 2026, setelah pengumuman MSCI.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) IHSG dibuka ke level 6.161. Namun, pelemahan itu hanya sementara, karena indeks langsung menguat 0,15 persen ke level 6.181 pada pukul 09.06 WIB.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 2,71 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,82 triliun, serta frekuensi sebanyak 163.200 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 345 saham bergerak naik, sedangkan 158 saham mengalami penurunan, dan 456 saham tidak mengalami pergerakan.
![IHSG merosot tajam pada perdagangan sesi I hari ini. [ANTARA].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/12/79563-ihsg.jpg)
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, ZONE, BCIC, CTTH, SDMU, dan GSMF.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, KOPI, SMKL, SRAK, KONI, dan BNLI.
Pengumuman MSCI
Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market berdasarkan hasil tinjauan Global Market Accessibility Review 2026 yang dirilis Jumat (19/6/2026) dini hari WIB.
Keputusan tersebut membuat Indonesia terhindar dari risiko turun kelas menjadi Frontier Market, yang sebelumnya sempat menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar saham domestik.
Dalam laporan resminya, MSCI menilai Indonesia masih memiliki sejumlah keunggulan dari sisi aksesibilitas dan keterbukaan pasar bagi investor global. Pada aspek keterbukaan terhadap kepemilikan asing (openness to foreign ownership), Indonesia memperoleh penilaian tertinggi atau "++" untuk persyaratan kualifikasi investor, batas kepemilikan asing (foreign ownership limit/FOL), serta ketersediaan foreign room.
Meski demikian, MSCI mencatat masih ada pekerjaan rumah yang perlu dibenahi. Salah satunya terkait kesetaraan hak investor asing (equal rights to foreign investors) yang hanya memperoleh nilai "+".
Dari sisi kemudahan arus modal, Indonesia juga mendapat apresiasi. MSCI memberikan nilai "++" untuk indikator pembatasan arus modal (capital flow restriction level), menandakan aliran dana masuk dan keluar relatif terbuka.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.