Petani Khawatir Aturan TAR dan Nikotin Bikin Industri Kurangi Serapan Tembakau

Achmad Fauzi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:33 WIB
Petani Khawatir Aturan TAR dan Nikotin Bikin Industri Kurangi Serapan Tembakau
Ilustrasi Petani tembakau. [ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko]
baca 10 detik
  • Asosiasi Petani Tembakau Indonesia menolak aturan turunan PP Nomor 28 Tahun 2024 terkait pembatasan tar, nikotin, dan kemasan rokok.
  • Kebijakan tersebut dikhawatirkan menurunkan serapan hasil panen industri serta mengancam kesejahteraan ekonomi jutaan petani dan pekerja sektor tembakau.
  • Petani mendesak pemerintah membuka ruang dialog untuk mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi sebelum menetapkan regulasi tersebut secara permanen.

Suara.com - Petani tembakau kembali menyuarakan penolakan terhadap rencana pembatasan kadar tar dan nikotin serta kebijakan penyeragaman kemasan rokok dalam aturan turunan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan.

Mereka khawatir kebijakan tersebut akan menurunkan serapan hasil panen tembakau oleh industri hasil tembakau (IHT).

Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Agus Parmuji, mengatakan berbagai upaya telah ditempuh petani untuk menyampaikan aspirasi, mulai dari audiensi dengan kementerian hingga dialog dengan berbagai pemangku kepentingan.

"Kami harap pemerintah membatalkan turunan PP 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan karena akan berdampak buruk terhadap sektor pertembakauan dan ikutannya," ujarnys seperti dikutip, Kamis (25/6/2026).

Petani tembakau Kabupaten Temanggung. [ANTARA/Heru Suyitno]
Petani tembakau Kabupaten Temanggung. [ANTARA/Heru Suyitno]

Menurut Agus, rencana pembatasan kadar tar dan nikotin berpotensi mengabaikan karakteristik tembakau lokal Indonesia, khususnya tembakau Temanggung yang secara alami memiliki kadar tar dan nikotin relatif tinggi.

APTI menilai pembatasan tersebut dapat memukul rantai ekonomi pertembakauan dari hulu hingga hilir. Dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga buruh tani, pelaku usaha pengolahan, hingga industri hasil tembakau sebagai penyerap utama hasil panen.

Agus menegaskan, kekhawatiran terbesar petani adalah berkurangnya penyerapan tembakau oleh industri apabila aturan tersebut diberlakukan.

"Hasil tembakau tentunya akan berdampak sosial terhadap kalangan petani dan pekerja. Saat diberlakukan penyeragaman bungkus rokok, sama artinya akan mematikan hak kreativitas berproduksi dan juga akan memudahkan rokok ilegal merajalela. Pastinya juga kian melambatkan penyerapan hasil panen," katanya.

Menurutnya, bagi petani di Temanggung maupun daerah sentra tembakau lainnya, tembakau masih menjadi sumber penghidupan utama, terutama saat musim kemarau ketika pilihan komoditas lain sangat terbatas. Karena itu, setiap kebijakan yang berpotensi menekan permintaan terhadap tembakau dinilai akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani.

baca juga

Agus berharap pemerintah membuka ruang dialog yang lebih luas sebelum menetapkan aturan turunan PP Nomor 28 Tahun 2024. Menurutnya, regulasi yang menyangkut jutaan masyarakat di sektor pertembakauan semestinya disusun dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, ekonomi, sosial, serta keberlanjutan mata pencaharian petani.

"Jika aspirasi masyarakat, khususnya petani belum juga mendapatkan respons, mungkin doa dapat menjadi jembatan kami dengan Tuhan, sehingga mampu menyadarkan pemerintah dalam menyusun regulasi pertembakauan," ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Temanggung Agus Setyawan juga menyampaikan kekhawatiran serupa kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Menurutnya, pembatasan kadar tar dan nikotin serta rencana penerapan kemasan rokok polos berpotensi memengaruhi keberlangsungan ekonomi pertembakauan di daerah.

"Kalau ini terus berlanjut, para petani akan dihadapkan pada ancaman masalah serapan produk tembakau oleh industri. Karena produk tembakau lokal di sejumlah wilayah sentra Jawa Tengah memiliki kadar nikotin maupun tar yang lebih tinggi dari batas maksimum sesuai yang tertuang dalam PP. Sehingga, kami mohon arahannya Pak Gubernur," jelasnya.

Ia menambahkan, tembakau hingga kini masih menjadi komoditas paling ekonomis bagi petani di wilayah pegunungan saat musim kemarau, ketika ketersediaan air untuk komoditas lain sangat terbatas.

"Terlebih, selama ini tembakau menjadi komoditas panenan yang paling ekonomis saat para petani kesulitas memperoleh pasokan air di lahan mereka tatkala musim kemarau tiba," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Petani Jember Dapat Senjata Baru Lawan Penyakit Padi, Produksi Diklaim Meningkat

Petani Jember Dapat Senjata Baru Lawan Penyakit Padi, Produksi Diklaim Meningkat

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 07:39 WIB

Perum Bulog Hadir di Penas Petani Nelayan 2026 Gorontalo untuk Wujudkan Swasembada Pangan

Perum Bulog Hadir di Penas Petani Nelayan 2026 Gorontalo untuk Wujudkan Swasembada Pangan

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 12:16 WIB

Perkuat PT GMM, Bulog Fokus Jaga Kepercayaan dan Kemitraan dengan Petani Tebu Blora

Perkuat PT GMM, Bulog Fokus Jaga Kepercayaan dan Kemitraan dengan Petani Tebu Blora

Bisnis | Senin, 01 Juni 2026 | 21:56 WIB

Terkini

Ubek-ubek Kantor BPN Mojokerto, KPK Amankan Gepokan Amplop Berisi Uang Pemohon Tanah

Ubek-ubek Kantor BPN Mojokerto, KPK Amankan Gepokan Amplop Berisi Uang Pemohon Tanah

Jatim | Kamis, 24 September 2026 | 16:46 WIB

Jelang Timnas Indonesia vs Singapura Besok, Gavin Lee Tak Ciut Hadapi Tekanan Suporter Garuda

Jelang Timnas Indonesia vs Singapura Besok, Gavin Lee Tak Ciut Hadapi Tekanan Suporter Garuda

Bola | Kamis, 24 September 2026 | 16:45 WIB

Menkeu, Gubernur BI hingga Danantara Kumpul di DPR, Dasco: Satukan Arah Kebijakan

Menkeu, Gubernur BI hingga Danantara Kumpul di DPR, Dasco: Satukan Arah Kebijakan

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 16:42 WIB

Jaksa Tuntut Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto 5,5 Tahun Penjara dalam Kasus Suap Nikel

Jaksa Tuntut Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto 5,5 Tahun Penjara dalam Kasus Suap Nikel

News | Kamis, 24 September 2026 | 16:42 WIB

3 Buku Parenting Rekomendasi Nikita Willy, Sukses Didik Anak Tumbuh Optimal

3 Buku Parenting Rekomendasi Nikita Willy, Sukses Didik Anak Tumbuh Optimal

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 16:40 WIB

Pelatih Bangladesh Blak-blakan Jelang Lawan Timnas Indonesia: Suporter Jangan Banyak Berharap

Pelatih Bangladesh Blak-blakan Jelang Lawan Timnas Indonesia: Suporter Jangan Banyak Berharap

Bola | Kamis, 24 September 2026 | 16:38 WIB

Pertamini dan Pengecer BBM di Kendari Dibongkar Petugas

Pertamini dan Pengecer BBM di Kendari Dibongkar Petugas

Sulsel | Kamis, 24 September 2026 | 16:37 WIB

Soal Gugatan Ijazah Gibran di MK, Ganjar: Kita Tunggu Saja Prosesnya

Soal Gugatan Ijazah Gibran di MK, Ganjar: Kita Tunggu Saja Prosesnya

News | Kamis, 24 September 2026 | 16:35 WIB

Menengok Gemasnya Kamar Hotel Bertema Aminasi 'JUMBO', Seru untuk Liburan Keluarga

Menengok Gemasnya Kamar Hotel Bertema Aminasi 'JUMBO', Seru untuk Liburan Keluarga

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 16:34 WIB

Cerita Ngeri Kapten Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Diberondong 4 Peluru Koma 3 Hari

Cerita Ngeri Kapten Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Diberondong 4 Peluru Koma 3 Hari

Bola | Kamis, 24 September 2026 | 16:33 WIB

×