- Jahja Setiaatmadja pilih emas digital karena lebih fleksibel dan likuid.
- Diversifikasi aset dinilai penting untuk memitigasi risiko investasi.
- Bos BCA dorong investasi modern, bukan menumpuk aset dalam satu tempat.
Suara.com - Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, membagikan pandangannya mengenai strategi investasi yang relevan di era digital. Menurutnya, emas digital kini menjadi pilihan yang lebih praktis dan fleksibel dibandingkan menyimpan emas batangan dalam jumlah besar.
Pandangan tersebut disampaikan Jahja dalam acara Risk and Governance Summit yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta. Dalam perbincangan bersama jurnalis senior Andy F. Noya, ia menekankan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat berinvestasi, termasuk pada instrumen emas.
Jahja mengungkapkan dirinya lebih banyak menempatkan investasi emas melalui layanan emas digital dibandingkan emas fisik. Salah satu platform yang digunakannya adalah layanan Tring milik Pegadaian.
"Kalau batang emas itu sudah old fashion. Sekarang ini adalah virtual gold. Salah satu yang saya pakai itu Tring punya Pegadaian," ujar Jahja, dikutip dari kanal YouTube OJK.
Menurutnya, keunggulan utama emas digital terletak pada kemudahan transaksi. Investor dapat membeli maupun menjual aset kapan saja tanpa harus menghadapi persoalan penyimpanan maupun keamanan seperti pada emas batangan.
"Yang jumlah besar saya biasanya virtual, karena kalau virtual anytime bisa dijual dan beli," katanya.
Meski demikian, Jahja mengaku tetap memiliki sebagian kecil emas batangan sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio investasinya.
Dalam kesempatan tersebut, pembahasan sempat menyinggung soal temuan emas batangan seberat 74 kilogram yang menjadi sorotan publik. Menanggapi candaan Andy F. Noya mengenai penyimpanan emas dalam jumlah besar, Jahja menjawab dengan nada ringan.
"Enggak salah sih, kurang pintar aja Pak," ujarnya sambil tersenyum.
Di balik candaan tersebut, Jahja justru menekankan prinsip dasar pengelolaan kekayaan, yakni tidak menempatkan seluruh aset pada satu bentuk investasi atau satu lokasi penyimpanan.
Ia mengungkapkan tidak menyimpan aset dalam brankas besar di rumah. Sebaliknya, asetnya tersebar di berbagai instrumen investasi dan lembaga keuangan sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko.
"Sebagai orang investasi itu harus macam-macam, bisa di sekuritas, reksa dana, atau asuransi. Jadi kita harus pecah di suatu bank. Risiko itu harus kita pilah-pilah dan disebar," jelasnya.
Investasi Harus Diimbangi Manajemen Risiko
Jahja juga mengingatkan bahwa tidak ada instrumen investasi yang sepenuhnya bebas risiko. Karena itu, investor perlu memahami karakteristik setiap aset dan menerapkan manajemen risiko yang baik.
Menurutnya, tujuan investasi bukan menghindari risiko, melainkan mengelola risiko agar tetap berada dalam batas yang dapat dikendalikan.
"Hidup ini menghadapi risiko, tetapi yang terukur dan dimitigasi. Mengelakkan risiko itu tidak ada, itu bukan bisnis. Menghadapi risiko, tetapi harus memitigasi," tutup Jahja.
Pandangan Jahja sejalan dengan tren digitalisasi sektor keuangan yang semakin berkembang di Indonesia. Kehadiran layanan emas digital memberikan alternatif bagi masyarakat untuk berinvestasi dengan modal yang lebih terjangkau, transaksi yang fleksibel, serta penyimpanan yang lebih efisien, sekaligus mendorong penerapan prinsip diversifikasi sebagai fondasi pengelolaan aset jangka panjang.