- Investor asing melakukan aksi jual bersih saham PT Bumi Resources Tbk senilai Rp553,3 miliar selama periode 15-19 Juni 2026.
- Meski ditekan aksi jual asing, saham BUMI mencatatkan kenaikan performa sebesar 7 persen dalam perhitungan perdagangan selama satu pekan.
- Samuel Sekuritas merekomendasikan beli saham BUMI dengan target harga Rp300 karena dukungan fundamental pendapatan dalam mata uang dolar AS.
Suara.com - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi salah satu fokus utama dari aksi pelepasan portofolio oleh pemodal internasional sepanjang periode perdagangan pertengahan Juni, tepatnya pada 15-19 Juni 2026.
Kendati menghadapi tekanan jual yang masif, pergerakan saham emiten batu bara ini memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar modal mengenai bagaimana proyeksi dan arah tren harganya ke depan.
Berdasarkan data pasar reguler di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihimpun melalui Stockbit Sekuritas pada Minggu (21/6/2026), investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) pada saham BUMI dengan nilai akumulasi mencapai Rp553,3 miliar hanya dalam kurun waktu sepekan.
Nilai pelepasan tersebut menempatkan BUMI di posisi ketiga sebagai saham dengan volume net sell asing terbesar di bursa efek. Posisi pertama ditempati oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan nilai divestasi asing sebesar Rp838,6 miliar, disusul oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang mencatatkan penjualan bersih asing senilai Rp630,2 miliar.
Pada sesi penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (19/6/2026), saham BUMI bertengger di level Rp168 per lembar, atau mengalami koreksi harian sebesar 1,75 persen.
Namun, jika ditarik dalam kalkulasi mingguan, performa saham milik Grup Bakrie dan Salim ini justru memperlihatkan daya tahan yang impresif dengan lonjakan performa hingga 7 persen. Penguatan ini terjadi di tengah aksi jual beruntun yang dilakukan oleh pemodal asing.
Secara makro, aksi keluar modal internasional memang tengah melanda pasar modal dalam negeri. Investor global membukukan total net sell senilai Rp904 miliar di seluruh papan perdagangan BEI selama sepekan terakhir.
Tren ini memperpanjang rekam jejak keluar dana asing dari pekan sebelumnya yang sempat menyentuh angka fantastis sebesar Rp5,98 triliun.
Di tengah tingginya fluktuasi pasar saat ini, para analis menilai peralihan investasi ke saham-saham yang mencatatkan struktur pendapatan dalam mata uang dolar AS—khususnya pada industri pertambangan logam dan batu bara—merupakan langkah taktis yang menjanjikan di samping mengoleksi saham sektor perbankan berkapitalisasi besar yang harganya sudah relatif murah.
Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi, bersama tim risetnya memetakan beberapa emiten unggulan berbasis komoditas dolar AS yang layak menjadi prioritas utama bagi para pemodal.
“Untuk saham emiten logam dan batu bara berbasis pendapatan dolar AS, pilihan utama kami adalah Antam (ANTM), Amman Mineral Internasional (AMMN), Bumi Resources (BUMI), dan Timah (TINS),” ulas Prasetya dalam laporan riset berkala perusahaan.
Analis menilai sektor komoditas saat ini telah berada di dekat titik terendah (bottoming), didorong oleh arah kebijakan regulasi sektor pertambangan domestik yang dinilai kian kondusif bagi iklim usaha. Beberapa faktor penguatnya antara lain adalah kepastian tidak adanya kenaikan tarif royalti, optimalisasi penerapan skema gross split, serta jaminan status pemasok tunggal.
Selain itu, tekanan risiko regulasi yang sebelumnya membebani kinerja saham komoditas kini mulai berkurang secara signifikan. Sentimen positif ini diperkuat oleh langkah pemerintah yang merealisasikan penambahan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan memasuki paruh kedua atau semester II-2026.
Rekomendasi Teknis dan Target Harga Saham BUMI
Sebagai salah satu produsen emas hitam terbesar, BUMI diuntungkan karena memiliki tingkat eksposur yang sangat tinggi terhadap pergerakan Harga Jual Rata-Rata (Average Selling Price/ASP) batu bara dunia yang ditransaksikan menggunakan denominasi mata uang dolar AS. Keunggulan fundamental ini menjadi benteng yang kuat dalam menjaga stabilitas pendapatan perseroan.
Meski demikian, para pelaku pasar diimbau untuk terus memantau dinamika proses transisi struktural menuju skema Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), di mana batas akhir penyelesaian program tersebut ditetapkan pada 31 Desember 2026.
Melihat kalkulasi nilai fundamental dan potensi bisnis ke depan, Samuel Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi BUY (Beli) untuk saham BUMI.
Target harga saham BUMI dipatok pada level Rp300 per lembar saham. Target optimis tersebut mencerminkan adanya potensi ruang penguatan atau peluang upside harga hingga 78,5 persen dari posisi harga saat ini.
Disclaimer: Ulasan mengenai analisis fundamental, pergerakan teknikal, serta target harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dalam artikel ini bersifat referensi informasi dan bagian dari literasi finansial publik. Artikel ini tidak memuat instruksi, ajakan, ataupun paksaan hukum untuk melakukan transaksi jual-beli aset efek di pasar modal. Setiap aktivitas investasi pada instrumen saham maupun kripto sepenuhnya mengandung risiko kerugian finansial yang menjadi tanggung jawab mandiri dari masing-masing investor.