- Presiden Komisaris BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan orang yang menimbun emas 74kg dalam bentuk fisik - seperti yang ditemukan di rumah eks Jampidsus Febrie Adriansyah - kurang pintar.
- Jahja menyatakan investasi emas digital lebih efisien dibandingkan emas batangan karena memberikan kemudahan transaksi jual beli kapan saja.
- Sebagai strategi mitigasi risiko, Jahja lebih memilih mendiversifikasi aset ke berbagai instrumen keuangan daripada menyimpan kekayaan dalam bentuk fisik.
Suara.com - Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja ikut menyindir penemuan emas batangan 74kg di rumah eks Jampidsus Febrie Adriansyah. Ia mengatakan orang yang menimbun emas sebanyak itu dalam bentuk fisik kurang pintar.
Sindiran itu disampaikan saat Jahja diajak bercanda oleh jurnalis senior Andy F Noya yang menjadi pembawa acara di bertajuk Risk and Governance Summit yang digelar Otoritas Jasa Keuangan atau OJK di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Awalnya Jahja dan Andy berbicara soal kekayaan dan investasi. Dalam kesempatan itu Jahja bercerita bahwa ia lebih suka berinvestasi dalam bentuk emas digital dibandingkan emas batangan. Menurutnya, investasi emas digital menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi karena dapat diperjualbelikan kapan saja sesuai kebutuhan.
Jahja bahkan mengakui dirinya menggunakan layanan emas digital milik Pegadaian, yakni Tring, sebagai salah satu instrumen investasi. Meski demikian, ia mengakui tetap memiliki sedikit emas batangan sebagai bagian dari portofolionya.
"Kalau batang emas itu sudah old fashion. Sekarang ini adalah virtual gold. Salah satu yang saya pakai itu Tring punya Pegadaian," ujar Jahja dikutip dari Youtube OJK, Rabu (15/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa porsi investasi emas batangan yang dimilikinya relatif kecil. Menurutnya, emas digital lebih praktis karena memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi jual beli.
"Yang jumlah besar saya biasanya virtual, karena kalau virtual anytime bisa dijual dan beli," katanya.
Setelah itu Andy meyinggung soal penemuan timbunan emas 74kg yang viral di rumah eks Jampidsus Febrie.
"Jadi jadi yang nyimpan sampai 74 kilo itu salah ya?" tanya Andy.
"Enggak salah sih, kurang pintar aja Pak," jawab Jahja sembari tersenyum.
Adapun mengenai kekayaannya, Jahja menyebut aset yang telah dipublikasikan adalah kepemilikan saham BCA sekitar 38 juta lembar. Sementara aset lainnya, menurut dia, telah dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT).
Ia juga menegaskan tidak menyimpan aset dalam brankas besar di rumah. Sebagai investor, Jahja memilih menyebarkan asetnya ke berbagai instrumen investasi dan lembaga keuangan sebagai bentuk mitigasi risiko.
"Sebagai orang investasi itu harus macam-macam, bisa di sekuritas, reksa dana, atau asuransi. Jadi kita harus pecah di suatu bank. Risiko itu harus kita pilah-pilah dan disebar," jelas Jahja.
Ia menekankan bahwa setiap investasi memiliki risiko sehingga yang terpenting adalah mengelola dan memitigasinya dengan baik, bukan menghindarinya.
"Hidup ini menghadapi risiko, tetapi yang terukur dan dimitigasi. Mengelakkan risiko itu tidak ada, itu bukan bisnis. Menghadapi risiko, tetapi harus memitigasi," tutup Jahja.